
Seperti halnya senja di banyak daratan Khatulistiwa. Senja di dada Jakarta juga berperan sebagai gradasi peralihan waktu dari siang yang perak menuju legam malam sehitam aspal. Senja yang tak hanya menghamparkan warna sore dari langit urban yang ngindie. Kilap warna-warnanya kemerahan, menawarkan nuansa plegmatis sekaligus melankolia dari sebuah kota dari dunia ke tiga.
Dari lapisan terdalam warnanya, ia menjadi semacam cermin yang memantul ke dalam retina mata orang-orang, saat terkurung macet sepulang kerja: memantulkan ribuan luka warisan. Luka transmisi yang terus berevolusi dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Bertahun-tahun menghuni satu ruang jauh dalam diri, yang seringkali tak disadari oleh pemiliknya. Luka itu mengendap di balik kemilaunya harapan yang ditawarkan oleh gemerlap citylight malam kota: luka nyata namun tak dirasa oleh denyut tubuhnya. Sebab jantungnya sibuk berpacu mengintai tiap celah kesempatan di atas lalu-lalang jalan para pengejar mimpi, hingga jemarinya tak sempat meraba dinding dadanya yang asing. Dada yang lama tak disapa dan ditanya, “ini kah hidup yang kita inginkan?”.
Di riuh cakrawala yang menjadi garis temu antara rasa tak sabar dan punggung yang merindukan ranjang. Senja di dada Jakarta kerap menggoreskan garis-garis pedih pada kerutan bibir, tatkala tertawa bersama bising teriakan klakson berulang. Teriakan dari banyak wajah yang eksistensialnya memadat dalam sempitnya kesempatan, kesempatan yang menghimpit melalui tekanan sistemik: melalui kemiskinan yang dirawat dengan cara paling profesional. Saat langit Jakarta memeluk matahari di garis horizon, ia juga memeluk dengan cara yang tak biasa, bukan dengan segelas kopi yang hangatnya bagai pelukan bagi lelah yang menumpuk, namun dalam lengannya air mata membulir melalui tiap pori-pori yang lubangnya adalah liang lahat bagi tubuh buruh berupah rendah.
Di dalam peluknya yang kering, hidup bukan lagi tentang bagaimana cara bahagia, namun bagaimana caranya berias menggunakan senyum nan masam, juga merakit mimpi yang hanya bisa didapat saat tulang-belulangnya lelap kelelahan. Dari lengannya urbanisasi lahir mengoyak rahim nilai-nilai kemanusiaan, serta lidahnya menyanyikan lagu-lagu mesin industri. Melahirkan gema ambisi yang menyamarkan tangis orang-orang yang tak lagi mengenali perbedaan antara pekik penderitaan atau tangis perjuangan. Pekik lamat-lamat yang bisa jadi tak terdengar.
Senja di dada Jakarta terlalu bising untuk menyuarakan tangis kecilnya, sebising jalanannya yang terlampau sederhana untuk disebut jalan, ia melampaui itu semua, lebih dari sekadar ruang fisik. Di atas aspalnya, aliran sosial-politik menjadi aliran darah yang deras meresap ke pembuluh paling inti dari manusia. Mengalir memenuhi hierarki sosial, mengalir dengan laju paling maksimal, membentur dan merobek, menghantam juga merupa manusianya, bahkan dengan tanpa ragu kerap menenggelamkan eksistensi individu, individu yang sering kali gagal menikmati segelas senja di dada Jakarta. Sebab langit sore di Jakarta ialah sepasang lengan yang menggenggam runcing belati, bentangnya memeluk sekaligus melukai. Dalam rekahnya kontradiksi sering mengembang tanpa disadari, di sana, harapan dan keputusasaan, mimpi dan keterasingan, antara pulang atau mati di tempat berjumpa dalam satu ring tinju eksistensial.
Sebuah dilema eksistensial dari buruh urban yang gamang, sebab kedua matanya terlalu rekat dengan cahaya kuning keemasan dari langit urbanisasi yang menembus tengkorak kepala. Gamang terjebak dalam perjuangan bertahan hidup, tanpa benar-benar memiliki pilihan. Perjuangan demi terus mampu bertahan di tengah arus kompetisi, bertahan dari himpitan gang-gang yang kian senja kian menyempit, hingga ruang kepalanya tak lagi mampu mengingat tentang bentuk hidup plegmatis yang detik demi detik menjauh dari dirinya.
Setiap detik detak hidupnya menggubah senandung mantra-mantra modernisasi nan panjang, demi untuk bertahan dalam pertarungan agar tetap hidup dari detik ke detik, pertarungan yang sering tak dimenangkannya. Pertarungan yang melemparkannya dari satu arus ke dalam arus lainnya, pertarungan dari senja ke senja: senja penuh luka yang memancarkan jurang sosial.
