Rahasia Salinem: Dari Politik Pusat-Pinggiran, Jejak Trauma, hingga Perlawanan pada Kematian (Part II)

Supaya tuntas silakan baca dahulu:
Rahasia Salinem: Dari Politik Pusat-Pinggiran, Jejak Trauma, hingga Perlawanan pada Kematian (Part I)

Rahasia Salinem sebagai Jejak Trauma bagi Post-Generation

Sebenarnya, dengan mengetahui dan memahami bahwa ada parodi yang posmodernis, tegangan antara narasi pusat dengan pinggiran, upaya kontekstualisasi dengan kritis, serta komunikasi utuh antara pengarang dan pembaca dalam novel RS yang ditulis Wisnu dan Brilliant, kita sekaligus dapat memosisikan teks ini sebagai sebagai “trace” atau “jejak” dalam konsepsi pemikiran posmemori (post-memory) yang digagas oleh Marianne Hirsch dalam bukunya, The Generation of Postmemory (2012). Mengapa ia bisa dijadikan trace?

Pertama, karena narasi teks ini berangkat dari rangkaian peristiwa-peristiwa besar, yang menyesakkan dan menggetarkan, menimbulkan trauma serius bagi peradaban manusia sebagaimana dicontohkan Hirsch melalui Holocaust atau keterusiran-keterusiran lain di Eropa—dan untuk novel RS, konteksnya khusus di Indonesia. Sekali lagi, penting kita cermati rangkaian peristiwa-peristiwa itu di dalam RS, seperti kolonialisme di Hindia Belanda, perang Belanda vs Jepang, Indonesia vs Jepang, Jepang vs Amerika di Asia Pasifik, peristiwa Revolusi Sosial Anti-Swapradja, Indonesia berhadapan kembali dengan Sekutu yang didukung oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA), sistem politik dan polemik Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-1950, konflik berdarah tahun ‘65, krisis ekonomi tahun ’98, dan peristiwa Reformasi setelahnya. Jejak-jejak itu dihadirkan untuk kita sebagai generasi setelahnya (post-generation), yang notabene bukan penyintas, untuk melanjutkan ketakutan dan trauma yang dialami oleh generasi pendahulu kita. Dengan trace atau jejak itu, ketakutan dan trauma potensial sekali berlarut, bahkan mungkin kekal diwariskan pada generasi mendatang.

Kedua, Hirsch memperkenalkan dua tipe transmisi bagi trauma terhadap posgenerasi itu, yakni transmisi familial (keluarga, lingkungan terdekat) dan transmisi afilial (masyarakat, lingkungan sosial). Novel RS tentu bisa kita posisikan sebagai trace—tentang peristiwa-peristiwa tragis dan traumatik di Indonesia tadi—bagi proses transmisi afilial kepada kita, sebab ia adalah teks yang kita sentuh tatkala memasuki lingkungan luas, dan bukan dari tutur temurun orang tua atau lingkungan terdekat kita. RS sebagai trace telah memperkuat memori kita tentang tragedi-tragedi tadi, dan dengan demikian ingatan—yang sebenarnya bukan ingatan itu—makin mengakar dan terus tumbuh di benak kita. Artinya, sekali lagi, jelas bahwa novel RS bisa kita posisikan sebagai jejak ingatan, jejak trauma, terutama tentang londho, Jepang, Partai Komunis Indonesia, revolusi sosial di Surakarta, Krisis Moneter 1998, dan lain sebagainya.

Ikatan Sosio-Emosi dan Perlawanan pada Kematian

Selain sebagai trace atau jejak yang potensial mengekalkan trauma, sebenarnya ada hal-hal yang bisa kita petik dari spirit Salinem dalam menghadapi realitas perih bertubi-tubi: ialah ketahanannya di hadapan potensi mati. Bagaimana itu terjadi?

Kita harus mengambil titik tolak dari masa tatkala Salinem mulai menunjukkan kesadaran sebagai manusia, serta posisinya dalam struktur masyarakat dan institusi sosial yang ia tempati. Itu kita temukan pada babak-babak ketika ia telah tinggal dan tumbuh di Sukoharjo bersama Soeratmi dan Soekatmo, lalu berjumpa Kartinah. Ia sadar pada posisinya yang tidak setara secara strata sosial dengan Soekatmo, Soeratmi, atau Kartinah, karena perannya hanya sebagai ndalem atau cengik. Kematangannya dibentuk oleh ikatan sosial dan emosional yang kuat antara dirinya dengan keluarga tempatnya mengabdi. Ia hidup di tengah-tengah keluarga ningrat terpelajar, yang memiliki watak beradab, memperlakukan ia sebagai manusia seutuhnya—kendati mereka tetap menyingkir dari gemerlap bangunan keraton, nama yang lekat pada keluarga Soekatmo tetap menjadi modal sosial yang penting, dan itu terbukti ketika mereka tetap aman selama masa Hindia Belanda, Jepang, Revolusi Sosial Swapradja, yang bertahan hingga kematian Soekatmo.

Mengapa sesungguhnya Salinem tidak menyerah di hadapan deraan realitas hidup personal dan sosialnya? Bagi saya, kekuatannya dibentuk oleh habitus, perilaku berulang-ulang dalam rentang panjang. Habitusnya dibentuk oleh identitas sebagai cengik, abdi dalem. Artinya, kekuatannya dipupuk oleh ikatan sosial di dalam institusi sosial yang ia tempati, yakni keluarga Soekatmo yang memilih menepi dari gemerlap kemewahan.

