Dajjal adalah Kita

Pada berbagai ajaran, sosok ini kerap digambarkan sebagai penghancur yang akan datang pada akhir zaman. Sosok ini menjadi simbol kehancuran umat manusia secara spiritual. Apabila sosok ini hadir, akan terdapat kesesatan di seluruh penjuru. Sialnya, kita tidak menyadari bahkan bisa saja mengikuti tabiat kejamnya itu. Dia membawa kepalsuan yang terbungkus keindahan yang ternyata juga palsu. Tetapi, lagi-lagi kita bisa saja tertipu olehnya. Makhluk itu bernama Dajjal

Secara bahasa, Dajjal berasal dari bahasa Arab dajala yang berarti penipu, penyesat, pendusta. Pada kepercayaan Yahudi, ia digambarkan sebagai Mesias (juru selamat) yang menyesatkan umat. Pada kepercayaan Kristen, Dajjal dikenal sebagai Antichrist, sosok yang mengaku-ngaku sebagai Kristus dan membawa kehancuran. Menurut Islam, Dajjal lebih sering dikenal sebagai Al-Masih Ad-Dajjal, Al-Masih yang palsu, penipu, dan penyesat. Pada intinya, ketiga kepercayaan tersebut menggambarkan Dajjal sebagai seorang penipu. 

Kita mengenal Dajjal dengan beragam ciri-ciri seperti berikut, bermata satu, mampu menghidupkan orang mati, pembawa surga dan neraka palsu, dan puncaknya Ia mengaku sebagai Tuhan. Mungkin kemunculannya masih menjadi misteri saat ini, karena kita mengetahui bahwa Ia akan muncul kelak di hari kiamat. Namun sialnya, kehadirannya kini sudah mulai terasa. Ciri-cirinya sudah tak terasa asing. Bahkan, kita tak perlu menunggu kehadirannya. Sebab, bisa jadi Dajjal itu ternyata adalah kita. 

Bermata Satu

Ciri-ciri Dajjal yang pertama adalah bermata satu. Mungkin ciri-ciri ini tak melekat pada kita secara fisik, akan tetapi tanpa kita sadari kita juga hanya memiliki satu mata. Memang kita memiliki dua mata, tetapi kita hanya melihat kebenaran dari satu sudut pandang saja, tak lain adalah sudut pandang kita sendiri. Selain itu, kita menganggap sudut pandang lain sesat. 

Terkadang kita menganggap bahwa orang yang berbeda mazhab dengan kita, baik soal seni, pakaian, teknologi, pikiran, bahkan soal sebatang rokok, sudah dipastikan sesat. Tanpa kita sadari, kita juga memaksa orang lain untuk sepakat dengan sudut pandang kita. Karena sudah tertanam pada pikiran kita, hanya sudut pandangku yang benar. Pokoknya, baik-buruk, halal-haram, dan semua keputusan harus mengikuti pemahaman kita, tiada cara lain. Oleh sebab itu, secara tak langsung kita sama butanya dengan Dajjal. Karena mata kita hanya satu, dan kita memaksa pendeknya penglihatan tersebut sebagai satu-satunya kebenaran. 

Menghidupkan Orang Mati

Fitnah Dajjal yang berikutnya adalah mampu menghidupkan orang mati. Seperti dia, kita pun mampu melakukan hal demikian. Memang, kita tak mampu menghidupkan mereka langsung. Tetapi, kita bisa menghidupkan orang mati dalam bentuk lain. Kita mendatangi orang mati dan kita jadikan mereka sebagai sumber keberkahan. Kadang kita memuluskan namanya dalam doa-doa bahkan lebih khusyuk dibandingkan nama yang seharusnya kita tolong. 

Tak hanya jasad, pikiran mereka juga kita jadikan pedoman suci. 

Kita jadikan pikiran mereka yang sudah mati sebagai hukum yang mutlak tak peduli zaman berganti dan realitas berubah. Kita bahkan memegang pikiran mereka sebagai jimat karena merasa pemikiran mereka menguntungkan kita. Bahkan, titik terparahnya kita tidak memperkenankan orang lain untuk menguji pikiran itu, seakan-akan ide-idenya adalah ide yang suci. Memang orang yang kita anut pemahamannya sudah mati, tetapi kita paksa mereka untuk hidup dengan cara menjadikan suara mereka sebagai satu-satunya tolak ukur kebenaran. 

