
: Tentang Bara di Tempurung Kepala
Supaya larut membacanya, silakan bisa dibaca:
Surat untuk Gadis Mandailing I
Hei gadisku, dari rimbun rambutmu surat ini kurakit, demi merambati jernih langit Indonesia yang menyengat. Yang menguningkan lahan para petani sepanjang Jalan Daendels, jalan kita nanti menghabiskan sore bersama angin aroma garam. Gadisku, melalui surat ini aku ingin memberi hangat pelukku, sehangat maaf yang akan banyak keluar dari retakan, dari banyak robekan dada.
Dari seberang Laut Jawa kukirim kembali kabar bersama bara yang mungkin akan banyak kaurasakan. Sebab terik dalam kepalaku tak kunjung teduh meski malam begitu dingin, bukan karena langit yang terus-terusan meretakan tanah beberapa bulan terakhir. Namun akhir-akhir ini api terlalu membakar tiap sendi bunda pertiwi, sayang. Ada bara mengunyah akar hutan di Kalimantan, ada pula api yang lebih sulit dipadamkan, yang tak terlihat oleh mata: ia mengobar dari kegelisahan, dari ketidakpercayaan, kekuasaan, dan kekacauan yang kerap dikirim seperti cuaca yang tak pernah mengenali musim.
Gadisku, mataku memotret banyak tiang bambu juga besi-besi ringan bersolek merah putih di sepanjang jalan, merah yang bukan dari bibirmu dan putih bukan dari bening matamu. Dari pagar rumah, sekolah, kendaraan, dan halaman-halaman mimpi yang berlari mengejar kemerdekaan. Iya, mengejar kemerdekaan, kemerdekaan yang kerap kita tanam dalam puisi di mana bahagia tumbuh dari tanah pusaka. Namun dari balik soleknya ada patah dari ranting bunga di atas pusara Reza Sendy Pratama, ada nama-nama yang belum selesai disebut dari balik jeruji. Juga ada banyak bulir aroma tubuh orang-orang yang tahun lalu turun ke jalan, lalu pulang memikul luka, menyeka air mata di malam nan panjang. Malam sehitam lumpur di jalanan sebuah kampung, yang kita indrai dengan kaki telanjang. Malam yang sama hitamnya dengan hati mereka saat merestui pasal baru; malam-malam sebuah negeri yang berkabut asap merica dan berembun air mata. Malam-malam itu bergelayut di ufuk dada tanah air lalu merumbai ke dalam tempurung kepala kita, tempurung kepala ibu, kepala ayah yang menghitam sebab menanti anaknya tak kunjung pulang.
Gadisku, kini Agustus datang dengan cuaca penuh nyala api, api-api itu tidak datang dengan kapal perang dari benua seberang. Ia membentuk rasa takut untuk bertanya. Kadang menjelma trauma yang membuat kita harus menundukkan kepala, menunduk bukan karena kita saling melingkarkan lengan di pinggang, namun karena mendengar bunyi palu dari meja birokrasi. Bahkan api itu kerap hadir dalam ketimpangan yang begitu lama dirawat hingga kewajaran menerimanya; api yang menyala bukan dari unggun rindu kita, sayang. Mungkin karena itulah kisah Tan Malaka, teriakan Soe Hok Gie, dan diksi-diksinya Rendra menolak padam hingga hari ini: mereka masih hangat membara, sehangat kita saat dada kita saling rekat. Bara mereka masih terus menyala melawan penindasan demi penindasan, bara anggun yang melampaui gema karnaval, gemulai bendera, dan gemerlap lampu-lampu pelangi.
Di bulan yang seharusnya paling manis ini sayang, jalanan membara oleh banyak pertanyaan, dari Pati hingga Jakarta, dari hati hingga ribuan luka. Gadisku, kita sama-sama mendengar pertanyaan lantang dari banyak rahang manusia. Rahang mereka meneriakkan pengesahan RUU Perampasan Aset serta hukuman mati bagi koruptor. Teriakan mereka bererupsi menjadi inti dari tegak kepalan tangan di tengah banyak pecahan hantaman, hantaman yang akhirnya merenggut nyawa Bambang Setiawan. Hantaman itu merontokan hati melebihi sorot manja matamu sayangku. Hantaman-hantaman itu mengubah teriakan menjadi cerita tentang kekerasan terhadap rakyat yang dikorbankan. Hantaman yang membekukan, yang lebih dingin serta lebih membunuh melebihi angin malam di Siberia. Hantaman yang dengan bengis merebut headline berita utama.
