Catatan Pembacaan Nyi Sadikem: Tentang Trauma, Identitas, dan Citra Perempuan Kekinian

Saya ingat betul pesan seorang driver ojek online saat diantar dari stasiun Pasar Senen ke Gelora Bung Karno (GBK). Sambil mengendarai motor dengan kecepatan lumayan kencang, ia bilang pada saya, “Jakarta keras, Neng. Dunia di luar sana bahaya.” Saat itu, saya hanya mengangguk, tetapi beberapa tahun berlalu sejak kejadian itu, saya justru ingin menambahkan satu pernyataan sang driver ojek online: di dalam rumah pun berbahaya bagi perempuan—bahkan perempuan amat banyak mengalami kekerasan dalam lingkup privat, yaitu di dalam rumahnya sendiri.

Saya banyak menemukan kasus kekerasan yang ditujukan pada perempuan dalam bacaan novel terakhir, Nyi Sadikem (2025) karya Artie Ahmad. Nyi Sadikem adalah novel berlatar era Hindia-Belanda tahun 1900-1930 yang menceritakan perjalanan hidup Elizabeth van Kirk, perempuan berprofesi gowok yang hidup njawani setelah dibuang oleh keluarga Belanda-nya. Kehidupan Elizabeth van Kirk tak ubah malapetaka tanpa ujung. Diawali dengan kelahirannya yang menjadi setengah Belanda dan setengahnya lagi adalah darah dari gundik pribumi, nasib kelasnya menjadi tidak jelas, terombang-ambing, kelas dua pun tidak sah dalam hukum Hindia-Belanda. Lalu, dia menyaksikan ibunya yang seorang gundik dari Isaak van Kirk diperlakukan tidak baik dan sering kali mendapatkan kekerasan. Sang ibu tidak tahan dan memutuskan gantung diri di halaman belakang.

Dari Trauma ke Perlawanan Perempuan

Elizabeth menyaksikan semua itu, tak lama nasibnya jungkir balik, ia dibuang oleh istri sah papanya. Tak pernah dicari keluarganya, Elizabeth memutuskan “bunuh diri kelas” dan menjadi pribumi untuk merasa dekat dengan ibunya. Elizabeth “bertransformasi” menjadi Moerni. Menjalani kehidupan menjadi pribumi tidak semulus yang ia kira. Ia dirudapaksa oleh laki-laki yang ia tolak cintanya. Trauma menumpuk, Moerni menjalani hidup dengan dipandang sebelah mata oleh masyarakat setelah tahu ia hamil dan merupakan korban rudapaksa. Tidak sampai situ saja, kemalangan juga menimpa bayinya yang mendadak mati karena sakit. Moerni makin terimpit dalam dunia sosialnya, dan diimpit trauma berkepanjangan pula.

Bayangkan intensitas rasa takutnya. Betapa ekstrem stresnya, ketidakmampuannya untuk melawan, ketidakmampuan bergerak baik fisik maupun psikologis. Menurut Ester Lianawati, pelaku pemerkosaan merampas kepemilikan korban atas dirinya. Akibatnya, sang korban merasa tubuhnya telah dikuasai pelaku, dan ia tidak lagi memiliki dirinya secara utuh. Korban akan merasa asing terhadap tubuh dan dirinya sendiri, jijik dengan tubuhnya, membayangkan setiap inci kulitnya dihinggapi tangan pelaku. Tidak, pemerkosaan tidak sebatas soal selaput dara; bukan sekedar keperawanan yang “terenggut”—ini tentang kepemilikan tubuh dari diri seutuhnya yang telah terampas. Korban juga sangat wajar terkena gejala stimulus generalization, menyamakan semua stimulus yang mirip dengan stimulus yang mengingatkan pada traumanya. Seperti Elizabeth alias Moerni yang tersentuh tangan laki-laki, ia teringat kepada Bondan yang telah merudapaksanya. Moerni yang membenci laki-laki karena dikhianati oleh laki-laki yang dicintainya dulu, atau Nyi Sadikem yang memandang laki-laki Belanda sama dengan papanya yang ringan tangan. 

Stimulus generalization dan trauma itu menguasai korban, tetapi korban juga harus bertahan hidup di kehidupan sosial pada saat mereka terjebak dalam tubuh yang tidak lagi mereka hayati sebagai tubuh sendiri—ini diperparah oleh mitos keperawanan yang menjadi wacana dominan di tengah-tengah masyarakat, sehingga siapa pun yang gagal menjaga keperawanannya, akan dianggap sebagai entitas yang tidak suci dan tidak utuh lagi sebagai perempuan. Mereka terstigmatisasi oleh tatanan masyarakat. Sekali lagi, Nyi Sadikem mengalami trauma serupa, mulai dari kekerasan yang didapat saat masih berada dalam keluarga van Kirk, melihat ibunya yang statusnya adalah gundik Isaak van Kirk yang selalu mengalami kekerasan dalam rumah tangga, dibuang oleh istri sah dari papanya, lalu memutuskan mati atas nama Elizabeth van Kirk dan melanjutkan hidup menjadi Moerni. Dirudapaksa setelah beridentitas pribumi Moerni, dipandang sebelah mata oleh masyarakat karena kehamilan di luar nikah, dan kematian mendadak bayinya karena sakit—ditambah trauma tidak berkesudahan—menjadi trauma yang menumpuk dan memantiknya untuk melawan dengan cara yang ia pilih sendiri.

