
Peringatan hari kemerdekaan. Semua lapisan masyarakat mengadakan upacara hari kemerdekaan. Antusiasme sangat terlihat dari wajah mereka. Setelah upacara selesai, mayoritas masyarakat langsung mengadakan perlombaan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Makan kerupuk, balap karung, estafet karet, hingga panjat pinang menjadi lomba-lomba yang banyak digemari oleh masyarakat. Mereka tidak tahu kalau lomba-lomba di atas adalah bentuk perbudakan yang pernah dilakukan oleh para penjajah.
Sementara itu, para pejabat setelah melaksanakan upacara bendera, justru mengadakan makan-makan mewah di istana. Anak istri mereka dibawa, tawa riang terdengar, sendok saling beradu, mulut-mulut tersumpal oleh nasi tumpeng dan ayam goreng. Perut mereka terisi hingga membuncit.
“Kenapa tidak setiap hari kita merayakan kemerdekaan ya? Makan-makan dan minum sepuasnya seperti ini” Seorang pejabat berceloteh, sembari mengupas anggur.
“Kalau setiap hari begini, bisa-bisa perut buncitmu meletus.” Pejabat di sebelahnya langsung menjawab, disusul tawa yang keras oleh pejabat-pejabat yang lain.
***
Berbeda dengan keadaan yang berjarak hanya lima ratus meter dari istana, seorang anak laki-laki usia dua belas tahun sedang berjalan sembari menenteng koran menuju lampu merah. Tatapannya datar, tidak ada kegembiraan yang nampak. Baginya, hari kemerdekaan sama dengan hari-hari lain pada umumnya. Ia harus bekerja sendiri agar bisa bertahan hidup. Ayahnya sudah meninggal, ibunya sakit-sakitan. Ia terpaksa putus sekolah, bekerja dari pagi hingga malam. Pagi ia berjualan koran, sore hingga malam ia memulung. Mencari barang-barang bekas untuk ditukar dengan lembaran uang.
“Koran pak” Si pengendara menggeleng, ia malah membuang botol sembarangan. Kemudian menutup kembali jendela mobilnya. Si anak menatap botol yang dibuang, masih ada sisanya. Sedikit. Diambil botol tersebut, kemudian diminumnya. Perisai jeruk kini membasahi kerongkongan. Rasa hausnya sedikit berkurang. Ia tatap sekitar, ada seorang pengendara motor yang membuang bungkus roti, ia perhatikan lagi, ternyata sudah kosong. Kemudian ada pengendara yang membuang potongan semangka. Ia tatap, masih ada bagian yang berwarna merah. Ia mencoba mendekat, menendang potongan semangka tadi ke arah trotoar, lalu ia ambil, dan dengan lahap memakannya.
Hari menjelang petang, si anak penjual koran berjalan sambil sesekali bersendawa, meskipun korannya tidak laku banyak. Setidaknya perutnya terisi penuh. Ia tidak langsung pulang, setelah menyetorkan uang hasil jualan koran ke juragannya, Ia melanjutkan bekerja sebagai seorang pemulung. Mengais sisa-sisa rezeki untuk menyambung hidup.
Malam makin matang, jalanan mulai lengang. Si anak baru selesai memulung. Karungnya hanya terisi setengah. Perutnya mulai berbunyi. Ia punya uang, tapi ia sudah berjanji untuk membelikan ibunya obat. Ia melewati sebuah restoran. Menatap ke dalam. Beberapa orang tengah makan di bawah gemerlap lampu mewah. Ada pasangan muda mudi, seorang lelaki yang sibuk dengan laptopnya. Pria paruh baya yang sedang sibuk menelpon. Tatapan si anak terhenti ke sudut ruangan, di sana terlihat satu keluarga, ayah ibu dan dua anaknya yang masih remaja. Mereka makan dengan lahap. Sesekali terdengar tawa lebar.
“Hei pemulung, jangan berdiri di sana, pergi pergi” Si anak tidak terkejut saat seorang waiters mengusirnya dengan kasar, hal yang sering terjadi padanya.
Baru beberapa meter ia berjalan ada yang memanggil “Hei bocah,” Si anak menoleh. Ia mendapati seorang remaja dengan seragam sekolah yang berantakan duduk di atas sepeda motor.
“Kau lapar?” Si anak mengangguk dengan ragu. “Ini ada nasi kotak, tadi setelah upacara penurunan bendera aku diberi nasi, ini untukmu saja” Si anak langsung menyambar nasi kotak tadi.
“Terima kasih mas” Matanya berbinar. Malam ini ia dan ibunya bisa makan.
“Iya, sama-sama. Ini ada sedikit uang untukmu, buat beli cilok” remaja tadi memberikan selembar lima ribuan.
“Terima kasih mas”
“Jangan berterima kasih padaku, berterima kasihlah pada Tuhan” Kemudian si remaja tadi langsung tancap gas dan hilang ditelan jalan.
Bayu Prakoso seorang lelaki beruntung yang lahir dan tumbuh di kota kecil sejuta keindahan, Kebumen. Sejak kecil menyukai sepak bola, musik dan tentu dunia literasi. Bayu dapat dihubungi melalui Instagram @BayuPrakoso74