Jika kita melihat kematian selalu sebagai akhir atau puncak dari tiap kekalahan, sebagaimana kian rawan mengancam sosok Salinem, maka lensa pemikiran Emile Durkheim tentang bunuh diri (suicide) bisa kita kutip di sini, khususnya soal klasifikasi bunuh diri yang ia terangkan. Dalam karya Durkheim yang populer, Suicide: A Study in Sociology (1952), ia menjelaskan kaitan antara tingkat integrasi sosial dan kecenderungan individu untuk melakukan bunuh diri. Ia secara tegas menepis pandangan lama yang menyebutkan bahwa tindakan bunuh diri dipicu oleh penyakit kejiwaan, proses peniruan, kondisi cuaca, kecanduan alkohol, kemiskinan, ataupun bawaan ras tertentu. Sebaliknya, tindakan tersebut dilatarbelakangi sepenuhnya oleh faktor sosial yang memengaruhi individu saat berinteraksi di tengah komunitasnya, khususnya menyangkut kurangnya atau berlebihannya bentuk integrasi sosial yang ada.

Berdasarkan pandangan itulah, Durkheim kemudian mengklasifikasikan tindakan bunuh diri ke dalam empat tipe. Tipe pertama, adalah bunuh diri egoistik yang berakar dari sangat lemahnya integrasi sosial dan tingginya sikap individualistis, di mana seseorang merasa kepentingan pribadinya jauh melebihi kesatuan sosial. Kondisi ini membuat individu merasa terasing, minim komunikasi dengan keluarga, menolak pengaruh luar, serta enggan melibatkan masyarakat maupun teman sebaya dalam aktivitas kesehariannya. Tipe kedua, yaitu bunuh diri altruistik yang justru muncul dari ikatan antarindividu yang terlampau kuat di dalam lingkungannya. Tipe ketiga, adalah bunuh diri anomik yang menyoroti kondisi krisis moral saat seseorang kehilangan arah, cita-cita, dan norma hidup. Terakhir, bunuh diri fatalistik timbul akibat tekanan nilai serta norma masyarakat yang mengikat individu secara berlebihan.

Berdasarkan pembacaan, sejatinya Salinem paling potensial mengarah pada bunuh diri anomik. Ia terhindar dari bunuh diri egoistik karena ia sadar posisi sebagai ndalem, cengik, yang tiap kepentingan individualnya tidak boleh berada di atas kepentingan para ningrat tempatnya mengabdi—dan ini juga yang sekaligus memberikannya lingkaran batas rasa altruisme/kepahlawanan bagi bangsa, karena baginya, mengabdi bagi bangsa adalah dengan mengabdi pada para penggedenya, meskipun itu sebenarnya ilusif. Ia juga terhindar dari bunuh diri fatalistik karena habitusnya dibentuk oleh rangkaian aturan-aturan yang teramat ketat di lingkungan keraton/kerajaan sedari dini.

Ia paling potensial jatuh pada bunuh diri anomik—tindakan apatis, karena kehilangan arah, atau dalam psikologi: dilihat sebagai ketidakseimbangan psikis yang melahirkan perilaku menyimpang dalam berbagai manifestasi—ketika mendapati kabar Giyo, lelaki yang telah mengajaknya menikah, mati tertembak di medan perang. Salinem kehilangan cita-cita, tujuan, dan mengaburkan norma dalam hidupnya, dan itu bangkit kembali ketika datang berita kematian Parjo. Ini ditandai dengan perilakunya menangis dan mengurung diri, bertatapan kosong, selama berhari-hari di dalam kamar. Akan tetapi, ikatan sosial dan emosional yang kuat dengan Kartinah dan keluarga Soekatmo, mengatasi tragedi tersebut. Ia belajar dari tragedi pertama, sehingga tidak sedemikian terguncang tatkala terjadi tragedi kedua, berita kematian Parjo. Inilah yang saya maksud sebagai, “bukan Salinem yang kuat, melainkan ikatan sosio-emosinya”.

***

Pembacaan atas Rahasia Salinem itu, pada akhirnya bermuara pada kesimpulan saya, bahwa novel ini mengandalkan kekuatan teknik suspense guna membongkar kemapanan sejarah dominan kita. Melalui lensa posmodernisme Hutcheon, teks karya Wisnu Suryaning Adji ini menantang narasi besar yang kerap berpusat pada tokoh militer dan penguasa, untuk kemudian menempatkan subjek pinggiran dan perempuan yang tersubordinasi sebagai agen penting dalam lintasan zaman. Lebih jauh, bentangan latar peristiwa kolonial dari era Hindia Belanda hingga masa Reformasi membawa fiksi ini sebagai jejak trauma bagi posgenerasi yang mentransmisikan ingatan tragis bangsa secara afilial.

Pada ranah pergolakan batin tokoh sentralnya, daya hidup Salinem dalam menghadapi deraan kehilangan berakar pada integrasi sosio-emosionalnya. Habitus abdi dalem yang berkelindan dengan ikatan sosial erat di lingkungan keluarga Soekatmo, ialah yang berhasil menyelamatkannya dari ancaman bunuh diri anomik. Seluruh kelindan wacana politik pusat-pinggiran, pewarisan memori traumatik, dan ketahanan psikologis subjek marginal tersebut saling berpadu menyajikan kritik tajam atas realitas sosial-historis kita, tanpa harus terlampau jatuh pada dramatisasi cerita yang cengeng dan menye-menye. Demikianlah setidaknya.

Purwokerto, Juni-Juli 2026

Daftar Bacaan:
– Hirsch, Marianne. 2012. The Generation of Postmemory: Writing and Visual Culture After Holocaust. New York: Columbia University Press.
– Durkheim, Emile. 1952. Suicide: A Study in Sociology. London & New York: Routledge, hlm. 97-106.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top