Berdasarkan cara pandang Karen Hoerney, orang-orang yang didera kondisi psikis cemas, takut, trauma, dan semacamnya, secara otomatis akan memupuk rasa permusuhan pula dalam dirinya—permusuhan ini merujuk atau diarahkan kepada entitas atau subjek-subjek yang dianggap identik, dan dalam kasus trauma karena pemerkosaan sebagaimana dialami oleh Sadikem, maka permusuhan ini mengarah pada pelaku, bahkan laki-laki yang seentitas dengan sang pelaku. Semakin kuat kecemasan, trauma, dan ketakutan, maka potensial sekali permusuhan juga makin meninggi. Bisa dikatakan, ini mengarah pada resistansi berupa pembalasan dendam. Ini ditunjukkan/dikonkretkan oleh Moerni muda dengan menjadi teman minum orang-orang penting. Moerni mengambil pekerjaan ini karena salah satu alasannya adalah ia perempuan yang termarjinalkan, terhimpit ekonomi, dan luar biasanya ia berhadapan dengan laki-laki. Ya, Moerni menjalani pekerjaan malam. Ia sebagai perempuan mencoba meresistansi, mengatasi, bahkan mengontrol laki-laki yang telah ia labeli sebagai musuh dengan senjata “keperempuanannya”.

Identitas Gowok

Resistansi Moerni makin kuat setelah pengkhianatan cinta dan kehilangan anak untuk kedua kalinya. Laki-laki yang ia anggap memberikannya cinta, ternyata membohongi dirinya dan membatasinya hanya sebagai perempuan simpanan. Rasa benci pada laki-laki makin menumbuh, bahkan memengaruhi kehidupan sosial Moerni. Ia memandang hubungan antara perempuan dengan laki-laki seperti tidak ada gunanya, karena ujungnya perempuanlah yang akan dikecewakan. Ini selalu diingat Moerni. Bahkan dari awal, Moerni selalu menyaksikan laki-laki berlaku seperti papanya yang ringan tangan kepada mamanya yang seorang gundik rendahan. Setelah kekecewaan kehidupan percintaan ini, Moerni akhirnya merekayasa hubungan sosial antara perempuan dengan laki-laki sebatas sebagai hubungan transaksional, seperti apa yang ia kerjakan saat menjadi gowok. Tidak ada percikan cinta saat mengajari para cantriknya.

Ya, seorang noni Belanda berprofesi menjadi gowok bisa dibilang sangat unik. Siapa yang mau menjadi gowok saat otak seseorang telah disusupi kurikulum Barat? Elizabeth van Kirk melakukan itu lewat identitas pribumi Moerni-nya: melakukan gowokan dengan profesional. Gowok di sini sama dengan pekerjaan gowok yang ada dalam film karya Hanung Bramantyo yang rilis pada tahun 2025 lalu, berjudul Gowok: Kamasutra Jawa. Gowok yang diperankan Moerni dalam Nyi Sadikem juga serupa dengan gowok yang diceritakan Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk—menceritakan pekerjaan sampingan Srintil selain menjadi sosok sentral ronggeng. Gowok sendiri, adalah pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan pribumi yang sudah dewasa untuk mengajarkan ilmu-ilmu berumah tangga kepada laki-laki muda yang siap menjadi calon pengantin.

Perlu diingat juga, eksistensinya sebagai gowok dalam novel, harus dilihat dengan menyorot balik pengalaman hidupnya. Gowok sebagai identitas tunggalnya dibentuk karena pengalaman traumatiknya yang merupakan warisan dari orang tua dan masyarakatnya. Kekerasan dalam rumah tangga, mamanya yang gantung diri di halaman belakang, kekerasan seksual, termarjinal, adalah sesuatu yang dipaksa untuk ia terima. Maka gowok sebagai identitas juga bisa disebut sebagai hasil dari kekerasan pemaksaan identitas (kekerasan fisik dan simbolik). Akhirnya, karena faktor permusuhan yang menggunung dalam dirinya tadi, ia memilih identitas gowok sebagai identitas perlawanannya terhadap laki-laki.

Novel Nyi Sadikem dan Citra Perempuan Kekinian

Sebenarnya, dengan bertolak dari kasus Moerni atau Nyi Sadikem—sebagai korban kekerasan seksual yang kemudian menjelma jadi gowok—dalam novel karya Artie Ahmad ini, kita juga bisa melihat realitas citra perempuan kekinian dalam budaya populer kita. Misalnya, kita bisa menghadirkan pertanyaan: mengapa tubuh dan kecantikan perempuan sering kali menjadi arena kontrol sosial?

