Merapi

Beberapa hari yang lalu, tepatnya di hari Minggu, saat matahari mulai tergelincir di ufuk barat, aku mengunjungi Gunung Merapi. Sudah lama ia tidak meletus, aku takut ia kenapa-kenapa, mungkin ada banyak hal yang ingin ia ceritakan, tapi tidak ada yang mau mendengarkan. Aku takut, jikalau ia terlalu banyak diam, suatu saat akan terjadi letusan yang maha dahsyat.

“Wahai Merapi yang agung, bagaimana kabarmu?” Aku menyapa ramah dengan sisa napas yang masih berat, akibat lelah mendaki.

“Seperti biasa, aku baik.” Ia menjawab singkat.

“Hmm, sepertinya sedang banyak pikiran?” Tanyaku, sembari duduk dan meluruskan kaki.

“Jangan sok tau anak Adam, aku baik-baik saja. Hanya saja semenjak Mbah Marijan pergi, aku sedikit kesepian.”

“Benarkah itu Merapi? Tapi beliau pergi juga karean ulahmu!” Aku mencoba mendesak.

“Itu bukan urusanmu, Sudah to the point saja, kaudatang ke sini mau apa? Pesugihan?” ucap Merapi dengan spontan.

“Hahahaha, Merapi yang Agung, kau terlalu negatif thinking, seolah setiap manusia yang datang menemuimu adalah manusia serakah.”

“Memang begitulah faktanya, Para pendahulumu, dari zaman kerajaan kuno sampai Mataram, para raja yang sok bijaksana itu bahkan kacung-kacungnya, datang menemuiku, memujiku, merengek, membawakan banyak sesajen, melupakan Dewa dan Tuhan mereka, hanya agar mereka punya kekuasaan yang langgeng dan harta yang banyak. Jika tidak untuk mencari pesugihan, Lalu untuk apa kau datang kemari?” Merapi menatap penuh curiga. “Aku tahu sekarang, kau pasti sedang mencari pohon-pohon yang siap ditebang, atau meminta izin untuk menambang pasir di sekitar lerengku? dasar manusia serakah.”

“Semua dugaanmu salah Merapi yang agung. Aku tidak sebodoh itu, merusak alam, kemudian ketika ada bencana datang, malah menyalahkan alam”

“Lantas?” Dahi Merapi berkerut.

“Aku hanya ingin mendengarkan cerita, sudah lama aku ingin tahu tentang sejarah gunung-gunung di Pulau Jawa. Jika engkau tidak keberatan, aku dengan senang hati mendengarkan ceritamu”

“Hmmm, baru kali ini ada orang yang datang hanya ingin mendengarkan cerita. Karena aku sedang tidak sibuk, maka akan ku kabulkan permintaanmu.” Mendengar hal itu, aku pun merasa senang dan mulai antusias mendengarkan ceritanya. 

***

“Kita kembali ke ratusan tahun yang lalu, saat Pulau Jawa masih dikuasai oleh kaum raksasa pemakan manusia, pemimpin para raksasa tersebut bernama Prabu Dewata Cengkar. Setiap hari ia selalu memakan daging manusia, sehingga para penduduk sangat ketakutan. Suatu hari datang seorang pemuda bernama Aji Saka, konon ia memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni dan mempunyai keris pusaka yang sakti mandraguna.

Aji Saka yang memang suka berpetualang, mendapati kabar bahwa ada kerajaan di Pulau Jawa yang dipimpin raja yang zalim. Dengan semangat tinggi Aji Saka mendatangi kerajaan tersebut yang terletak di Jawa bagian timur. Sesampainya di sana, Aji Saka mendapati bahwa daerah tersebut tampak sepi cenderung mencekam, para penduduk sudah bersembunyi banyak juga yang memutuskan pergi entah ke mana agar tidak dimakan Prabu Dewata Cengkar. Hingga di suatu dusun, Aji Saka bertemu dengan beberapa penduduk, benar saja ia mendengar kisah bahwa Dewata Cengkar Sang Raja, sangat hobi menyantap daging manusia.