Pembawa Surga dan Neraka Palsu

Selain menghidupkan orang mati, Dajjal juga membawa surga dan neraka palsu. Seperti Dajjal, kita juga mampu menunjukkan surga dan neraka palsu versi kita sendiri. Kita menjanjikan surga bagi mereka yang sejalan dengan kita, lalu menakut-nakuti orang lain dengan neraka jika tak sejalan dengan kemauan kita, baik soal ajaran, aliran, pemikiran, bahkan cara memahami Tuhan dan alam raya. 

Surga kita letakkan begitu jauh di ujung kematian sana, lalu orang lain kita gugah dengan segala kenikmatannya, mulai dari keindahannya, alamnya, istana, bahkan bidadari-bidadari. Saking banyak dan indahnya, kita lupa kalau surga itu bisa kita hidupkan mulai saat ini. 

Tatkala ada orang miskin kelaparan, bukannya kita bantu dengan kemampuan kita, justru kita memberinya hiburan semu yang belum tentu bisa melunasi rasa laparnya. Ketika terdapat anak orang miskin yang putus sekolah, kita pun terkadang melakukan hal serupa. Kadang, muncul dari lisan kita pernyataan berikut, “Tidak perlu belajar atau kaya, ilmu dan harta itu tidak dibawa mati. Sebab, orang-orang yang cepat masuk surga adalah orang-orang seperti kalian ini.” Lebih parahnya, ketika sanak saudara atau teman dari kita terkena musibah, kita malah memaksa dia untuk bertobat, padahal seharusnya kita bisa menjadi pemenang bagi mereka yang berduka ini. 

Pengaku Tuhan

Kelak di hari kiamat disebutkan bahwa Dajjal akan berkata, “Akulah Tuhan kalian, sembahlah Aku.” Mungkin kita tidak bersuara lantang menyebut diri kita sebagai Tuhan. Tetapi, tindakan kita seakan memunculkan kesan bahwa kita adalah Tuhan. Kita bertindak seolah kitalah Tuhan sesungguhnya. 

Kita merasa berhak menilai kadar keimanan seseorang hanya dengan cara berpakaian, berpikir, bersikap, atau pilihan hidup mereka. Melalui hal-hal tersebut, kita merasa dapat menyimpulkan siapa yang dicintai Tuhan dan siapa yang dilaknat oleh-Nya hanya dengan mencocokkan tindakan orang lain dengan standar yang kita buat. Kita bahkan memutuskan nasib orang lain seolah dosa dan pahala ada di tangan kita. Tanpa kita sadari, kita juga menganggap bahwa golongan yang tidak menganut kemauan kita jelas tidak selamat. 

Saat seseorang murtad, kita hujat dan caci orang tersebut. Ini menimbulkan kesan bahwa Tuhan itu butuh dibela dari orang yang kita anggap menyimpang. Tatkala orang yang tidak kita sukai tertimpa musibah, kita menganggap bahwa dia tertimpa azab dari Tuhan. Atau manakala muncul orang sukses, kita iri dan menganggap itu adalah Istidraj, siksa berbalut nikmat. Memang Tuhan tidak menitipkan takdir orang lain ke kita, akan tetapi tindakan kita seolah memunculkan tafsir jika kita mengetahui segala skenario langit, bahkan penyusunnya. 

Saat itulah, kita akhirnya menduduki tahta yang seharusnya tidak kita duduki. Kita bahkan tak perlu berkata, “Akulah Tuhan.” Tetapi dengan bertindak merasa benar sendiri, sudah cukup membuktikan itu semua. Tanpa perlu menunggu Dajjal, sosok itu sudah ada pada diri kita yang merasa berhak menilai kadar keimanan seseorang dengan sebatang penggaris atau sepucuk jari. 

***

Tulisan ini tidak ditujukan untuk menyindir siapapun. Karena pada akhirnya, kitalah yang harus mengevaluasi diri kita sendiri. Apakah Dajjal bersemayam dalam diri kita atau tidak? Dajjal hanya hidup dan bersemayam dalam diri kita apabila kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling benar seakan diangkat langsung oleh Tuhan untuk menjadi wakil-Nya di bumi. 

Dajjal bukan hanya makhluk atau sistem di masa depan. Melainkan, dia bisa berbentuk kesombongan spiritual yang dibesarkan dalam diri karena tidak mau membuka mata yang sebelahnya. Oleh karena itu, jalan satu-satunya yang harus kita ambil adalah tidak hanya melihat dengan satu mata, tetapi dua mata. Mata yang tidak hanya melihat benar dan salah, tetapi juga melihat harapan. Mata yang melihat manusia sebagai sesama yang mesti dihargai, bukan sekadar label. Mata yang menunjukkan jalan pulang kepada Tuhan, bukan menjadi hakim yang selalu menghukum orang lain. Mata yang memeluk, bukan menusuk.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top