Sayang, api di negara ini telah merampas nyala purnama yang hangat di sepasang retina kita. Saling silang rajut bersama suara yang mesti kita urai dengan telinga jernih, dan nalar yang runcing. Sebab dalam kondisi semacam ini, akan ada orang-orang yang memperoleh manfaat. Gadisku, tentu kita berdua paham betul, ada garis tegas antara mendapatkan manfaat dari keadaan dan merancang keadaan. Dan kuharap di lembut jemarimu serta tegar lenganku sayang, analisis jangan sampai berubah menjadi prasangka. Sebab kita kerap menemukan prasangka hanya perlu sebiji percikan untuk menjadi kebencian.
Oleh karena itu kita harus tetap kuat merawat pertanyaan-pertanyaan, sekuat sepasang kaki kita menapaki jalan-jalan berkabut di kotamu, jalan-jalan berkelok, menanjak, dan bersimpang. Termasuk simpang yang mungkin kita temui dalam kondisi hari ini, simpang yang tak akan mampu membelah genggam tangan kita. Gadisku, seandainya tidak ada korban, hantaman-hantaman itu mungkin tetap terjadi. Udara tetap pengap oleh gas air mata, jalanan mungkin tetap hujan batu. Aparat dan massa aksi mungkin tetap akan saling tunjuk. Tetapi pertanyaan tetap akan berfokus pada siapa yang mengawali hantaman?.
Aparat dan massa aksi akan berdiri di tengah sorotan. Sayangku, dalam situasi seperti itu, suara aksi masih ada kemungkinan untuk tetap bising di langit Indonesia. RUU Perampasan Aset masih bisa lekat di banyak bibir. Korupsi akan terus menderap di gendang telinga, menderap seperti jantungku saat aroma kuali ibumu merangseki hidungku. Tetapi simpang kedua menawarkan cerita yang berbeda. Tak seperti lingkar bianglala pasar malam, sayang. Terporos, ritmis, dan benderang. Seandainya mereka yang diduga melakukan kerusuhan ditangkap, diproses tanpa kekerasan di jalanan. Hukuman akan jatuh pada yang bersalah, jika tidak, mereka dipulangkan, sederhana sayang. Dari situ kita bisa melihat hukum masih memiliki tulang punggung.
Namun sayang, yang terjadi adalah simpang ketiga. Di mana arahnya paling mengubah cerita. Tentu bukan serupa cerita kita yang saling menjaga agar tak ada luka. Di sini Bambang Setiawan menjadi korban. Lalu pertanyaan publik serupa kelelawar menyambut petang, ribut memenuhi langit-langit kepala, memecah terik langit nusantara, lebih ribut dari antrean kita di wahana rumah hantu malam itu. Headline berita gaduh dengan pertanyaan, siapa yang melakukan kekerasan terhadap warga sipil? bagaimana warga sipil bisa menjadi korban?. Gadisku, ini bukan perubahan kecil, ini perubahan kutub sekaligus medan perang, sayang. Bukan lagi hanya soal siapa yang berhadapan dengan siapa, tetapi siapa yang harus menjelaskan hilangnya nyawa seseorang. Di sinilah sayang, mata Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw melihatnya sebagai Agenda-Setting. Ketika satu wajah diperbesar, satu suara dikecilkan, kematian memenuhi mata dan telinga, sementara tuntutan yang awalnya memenuhi jalanan perlahan kehilangan ruang di kepala.