Pertarungan itu semakin melebarkan nganga luka, nganga luka yang melahirkan banyak rasi sosial: lalu menggugus di bawah langit urbanisasi. Menggugus sebab sistem yang menjerat tiap sendi sosial, ia lahir dari luka kolektif yang menumpuk, luka yang bukan personal semata, luka struktural. Luka-luka itu semacam bebintang di langit malam Jakarta, yang tertutupi oleh gemerlap mimpi-mimpi, oleh kerlip lampu-lampu pencakar langit, oleh megah papan reklame, dan sinar fatamorgana yang begitu menyilaukan. Yang dari kejauhan kilaunya melambaikan harapan-harapan, namun dalam dadanya ia menyimpan ribuan tubuh yang dipaksa bertahan dalam pelukan mimpi yang tak pernah menjadi miliknya. Cahaya mimpi yang selalu dipuja namun memantulkan bayangan panjang tubuh-tubuh yang terkoyak, menjadikan langit Jakarta penuh dengan ribuan hamparan lampu, lampu yang meredupkan peta sunyi tentang ketidakadilan yang terus diwariskan dan dipelihara.
Kesunyian-kesunyian dalam tubuhnya lahir membentuk gugusan yang tak pernah selesai kehilangan nama. Pagi hanya meminjam tubuh-tubuh mereka untuk mengalir di antara deras laju jalan, berdesakan dalam sesaknya peron stasiun, lalu mengembalikannya menjelang malam ke kolong-kolomg flyover yang bahkan gagal dikenang peta. Kota membiarkan mereka beredar seperti debu yang tak pernah benar-benar jatuh, tak ubahnya bintang-bintang yang cahayanya disamarkan oleh lampu-lampu yang terlalu silau untuk mengakui langit.
Di setiap wajah mengendap musim yang tak kunjung berganti; retak-retak kecil yang diam-diam saling menyambung menjadi patahan panjang, menjalar dari dinding kontrakan, dari lantai pabrik, dari mimpi yang dipaksa mengecil agar muat di kursi angkot. Jakarta terus menumbuhkan gedung-gedung yang pandai mencumbu langit, sementara di bawahnya akar-akar kehidupan dibiarkan menggali tanah yang semakin keras, mencari air pada musim yang telah terlalu lama lupa cara mengalir.
Senja di dada Jakarta berdenyut bersama langit yang terlambat menyadari warna manusianya. Ia menjalar perlahan di sela kaca-kaca gedung, menggenangi jalanan, memunguti bayang-bayang yang membatu di trotoar. Kemilau lampu-lampunya seolah mampu meredam gaduh perut yang menahan lapar, seolah mampu mengeringkan mata yang kehilangan rumah, lalu mengubur hari esok yang berkali-kali digadaikan sebelum fajar menyapa.
Malam menjadi ruang bagi banyak luka yang dipaksa sembunyi dalam pilu; bersembunyi di balik wajah-wajah yang tetap berjalan, tetap bekerja, tetap pulang dengan dompet yang lebih ringan dari pada isi perut. Ia menyerupai lantai pesta yang diam-diam meminta semakin banyak pengorbanan demi gemerlapnya tetap menyala, Jakarta tak pernah usai berdansa.
Senja yang terus menari dan tak pernah sungguh tenggelam ke dalam langit Jakarta. Ia hanya berpindah dari langit ke dalam dada orang-orang yang memanggul kota setiap hari; berhembus di sela napas buruh yang pulang membawa lelah, di antara langkah-langkah yang terus mengejar hari esok tanpa pernah benar-benar menggapai. Luka-luka itu terus berdenyut dalam diam, diwariskan dari satu musim ke musim berikutnya, dari satu stasiun ke stasiun lainnya, menjadi mata uang agar gemerlap kota tetap menyala. Jika dari sana puisi masih memiliki alasan untuk lahir, bukan lagi untuk meromantisasi senja langitnya, sebab dari balik merah langitnya dan sinar kota yang berkilau, tergugus manusia yang nyaris dilupakan.
Senja di dada Jakarta bukan sekadar peralihan menuju malam, melainkan kisah tentang tulang-tulang yang diperas oleh ambisi sebuah kota yang terus berlari, sementara luka-lukanya tetap menganga dan terasing seperti bebintang yang nyata namun tertutup asap ambisi dari dalam dadanya.
Idez Adhie Aksarra, lahir di Kebumen, 24 Februari. Aktif di Perpustakaan Jalanan Kebumen dan menulis dengan semangat “Mengakar merindanglah”. Karyanya antara lain Keffiyeh Menjala Air Mata, Di Bawah Selimut Demokrasi (Elorazine, 2024), serta Pulang ke Jampang Kulon, Bandung Sore Hari (Apajake Media, 2024).




