
Arsip Wajahmu
Kepada: zda
Jangan biarkan jam tua merapikanmu.
Terlalu banyak yang amblas karenanya.
Terlalu banyak nama menjadi debu.
Terlalu banyak wajah menjadi kabur.
Aku menaruhmu dalam diam.
Di rak yang tak terjamah musim.
Di sela bayang yang rapuh.
Di antara hal yang belum tuntas.
Sebab keliru ingat datang perlahan.
Tanpa suara dan tanpa jejak.
Ia menghapus bayang demi bayang.
Hingga kenangan kehilangan rupanya.
Maka kutata kembali wajahmu.
Seperti arsip yang takut musnah.
Kuberi tanggal yang tak tertulis.
Kuberi ruang yang tak bernama.
Kelak jika warsa mangkat.
Dan hidup semakin menjauh.
Aku masih ingin menemukanmu.
Utuh di dalam ingatan.
Bukan untuk memilikinya lagi.
Bukan untuk mengulang masa lalu.
Hanya sebagai pengingat sederhana.
Bahwa kau pernah ada.
Jambi, 2023
***
Yang Semrawut dan Gamang
(Kisah asmaraloka Ridho Mulya dan N, Jambi-Semarang)
Pernah ada periode
kala aku menjadikan eksistensimu
sebagai penawar lengang.
Namun di hadapan waktu,
aku hanyalah seseorang
yang belajar menerima keterpilihan.
Maka aku menyingkir
membiarkan namamu berlayar
ke perairan yang tak lagi dapat kujangkau.
Tahun termakan tahun,
aku mendengar hidupmu bertumbuh
dari layar tersangkut layar;
seperti kabar tentang sebuah rasi
yang emosi bergebu-gebu membara
di tungku kereta yang rapuh.
Anehnya,
aku tetap merasa
turut memiliki sukacita itu.
Seakan ada kalanya
serpih diriku yang kau tinggalkan
di sela keberhasilanmu.
Lalu semesta,
dengan tabiatnya yang ganjil,
mempertemukan kita kembali.
Aku datang membawa keraguan
dan rasa tak setara;
kau datang dengan keteduhan
yang membuat seluruh alasan untuk menjauh
gugur satu per satu.
Kini sebuah perjumpaan
tinggal menghitung hari.
Tetapi tiap lingsir malam,
dadaku dipenuhi riuh
yang tak memiliki suara.
Sebab yang paling menggetarkan bukanlah
kemungkinan kau berpaling lagi.
Melainkan kemungkinan
kau menetap dalam nyata.
Dan aku harus mengakui;
selama empat tahun itu,
yang kusimpan bukan harapan
melainkan semrawut yang tak selesai kurapikan,
dan gamang yang lumpuh
masih menyebut namamu
sebagai pemilik ruang hampa ini.
Jakarta, Juli 2026
***
Kepada Gadis Hujan
Aku mengenalmu
seperti orang mengenal gerimis pertama;
sekejap, lalu hilang
sebelum sempat bertuan.
Kala petang,
sepulang bimbel,
langit menyusutkan hujan.
Kita berdiri di bawah atap yang sama,
membagi beberapa menit
yang kini terasa lebih panjang
daripada banyak warsa yang kulalui.
Kau bertanya sesuatu yang sederhana,
aku menjawab seadanya.
Lalu singkat obrolan itu tumbuh
mencolot dari satu topik ke topik lain
tanpa pernah berniat menjadi memori.
Aku tahu,
barangkali kau tak pernah terbayang wajahku.
Barangkali namaku telah larut
bersama suara kendaraan dan hujan sore itu.
Bahkan mungkin,
sesaat setelah pulang,
aku telah menjadi pemilik rumah
tanpa memiliki kunci.
Kemudian temanmu memanggilmu.
Tutur kata kita terputus oleh keharusan
seperti secepat ranting yang dilepas arus.
Namun anehnya,
yang singkat sering kali bermukim paling lama.
Sampai sore ini,
aku masih mengingat
cara kau mendengarkan,
cara kau membuat jeda terasa hangat,
cara beberapa menit sederhana
mampu menetap bertahun di kepala.
Kata sahabatku,
kau memang terbiasa berbicara dengan siapa saja.
Mungkin benar.
Dan itu tak pernah menjadi soal bagiku.
Sebab ada jarak yang membuat segala sesuatu
tetap pada tempatnya;
kau di kehidupanmu,
aku di kehidupanku.
Dan mungkin, selama ini,
aku tidak sedang merindukanmu.
Aku hanya merindukan seseorang
yang pernah membuat hujan berhenti terdengar.
Jakarta, Juni 2026
***
Anik Hailaqhari, berasal dari Desa Baru Sungai Abu Provinsi Jambi. Pemuda kelahiran tahun 2007 ini sedang menekuni profesi sebagai penyair yang belum amatir dan menyukai sains. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @hailaqhari.