Sayangku, masih ingat kah kamu tentang Framing Effectnya Robert Entman? Di mana pemilihan sudut pandang membuat bagian tertentu dari peristiwa, terlihat menonjol daripada bagian lainnya. Kini kerusuhan menjadi bingkai, korban menjadi pusat gambar, pelaku kekerasan menjadi pertanyaan. Dan suara aksi perlahan terkubur ke belakang, tenggelam oleh raung sirene. Lalu seluruh suara hanya meneriakan satu kalimat. “Bambang Setiawan, kekerasan, dan kematian”. Kemudian tuduhan memenuhi seluruh rongga-rongga langit.
Gadisku, mungkin inilah bagian paling membakar dari seluruh api di tempurung kepala. Membakar dinding kepala kita yang semestinya hangat oleh sajak-sajak Sapardi. Bukan dibakar oleh tragedi yang menjadi lubang hitam bagi sebuah tuntutan. Tragedi dengan gravitasi yang besar, lalu melahap isu utama ke dalam kegelapan. Begitulah paradoks tragedi bekerja, mengerikan sayang. Lebih mengerikan dari titik-titik api yang membakar perbukitan di pekarangan kotaku. Seharusnya siapa pun tidak merasa menang jika ada nyawa yang melayang. Namun sayangku, alam politik bukanlah alam dalam pelukan kita. Perpindahan posisi bisa tercipta oleh perubahan situasi, yang mendapat keuntungan dari api belum tentu yang menyalakan api. Di situlah rasa kita harus jeli sayang, sejeli mata kita merekam warna-warna bintang di langit kotamu.
Meskipun warna kembang di makam Bambang Setiawan akan kembali memudar, sepudar lampu tua di taman kota, tempat kita mendendang lagu “Seperti Rahim Ibu”. Memudar seperti darah Affan Kurniawan, seperti ratusan nyawa di Kanjuruhan. Sementara suara ribuan orang akan terkubur bersama nama-nama yang hilang sejak 65. Meninggalkan sebuah tanya dalam remang malam: kedinginan dan sendirian. Seperti kursi kayu yang menggigil oleh gerimis, di tepi jalan, di tanah Mandailing.
Menggigil seperti kebenaran yang tersisih di antara lalu-lalang teriakan. Ia mengamati dan memperhatikan negara yang katanya merdeka, namun takut pada cinta yang sebenar-benarnya, sebab kebenaran menuntut keberanian, sayang. Dan yang ditakutkan, nyawa Bambang Setiawan menjadi bahan bakar baru bagi perang narasi, narasi yang mengaburkan kebenaran. Pusaranya menjadi tempat mengubur suara rakyat, lenyap bersama asap kerusuhan. Sebab selain membakar, bara api bisa sekaligus menghilangkan apa yang sedang terbakar. Dan ketika asap sudah menggumpal, gadisku, hal tersulit bukan lagi mencari siapa yang paling keras berteriak. Melainkan memastikan siapa yang masih memiliki keberanian. Keberanian untuk mencari. Keberanian untuk bertanya, tentang sumber api dari tengah tebalnya asap. Keberanian untuk saling memeluk di tengah kobaran api.
Serupa keberanianmu, menadah bara api yang memenuhi tempurung kepalaku, kobaran yang membara sekaligus membakar kepala orang-orang yang masih percaya cinta bunda pertiwi. Kobaran yang tak mampu menghangatkan diri kita di tengah hujaman rindu, rindu yang dingin, rindu yang membekukan; rindu pada kemerdekaan. Gadisku, aku percaya segala bara dalam tempurung kepalaku, akan luruh oleh peluk di teduh belaianmu. Sebab lenganmu adalah ranjang ternyaman bagi seluruh letih, seluruh luka yang dipanggang negara.
Peluk hangat untukmu. Aku menyayangimu utuh, gadis Mandailingku.
Idez Adhie Aksarra, lahir di Kebumen, 24 Februari. Aktif di Perpustakaan Jalanan Kebumen dan menulis dengan semangat “Mengakar merindanglah”. Karyanya antara lain Keffiyeh Menjala Air Mata, Di Bawah Selimut Demokrasi (Elorazine, 2024), serta Pulang ke Jampang Kulon, Bandung Sore Hari (Apajake Media, 2024).