Tanpa pikir panjang, Aji Saka menemui Prabu Dewata Cengkar dan mencoba bernegosiasi, meminta Prabu Dewata Cengkar untuk berhenti memakan daging manusia. Namun negosiasi gagal, pertarungan sengit pun terjadi. Singkat cerita, Aji Saka berhasil mengalahkan Prabu Dewata Cengkar yang terkenal sakti, kini cengkraman Dewata Cengkar sudah hilang, para penduduk bisa hidup dalam damai.

Setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka melanjutkan perjalanannya ke arah utara. Mencari tempat untuk bertapa. Saat ia bertapa, sebuah pesan misterius datang kepadanya. 

Wahai Aji Saka, Bumi Jawa belum stabil, Gunung Krakatau di sebelah Barat terlalu besar, sehingga pulau jawa menjadi miring, kau harus memindahkan puncak Gunung Krakatau ke sebelah Timur, agar pulang jawa menjadi seimbang.

Tanpa berpikir panjang, Aji Saka langsung bergerak menuju barat, mencari Gunung Krakatau. Sampailah dia di antara pulau Jawa dan Sumatra. Di sana berdiri kokoh Gunung Krakatau yang agung. Aji saka bertapa, Ia meminta bantuan para Dewa untuk membawa puncak Krakatau ke Timur. Dewa Brahma yang mendengar Aji Saka berdoa, akhirnya turun tangan dengan mengajak Dewa Wisnu. Dewa Brahma menjelma menjadi Kura-kura raksasa dan Dewa Wisnu menjelma menjadi Ular Naga raksasa. Mereka membawa Gunung Krakatau dengan melilit puncaknya, kemudian ditaruh di atas pundak kura-kura jelmaan Dewa Brahma.

Aji Saka mengawal perjalanan para Dewa, karena terlalu besar, puing-puing puncak gunung Krakatau berhamburan, ada yang jatuh di daerah Jawa Barat, kini dikenal dengan Gunung Salak, Galunggung, Ciremai dan Papandayan, banyak Puing-puing juga jatuh di area jawa tengah, Gunung Slamet, Merbabu, Sindoro, Sumbing, termasuk aku (Merapi) dan gunung-gunung lain adalah bekas reruntuhan puncak Krakatau, Setelah melewati proses yang panjang, Puncak Gunung Krakatau diletakan di Kota Malang, kini dikenal dengan Gunung Semeru.” Merapi yang agung menghentikan ceritanya. Aku meresapi setiap tutur katanya. Dalam hati aku ingin bertanya “Apakah benar kisah tersebut? Apakah benar, leluhur orang jawa adalah raksasa pemakan manusia?” Tapi aku urungkan, biar kucari tahu sendiri. Kutengok lagi,  Merapi tiba-tiba sudah terlelap tidur.

***

Hari-hari berikutnya aku rutin mengunjungi Merapi, ia bercerita tentang bagaimana Ken Arok menggulingkan Tunggul Ametung. Hari berikutnya, ia bercerita tentang Raja Jayabaya dari Majapahit yang kemudian menjadi leluhur raja-raja di tanah Jawa, di hari yang lain, Merapi juga membocorkan tentang kisah Asmara Patih Gajah Mada dan putri Dyah Pitaloka dari Sunda. Dan yang tak kalah mengasyikan, Merapi mampu menceritakan sangat detail tentang dakwah wali songo di Tanah Jawa.

Hari ini aku kembali menghadap Merapi, siap mendengarkan cerita-cerita yang menarik. Angin bertiup cukup nyaman, mentari cukup bersahabat dengan bersembunyi di belakang para awan.

“Merapi-merapi, jangan tidur terus!” Aku berteriak,

“Hufftt… Anak ini lagi, mimpi apa aku semalam.” Merapi menggerutu.

