Teater Gethek Swaraning Banyumas 2026: Menertawakan Negara, Menangisi Sepi

Ulasan ini tentang pentas Teater Gethek “Swaraning Banyumas 2026: Berita Lelayu Edhon”. Pentas terselenggara hari Rabu 23 September 2026. Bertempat di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman.

RABU malam, 23 September 2026. Ratusan pasang mata menjadi saksi. Sebuah berita lelayu tersiar di udara dingin. Membelah keheningan ruangan. Sebuah ‘jasad’ tergeletak. Aula FISIP Unsoed berubah menjadi alam barzakh. Di bawah sorot lampu yang temaram, Edhon terbaring. Ia bukan lagi aktor kawakan malam itu. Ia telah mati. Ia adalah sesosok korban tragedi tenggelamnya bus Teater Gethek di Sungai Serayu. Tak lama setelah rombonganya ngrasani Sungai Serayu yang kini buthek letrek.

 “Serayu membunuh kita semua,” bergema ke seluruh penjuru ruangan.

Kematian massal itu rupanya bukan sebuah garis akhir. Ia justru melahirkan mimbar kebebasan yang absolut. Kebebasan yang tak pernah berani disentuh manusia. Selama satu jam penuh, batas tawa dihancurkan. Edhon mendobrak dogma menakutkan tentang siksa kubur. Ia menyajikan panggung bungah neng kuburan. Berbekal status arwah, ia menemukan celah mutlak. Tidak ada aparat yang bisa memenjarakan hantu. Peluru satire pun ditembakkan. Semuanya habis ditertawakan dari kacamata orang mati.

Eksekusi liar ini sukses memukau penonton awam. Afra Gina Nazifa, mahasiswi Sosiologi Unsoed, yang datang bermodalkan rasa penasaran dan paksaan teman. “Awalnya saya ngga minat, tapi melihat set yang menarik jadi saya kepo. Temen udah beli tiket presalenya dan saya dipaksa sama temen juga jadi beli OTS,” ungkapnya.

Namun, begitu lampu panggung padam ekspektasi Gina terbayarkan.

“Saya tidak menyesal sama sekali mengeluarkan uang dan waktu, karena pertunjukannya beneran keren pol.” akunya jujur.

Lewat tangan dingin Edhon, Teater Gethek sukses membuktikan. Ketika kualitas berbicara, penonton paling awam sekalipun akan tunduk dan rela mengapresiasi karya.

Akting Edhon memang memukau tanpa celah. Namun, sebuah mahakarya tak pernah kebal kritik. Kacamata berbeda datang dari sesama pegiat teater dan gen-z. Deka Aepama, dari Katasapa Purbalingga. Ia menilai naskah ini kebingungan menentukan akar kritiknya. Ia mengibaratkan lakon malam itu seperti gado-gado yang kehilangan sambal kacangnya. Satire tentang Jokowi, Kali Serayu, hingga konsep surga tidak memiliki benang merah empiris yang kuat.

“Beri kami konteks. Anak muda sekarang semakin kritis. Kritik yang minim riset hanya akan membuat kami enggan menonton.” gugat Deka.

Meski menghujani kritik, pementasan ini tetap diakui sebagai sebuah oase. Di saat banyak teater mulai kehilangan warna, Edhon berhasil membuktikan satu hal. Teater Gethek tidak pernah kehilangan identitas dan ‘kegilaan’ khas mereka dalam meracik pertunjukan.

Perwakilan Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) yang malam itu hadir, tak segan melontarkan kritik struktural. Jarot C. Setyoko secara pribadi menilai Edhon gagal menyajikan monolog dalam pakem dramaturgi yang sesungguhnya.

“Mas Edhon lebih berposisi sebagai presenter, bukan monologer yang mengeksplorasi dirinya secara total di atas panggung,” keluhnya.

Jarot membawa ekspektasi tinggi dari rumah. Ia merasa pementasan ini tidak keluar dari apa yang selama ini dilakukan oleh Teater Gethek yaitu musikalisasi puisi. Beliau memaklumi kemungkinan adanya tarik-menarik ego, antara idealisme sang seniman dan tuntutan konsep dari pendukung acara. Sehingga memungkinkan ini menjadi kompromi logis mengapa Edhon memilih jalur presentasi yang lebih aman.

