Beranda dan Puisi Lainnya

Angin Kemarau

Kelak,
Puisi-puisi angin kemarau
Mengunyah wajah kita
Seperti permen karet; kenyal

Puisi-puisi angin kemarau
Tipis, tak habis-habis
Menghafal celah genting-genting
Rumah kita

Mengembuskan napas kerinduan
—menjumpai kita di peraduan

***

Dapur

Musim kawin
Kucing-kucing kasmaran
Tikus-tikus menari di lumbung
Bersulang bercericit; di muka karung

Di dapur sederhana itu
Tungku belum mengasap
Kayu bakar masih terikat
Ikan asin masih dijemur

Di atas tampah warisan Ibu
Setahun lalu—
tumpah

***

Lensa Baru

Sejak lensa kehilangan warna
Pohon tua itu semakin sepi
Rantingnya seperti dilukis
Pada kanvas langit abu-abu

Pohon tua itu meringkuk
Saat matahari bersinar terang
Angin terasa tengah bergemuruh
Datang dari pematang dan tanah lapang

Pohon tua itu semakin merapal
Mengundang mendung petang
Hanyut dalam senandung:
Kaok! Kaok! Kaok!

***

Beranda

Susunan tawa ialah rumah
Bagi jilid-jilid kisah
Berteduh di beranda
Saat rembulan menggugurkan cahaya

Di dekat pot-pot bunga
Anak-anak bermain balon
Meletus, melahirkan tangisan
Seperti rahim mengenang waktunya

Kian berlarian
Anak-anak tak beralas kaki
Menjamah ubin-ubin kusam
Seusia uban orang tuanya

Anak-anak tak sempat menoleh
Menilik pendar mata yang berembun
Di balik frame kacamata usang

“Nak, pulang, Nak!” Mereka bilang.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top