
Halo pembaca bilfest.id, tidak terasa Mozaik Pekanan hadir kembali untuk menemanimu di akhir pekan. Semoga tulisan-tulisan yang telah tayang pekan ini, bisa menemanimu menjalani hari, termasuk Mozaik Pekanan dan Mozaik Kanon. Mozaik Pekanan kali ini adalah catatan dari redaksi untuk tulisan yang tayang dari tanggal 13-16 April 2026.
Tulisan yang tayang pekan ini, jika kita tarik benang merahnya, adalah tulisan tentang eksistensi yang terus dijaga. Pengupayaan penjagaan eksistensi itu seperti pelampung suar di laut lepas. Ia tidak tenggelam. Namun terombang-ambing di tengah luasnya kehidupan. Supaya tetap manjadi tanda. Baik batas wilayah peraiaran suatu negara atau untuk penanda para nahkoda.
Menjaga Eksistensi Ajaran Syekh Abdul Qodir Jaelani
Sebelum tahun 2022, jika kita membaca koran cetak Republika, kita akan menemukan rubrik Khazanah. Rubrik yang memuat tulisan tokoh-tokoh bangsa yang rata-rata bagian dari ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Namun koran itu sudah tidak ada versi cetaknya lagi.
Ketika kita membaca tulisan Rahmat Sumpeno yang berjudul “Min Ba’dhi Kompatriotnya Syekh Abdul Qodir Jailani”, kurang lebih gaya bahasa dan temanya seperti rubrik khazanah di koran Republika. Tulisannya semacam pengingat singkat, tentang kealpaan kita terhadap hal sepele, namun sering kita temui sehari-hari.
Melalui tulisan itulah, Rahmat Sumpeno kembali menjaga ajaran Syekh Abdul Qodir Jaelani. Terutama ajaran bagaimana “memandang” orang lain. Sudut pandang yang diajarakan adalah tetap mencari celah kebaikan. Menitik beratkan kebaikan meski sedebu. Menjaga eksistensi ajaran mencari celah kebaikan sebagaimana ajaran Syekh Abdul Qodir Jaelani di tengah samudra framing harus terus diupayakan. Ia berfungsi sebagai penanda yang harus dilihat oleh para nahkoda di samudera kehidupan ini.
Penulis Yang Menjaga Eksistensi Di Tengah Samudra AI
Meskipun Neo Amroni merupakan bos dari bilfest.id, tim redaksi tetap memiliki jarak, antara Neo sebagai Pimpinan Umum atau saat menjadi seorang penulis. Semua kita letakkan sesuai dengan proses tumbuhnya.
Dalam tulisannya kali ini, Neo Amroni memberikan sebuah “warning” kepada para penulis maupun orang yang berkarya dalam bidang lainnya. “Warning” ini dapat dilihat sebagai kepedulian terhadap sebuah proses. Dan seperti kita tahu, bahwa AI bagai pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa sebagai alat efektivitas bekerja. Namun di sisi lain bisa jadi alat pelemahan atas proses. Di mana proses yang panjang tidak hanya menjadikan hasil yang maksimal, namun juga membentuk mental si pengkarya.
Perupa Yang Menjaga Eksistensi Di Dunia Yang Asing Baginya
NZ Sapta adalah pekerja seni yang menulis. Bagi kami, adanya teman di bidang lain yang menulis adalah sebuah hadiah. Karena kami sebagai tim redaksi dan juga pembaca, akan mengetahui tentang dunia kreatif yang lain. Kita ketahui bersama bahwa Banyumas memiliki sejarah tentang seni rupa. Mooi Indie khas Sokaraja berkembang sejak era kolonial dan menjadi bahan sejarah yang masih di obrolkan.
Perihal tulisan NZ Sapta bagi kami adalah pantikan diskusi yang bisa diteruskan tidak hanya di warung kopi. Bisa sampai ke ruang akademik maupun jika kelak di Kota Satria ini lahir sebuah Galeri Seni yang menjadi magnet kekaryaan dalam seni rupa.
Tim redaksi tidak mau terlalu jauh masuk ke seni rupa. Kami sebagai -jika boleh disebut penikmat, akan tetap menjadi penikmat karya seni rupa. Bukan sekadar sebagai penghias dinding atau dekorasi. Lebih dari itu. Karena bagi kami, seni rupa bisa menjadi penanda sebuah perkembangan zaman. Jika diizinkan untuk bertanya, apakah mungkin di Banyumas dibangun ekosistem seni rupa yang ada industri kreatif yang menopangnya, dan saling menopang dengan industri kreatif lainnya? Sehingga akan lebih dari sekadar eksistensi, namun sustainabel.
Menjaga Eksistensi Ajaran Ketuhanan
Tim redaksi mencoba membedah tulisan Hanif Mustofa yang kali ini agak berbeda dengan tulisan-tulisanya sebelumnya.
Hanif dalam tulisannya melihat bagaimana keberadaan orang lain, dalam hal ini si pendaki yang difabel, berfungsi sebagai “cermin”. Tanpa adanya pihak “yang lain”, Hanif sebagai penulis mungkin tidak akan pernah mempertanyakan kualitas eksistensinya sendiri, sebagai manusia. Tulisan reflektif ini, mengajak pembaca untuk tidak hanya ada dalam kehidupan, tapi ada dengan menumbuhkan semangat dan harapan. Bukan oportunis namun optimis. Melihat sedikit celah potensi, lalu memaksimalkan hal itu. Sebagai eksistensi yang murni berbasis potensi.
***
Sebagaimana pelampung suar, upaya menjaga eksistensi di tengah samudra kehidupan harus terus diupayakan. Meskipun terombang-ambing, namun tetap berupaya terjaga. Kita harus tetap ada di bidang dan ruang masing-masing, supaya tetap bisa ada dan menjadi dan memberi makna.

dari Banyumas menyapa Indonesia




