Kematian Hati dan Puisi Lainnya

Tenung Keadaan

Diksi aib yang raib dalam semesta
Kertas-kertas culas meninggalkan buku-buku ngilu
Mengail bulan menanak matahari
Udara jadi tuba tanpa suaka lara

Patung serah diri di tepi narwastu
Kau menghidangkan sepiring pisau
Secangkir racun dan semangkuk kuah darah
Mendadak sontak kau cabik langit dengan belati

Sementara kain mayat menjerit dalam tanah beling
Seperih koyakan jiwa setengah latah
di jantung pemakaman mayat-mayat rasa
Bertahan nama seperti puisi tanpa nyawa

Kenyataan memungut tunduk
Berkabar pada halimun sehelai sungkawa
Serupa suram kidung malam yang nelangsa
Sampai di liang pusara tanpa kantuk

Kota Cendana, 23 Juli 2026

***

Almanak Disembelih

Kelender berdarah di altar malam
Gelap meneteskan air matanya
Ke atas peti-peti hari yang tak tertulis
Tubuh almanak disembelih
Sebagai korban tenung keadaan

Minggu-minggu menelan nafas sunyi
Meninggalkan lorong-lorong sabit
Bulan meratapi tempo itu
Tahun berkalang duka
Menutupi jenazah kenyataan yang wafat

Lembar demi lembar berderek di mesbah
Dengan kemenyan luka seperti cuka
Tanggal-tanggal bersujud di mangkuk batu
Menerima mantra penyangkalan yang tersasar

Angka-angka merapal jampi-jampi rindu
Sebagai sesaji kecil bernama hidup
Sembelih arti sebelum dikremasi
Macam cara merayakan masehi tua

Entah siapa menuntut tiba kemarau kemarin
Dari pernyataan-pernyataan yang menohok
Mengoyak saraf waktu hingga daging realita robek
Pada wajah abad yang kian keparat

Kota Cendana, 23 Juli 2026

***

Prosesi Makrifat

Mata semakin muak menatap bangkai rasa
menakar lara dari pelupanya hanyalah pikun
ritual tidur kabung awal mula luka
Kecemasan yang masuk ke dalam hitam cangkir malam

Warna di matamu dan dendam di keningku
Di sepotong jantung aku belajar menjahit
Yang terkenang saat berziarah ke makam tubuhmu
Pada dupa-dupa dini hari

Aku mengunjungi ingatan
Di makam tanpa nisan
Tidak pernah ada kabung di pelataran sunyi
Suara-suara yang terbungkam

Adalah malam sebuah salung
Goa di selah semak mayat hati terkapar
Kabung setengah tiang dengan salam duka
Dibabat pedih di setapak memar sadar berpamitan nanah

Kota Cendana, 23 Juli 2026

***

Nisan Tubuhmu

kertas suji merugi di gigir mesbah
runduk dari kikuk yang nelangsa
anyelir mengerek bau amis darahmu
tak ada yang mencari puisi di danau mati

kitab kejadian menyarapi ayat-ayat pedang
dengan dupa perjanjian di ujung belati
kalam kelam mencongkel mata
ada kesumat yang tak berhenti melaknat

skadal darah yang mutlak dari kutukan kebenaran
malam tuba berjubah menceritakan tentang tragedi pincang
keranda sunyi mengenakan kerudung hitamnya
usai lonceng di kuil itu berdenting pedih

pada gelap setengah gagap
surge sekarat tanpa mampu mati
ketika tangan malaikat menuliskan namamu
di pemakam mayat-mayat rasa

Kota Cendana, 23 Juli 2026

***

Kematian Hati

Merayakan akhir kematian hati
Adalah sebuah ritus yang tak pernah usai
Dengan secawan onak
membunuh kekhawatiran di tepi otak

Disematkan titah padanya tanpa pilihan
Kutukan kehendak bebas dalam ketidakmengertian
Saat kaubunuh perlahan detak kesadaran
Tapi belum juga kaupecat sang ego

Dari jabatan ketuhanan yang robek disayat
oleh tajamnya kenyataan
Meratapi arakan duka
dari pengusung keranda hidup

Seperti bertuankan orang-orang pikun
Ketika tulang belulang kenangan bersaksi
Kamu telah dimakan hanta di kepalaku
Tanpa prosesi tanpa sungkawa

Kota Cendana, 23 Juli 2026

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top