Tubuh melalui wajah digunakan sebagai sarana pelaksanaan kekuasaan. Dalam hal ini, penerapan pendisiplinan tubuh, kecantikan tata rias wajah dipilih untuk mengontrol tubuh perempuan. Dalam novel, Nyi Sadikem juga masih mendengarkan usulan-usulan dari luar untuk penampilannya, mengenakan jarik yang cocok untuk kebayanya, giwang yang paling mahal dan bagus ia pakai dan mematut diri secantik mungkin untuk bertemu kliennya.  Filsuf feminis Elisabeth Badinter mengatakan, perempuan sendiri telah menginternalisasikan nilai-nilai masyarakat sebagai nilai-nilai mereka—perempuan yang cantik pasti akan banyak disukai dalam hukum masyarakat patriarki. Dalam hal tubuh dan kecantikan, Mona Chollet melihat bahwa perempuan telah mereduksi dirinya pada penampilan fisik dan mengorporasikan ini sebagai bagian dari dirinya. Perempuan tidak menyadari bahwa ini adalah produk hasil konstruksi budaya misoginis yang masih terus mencoba mengalihkan perempuan agar tidak menjadi mahkluk intelektual, dan selalu menjadi objek estetis.

Lalu, pertanyaan berikutnya: bagaimanakah media dan budaya populer hari ini masih memproduksi hal serupa? Sepertinya, kecantikan perempuan sebagai kontrol sosial hari ini makin menjadi-jadi, bahkan turut diproduksi oleh tempat kerja para perempuan. Pada hari ini, perusahaan-perusahaan mengontrol para pekerja perempuan tepat sebelum mereka resmi masuk ke perusahaan dengan menyertakan “penampilan menarik” dalam kriteria-kriteria yang harus lulus uji perusahaan. Ini, menurut Naomi Wolf, merupakan beban lebih yang dipikul oleh perempuan. Kecantikan fisik dijadikan sumber daya tarik dan penentu dalam perolehan pekerjaan bagi perempuan setelah kepintaran. Pijakan ini menjadi indikator bentuk kontrol sosial yang kemudian berpengaruh terhadap perempuan ketika melihat dirinya sendiri.

Arus globalisasi dan kapitalisme juga turut berpartisipasi dalam penyebaran standar kecantikan ideal perempuan. Adanya kemajuan teknologi masa kini mengakibatkan standar kecantikan menjadi global dan menguniversal. Globalisasi menyebabkan tren bentuk tubuh ideal, kosmetik teranyar, perawatan tubuh dan wajah menjadi satu arah. Di samping itu, peran aktif dimainkan oleh sistem kapitalisme dalam pembentukan body image. Perempuan saling bersaing menyejajarkan diri mereka dengan tuntutan masyarakat partiakis untuk mencapai tubuh yang ideal atau kecantikan yang sesuai standar masyarakat partiakis. 

Dan pertanyaan terakhirnya: apakah kecantikan sebenarnya memberikan kebebasan? Atau justru malah menimbulkan kerentanan? Seandainya perempuan mempunyai power, modal kapital yang besar, kecantikan akan menjadi kebebasan dan kuasa. Nyi Sadikem sendiri mempunyai semua itu setelah ia menjadi gowok yang terkenal. Kekuasaan, kekayaan, kecantikan, bahkan kebebasan untuk menolak cinta seseorang ia punya saat itu. Dari situ pula, lahir agensi yang diprakarsai Nyi Sadikem: rumah besarnya menjadi penampungan perempuan-perempuan penyintas Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), termarjinalkan, dan perempuan miskin. Bagi saya, Nyi Sadikem seperti istilah yang dilontarkan Rosi Braidotti: ia telah menjadi mother, machines, dan sekaligus monster. Pada aspek mother, Nyi Sadikem menjadi ibu bagi anaknya, yakni anak Bondan. Lalu sebagai machines, ia berperan menjadi perempuan yang bekerja. Dan terakhir, sosok monster-nya bukanlah hal yang negatif, tetapi monster dalam artian bahwa Nyi Sadikem adalah perempuan yang berkuasa di atas laki-laki yang menjadi sasaran dendam sekaligus “klien”-nya.

Referensi:
– Lianawati, Ester. 2021. Ada Serigala Betina dalam Diri Perempuan. Yogyakarta: EA Books, hlm. 267.
– Alwisol. 2012. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press, hlm. 133-141.
– Lianawati, 2021, hlm. 155-156.
– Wolf, Naomi. 2023. Mitos Kecantikan. Yogyakarta: Akar Indonesia.
– Braidotti, Rosi. 1994. Nomadic Subject. New York: Columbia University Press.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top