
Munajat Jalanan memasuki tahun kelima (Munajat Jalanan 5), bukan sekadar angka melainkan sebagai pengalaman. Kegiatan ini dilaksanakan pada 26-27 Desember 2025 kemarin di PPRA Al-Ghozali Pakis Malang. Kegiatan ini masih dengan semangat yang sama; berkirim doa untuk sahabat dan kawan, dalam lautan maulid Nabi Muhammad Saw.
Ada sesuatu yang berubah ketika sebuah ikhtiar tidak lagi sibuk membuktikan keberadaannya, tetapi mulai sibuk mendengarkan denyut hidup yang melahirkannya. Tahun-tahun awal adalah masa bergerak, masa mencari bentuk, masa mencoba bertahan. Namun pada tahun kelima, Munajat Jalanan seperti berhenti sejenak bukan untuk diam, melainkan untuk sadar.
Kesadaran ini bukan kesadaran yang tiba-tiba tercerahkan. Ia pelan bahkan sangat ritmis, kadang tertatih, sering kali lahir dari kegagalan, kesalahpahaman, dan gesekan antar manusia yang sama-sama membawa niat baik namun dengan cara yang berbeda. Jalanan, sejak awal, memang tidak pernah menjanjikan kemulusan. Ia hanya menyediakan ruang; ruang bertemu, ruang berdoa, ruang berselisih, sekaligus ruang belajar berdamai (proses).
Dalam tradisi penciptaan, tahap kelima kerap dimaknai sebagai fase ketika makhluk mulai mengenali relasi. Ia sadar bahwa dirinya tidak berdiri sendiri (kesadaran tentang hablun). Ada yang lain, ada semesta, ada hukum-hukum tak tertulis yang mengikat perjumpaan. Pada fase inilah pondasi tidak lagi sekadar diletakkan, tetapi diuji: apakah ia cukup kuat menahan perbedaan, cukup lentur menghadapi perubahan, dan cukup jujur untuk mengakui keterbatasan.
Munajat Jalanan berada tepat di titik itu. Ia bukan lagi sekadar kegiatan rutin. Ia telah menjelma menjadi perjalanan batin bersama (suluk) sebuah laku yang menuntut kesadaran kolektif. Kesadaran bahwa jalan yang ditempuh bukan jalan pribadi, melainkan jalan yang dilalui bersama, dengan segala risiko saling melukai dan kemungkinan saling menguatkan.
Di sinilah satu petikan dari Pak Gus Irfan yang menemukan maknanya bahwa “di mana kita berada atau datang sudah menjadi pilihan Tuhan.” Kalimat ini tidak dimaksudkan untuk mematikan ikhtiar, melainkan meneguhkan sikap batin. Bahwa tidak semua hal perlu dipertanyakan asal-usulnya, tetapi semua hal perlu dipertanggungjawabkan kesadarannya. Jalan yang kita pijak boleh jadi bukan hasil pilihan sadar kita sepenuhnya, namun cara kita berjalan di atasnya adalah keputusan yang tak bisa diwakilkan.
Dalam khazanah spiritual, dikenal istilah salik: pejalan. Namun Munajat Jalanan memilih kata yang lebih membumi “jalanan”. Kata ini tidak disucikan, tidak dipoles, bahkan sering kali dianggap liar termarjinalkan. Tetapi justru di sanalah kejujurannya.
“Jalanan adalah ruang di mana spiritualitas tidak bersembunyi di balik simbol, melainkan berhadapan langsung dengan realitas: kemiskinan, kelelahan, ego, persahabatan, dan konflik yang tak selalu selesai dengan doa.”
Kesadaran sebagai tahap kelima menuntut Munajat Jalanan untuk membaca ulang dirinya sendiri. Membaca ulang relasi antarpelaku, membaca ulang niat yang kadang terseret kepentingan, membaca ulang romantisme kebersamaan yang bisa berubah menjadi kekecewaan jika tidak dikelola dengan jujur. Kesadaran bukan tentang merasa paling benar, tetapi tentang berani mengakui bahwa kita sama-sama rapuh.
Di sinilah, jalan tidak lagi dipahami sebagai lintasan fisik semata, melainkan sebagai ruang etika. Setiap langkah mengandung konsekuensi, setiap pilihan membawa gema. Di jalanan, tidak ada jarak aman antara niat dan dampak. Apa yang diucapkan segera berhadapan dengan respons, apa yang dilakukan segera bersua dengan penilaian. Jalanan memaksa spiritualitas untuk turun ke tanah, menyentuh kenyataan, dan menerima akibatnya.
Kerukunan yang menjadi pegangan, dalam pengalaman Munajat Jalanan, tidak pernah lahir dari kesamaan latar belakang. Ia justru tumbuh dari perjumpaan yang canggung, dari percakapan yang tidak selalu sepakat, dari kelelahan yang dipikul bersama. Kerukunan adalah laku menahan diri; menahan ego untuk tidak menang sendiri, menahan lidah untuk tidak melukai, menahan kecewa agar tidak menjelma menjadi prasangka.