Di balik gemuruh tawa di dalam aula, ada realitas pahit yang diam-diam ditelan oleh tim produksi. Biyel mengakui bahwa tiket OTS seharga tiga puluh ribu rupiah nyaris tak tersentuh. Mayoritas penonton hadir lewat jalur undangan atau tiket diskon. Apresiasi harga seni di Purwokerto memang masih rendah.

“Ini membuktikan argumen kami saat siaran di RRI kemarin, bahwa apresiasi harga kesenian di Purwokerto itu masih sangat rendah” ungkap Biyel.

Namun, ada satu taktik yang dimainkan Biyel untuk memancing antusiasme Gen Z: ia terang-terangan ‘menjual’ para boomer ini. Biyel menegaskan ulang ke publik bahwa Teater Gethek bukan teater kampus. Gethek adalah komunitas para seniman berumur dengan jam terbang tinggi. Strategi ini sukses membangkitkan rasa penasaran penonton muda. Terbukti dari tepuk tangan mereka yang tetap bergemuruh dan tawa nyaring meski dijejali candaan-candaan lampau.

Meski dihujani kritik dari luar, di dapur produksi sendiri, pementasan ini adalah sebuah oase inklusivitas. Berkolaborasi dengan UKM teater lintas kampus di Purwokerto, proyek berdarah ini menjelma jadi ruang kelas terbuka bagi embrio-embrio seniman muda Banyumas. Piton, yang saat ini berproses di Teater Sianak yang ikut turun tangan sebagai kolaborator, melihat proyek ini sebagai laboratorium teater gabungan.

“Ini tempat yang paling tepat untuk bersilaturahmi. Teman-teman yang baru masuk teater jadi melihat hal baru, bahwa produksi bisa dibuat sematang ini” ujar Piton. Kematangan produksi malam itu menjadi silabus ilmu bagi para seniman muda. Ia dan teman-teman Sianak bisa melihat bagaimana Sanggar Samudra dan Tetaer Perisai mempersiapkan properti dan tata cahaya.

UKM Assem dari Amikom Purwokerto turut mengambil peran dalam pementasan ini. Mereka berada di depan untuk menyambut tamu yang datang.

***

Pada akhirnya, panggung pertunjukan kembali meremang sepi. Sebebas apapun di alam barzah. Edhon bertekuk lutut pada nasib. Ia tetaplah seorang duda di alam kubur. Sang istri yang juga telah lama berpulang. Namun, mereka tak kunjung bertemu di dimensi barzah. Batas misterius alam kubur memisahkan mereka dalam keheningan yang absolut.

Sesaat setelah turun panggung, Edhon membisikkan satu rahasia. Kepada bilfest.id, ia mengkonfirmasi bahwa kesedihan itu nyata. Bantingan emosi di akhir cerita bukanlah sebatas fiksi di atas naskah. Kesepian di alam kubur itu adalah kisah nyata. Lewat “Berita Lelayu Edhon”, Edhon membuktikan satu ironi. Sang arwah mungkin sanggup menertawakan hancurnya sebuah negara. Namun sebagai individu, Edhon hancur lebur oleh kerinduan. Lewat monolog malam itu, ia menampar kita dengan satu ironi paling kelam. Kematian, pada akhirnya, tak pernah menjanjikan sebuah reuni.

***

“Ini adalah reportase yang tim jurnalis bilfest.id kerjakan melalui riset dan wawancara langsung kepada narasumber di lapangan. Isi yang dipublikasikan sudah melalui persetujuan narasumber dan penyeleggara “Swaraning Banyumas 2026: Berita Lelayu Edhon”. Tidak diperkenankan melakukan parafrase, pengambilan sebagian atau seluruhnya pada reportase ini. Mari kita jadikan kerja reportase untuk mendukung ekosistem event seni budaya di Banyumas.“

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top