“Hei Merapi yang Agung, tidak baik berkeluh kesah.”

“Iya iya, dasar bocah. Jangan sok menasehatiku. Apa lagi yang kau mau?”

“Emmm…aku mau mendengar kau meramal. Katanya kau jago dalam urusan meramal.” Tanyanya dengan antusias.

“Aduh, siapa lagi yang membuat gosip itu. Para manusia memang hobi mengarang cerita”

“Ayolah….”

“Baiklah, tapi setelah ini kau pergi ya?”

“Iya iya.” Aku duduk bersila dengan tangan menopang dagu.

“Aku ramal, di masa depan akan terjadi banyak bencana, banjir, tanah longsor, kelaparan.”

“Tunggu” Aku memotong, Merapi berkerut “Kenapa?”

“Memangnya kelaparan itu termasuk bencana?”

“Tentu, Kelaparan termasuk bencana sosial, salah satu penyebabnya adalah kemiskinan.”

“Kenapa orang bisa miskin?”

“Banyak faktornya, karena dia malas misal, atau karena hidupnya foya-foya, atau karena negara tidak bisa becus mengelola sumber daya alam, bisa juga karena banyak orang yang korupsi, tanya saja ke pak kades atau ke bupati, mereka lebih tahu itu.”

“Oke..oke, lanjutkan ceritamu.” Aku bersikap seperti raja yang menyuruh seorang mpu untuk bercerita. Merapi menghela napas, lalu melanjutkan ceritanya.

“Di masa depan aku meramal, manusia akan sulit mencari air bersih.”

“Lah kok bisa, di rumahku air meluap-luap, di sumur, di sungai, di sawah?”

“Bisa saja, mungkin mereka malas mencari, atau karena banyak hutan yang gundul, terus resapan air berkurang, mata air hilang, sungai-sungai mengering, jadi susah mencari air bersih. Ya bisa dilihat saja sekarang, hutan yang kita punya ini kebanyakan sudah berganti menjadi lahan. Pohon-pohon beringin kini berubah menjadi sawit”

“Hmmm… Masuk akal.” Aku manggut-manggut.

“Ya memang begitu, kamu di sekolah diajari apa sih? Masa kaya gitu saja tidak tahu.”

“Emm.., guruku jarang masuk kelas, sering pergi rapat katanya, jadi aku juga sering pergi ke kantin. Hehehe.” Kataku dengan cengengesan.

“Dasar bocah. Mau ku lanjutkan ceritanya?” Aku mengangguk.

“Di masa depan bumi akan penuh dengan sampah.”

“Kalau yang ini aku tahu.”

“Coba kenapa?” Tanya Merapi menyidik.

“Karena setiap hari manusia membuang sampah sembarangan, ke sungai, ke selokan, ke hutan, ke laut, ke mana-mana, sehingga bumi di masa depan pasti penuh sesak oleh sampah.”

“Cerdas!” Merapi memujiku, aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Ada lagi?”

“Sebentar..emmmm…” Merapi memutar otak, mencoba berpikir.

“Oh iya, Merapi yang agung, kau percaya tidak, kalau di masa depan kita akan punya pemimpin yang adil dan bijaksana, yang bisa mengatasi masalah-masalah di atas? Seperti ramalan Prabu Jayabaya.” Aku mencoba bertanya serius.

“Oh kalau yang itu, aku kurang yakin,” 

“Kenapa?”

“Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. sudah sore, sana pulang, terus ngaji, belajar yang bener. Jadi orang hebat. Cintai dan lindungi alam, supaya alam juga menjagamu!”

“Siap grak!” 

Azan ashar terdengar nyaring. Aku pergi dengan tergesa-gesa dari lereng Merapi, sambil bersiul, aku bertanya-tanya, “kenapa kita susah mendapatkan pemimpin yang adil, jujur dan bijaksana? Mungkin kau bisa membantu menemukan jawabannya.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top