Komitmen, di sisi lain, sering kali diuji bukan oleh musuh di luar, melainkan oleh kebosanan di dalam. Tahun-tahun awal memberi semangat, memberi euforia kebersamaan. Namun seiring waktu, yang tersisa adalah rutinitas dan tanggung jawab. Pada fase inilah banyak perjalanan berhenti. Munajat Jalanan memilih bertahan, meski dengan langkah yang tidak selalu mantap. Bertahan bukan karena merasa paling benar, tetapi karena menyadari bahwa jalan ini telah menjadi ruang belajar bersama.
Kekompakan pun tidak lagi dimaknai sebagai keseragaman. Ia justru lahir dari kepercayaan: bahwa perbedaan pandangan tidak otomatis mengancam tujuan, dan perbedaan cara tidak selalu menandakan perpecahan. Kekompakan adalah kesediaan untuk saling menjaga niat, bahkan ketika langkah masing-masing tidak selalu seirama.
Munajat Jalanan juga belajar bahwa konflik bukan tanda kegagalan spiritual. Ia justru penanda bahwa kehidupan benar-benar terjadi. Yang menentukan bukan ada atau tidaknya konflik, melainkan bagaimana konflik itu dihadapi. Apakah ia diolah menjadi kedewasaan, atau dibiarkan membusuk menjadi dendam yang diam-diam menggerogoti kebersamaan.
Di jalanan, doa tidak selalu khusyuk. Ia sering terganggu oleh suara kendaraan, oleh pandangan orang lalu-lalang, oleh pikiran yang melompat ke mana-mana. Namun justru di situlah kejujuran diuji. Apakah doa hanya sah ketika sunyi, ataukah ia tetap bernilai ketika diucapkan di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Munajat Jalanan memilih yang kedua: bahwa doa harus cukup kuat untuk hidup di mana saja.
Kesadaran tahap kelima juga mengajarkan pentingnya merawat pondasi. Pondasi bukan sekadar kesepakatan awal atau aturan tertulis. Ia adalah kepercayaan yang dibangun dari konsistensi, dari kesediaan hadir, dari keberanian meminta maaf dan memaafkan. Pondasi yang kuat tidak membuat bangunan kaku, tetapi justru membuatnya lentur menghadapi guncangan.
Ada saat-saat ketika Munajat Jalanan harus berhadapan dengan kelelahan kolektif. Saat di mana semangat menurun, partisipasi menyusut, dan pertanyaan tentang makna mulai muncul. Pada momen-momen seperti itulah kesadaran diuji paling dalam. Apakah perjalanan ini dilanjutkan karena kebiasaan, atau karena keyakinan bahwa ia masih relevan sebagai ruang tumbuh bersama.
Ungkapan “bahwa tempat kita berdiri hari ini adalah pilihan Tuhan” sejatinya membentuk kesadaran menuju sikap rendah hati. Bahwa mungkin kita tidak sepenuhnya mengerti mengapa dipertemukan dalam ruang dan waktu tertentu, tetapi kita diberi kebebasan untuk memilih sikap. Kesadaran inilah yang meneguhkan langkah, bahkan ketika arah tidak selalu jelas.
Dalam ruang cinta lintas dimensi (meminjam istilah dari Pak Gus Taqin) bukan tentang mencapai tujuan tertentu. Ia tentang menjaga perjalanan agar tetap bermakna. Tentang memastikan bahwa setiap langkah diambil dengan kesadaran, setiap perjumpaan diperlakukan dengan hormat, dan setiap perbedaan dihadapi dengan kelapangan.
Jalanan akan selalu berubah. Kota bergerak, manusia berganti, situasi bergeser. Namun kesadaran yang terlatih akan mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah. Pada tahun kelima ini, Munajat Jalanan tidak sedang mencari pengakuan, tidak pula mengejar kesempurnaan. Ia sedang belajar setia pada proses.
Kesetiaan pada proses bukanlah kesetiaan buta. Ia kesetiaan yang terus bertanya, terus mengoreksi, dan terus membuka diri pada kemungkinan tumbuh. Jalan yang disadari adalah jalan yang tidak takut pada perubahan, karena ia tahu bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan.
Seperti jalanan itu sendiri, Munajat Jalanan tidak pernah steril. Ia menyerap debu, menerima hujan, menahan panas, dan kadang retak tanpa sempat diperbaiki. Tetapi barangkali di sanalah keutuhannya. Bahwa spiritualitas tidak harus bersih dari luka, dan kesadaran tidak harus lahir dari kemenangan. Ia cukup jujur untuk mengakui perjalanan, dan cukup rendah hati untuk terus belajar berjalan.
Pada tahun kelima ini, Munajat Jalanan meneguhkan niat untuk tetap berjalan dengan sadar, bersama, dan bertanggung jawab atas setiap langkah. Karena pada akhirnya, jalan apa pun yang kita tempuh, yang paling menentukan bukan dari mana kita datang, melainkan bagaimana kesadaran menuntun kita untuk tetap rukun, berkomitmen, dan kompak, tanpa kehilangan kemanusiaan. Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari jalan, salik, dan jalanan bertemu: bukan pada seberapa jauh kita melangkah, tetapi pada seberapa jujur kita hadir di setiap pijakan.
Kalaupun harus ada titik baliknya dalam Munajat Jalanan, maka penanda itu bukanlah keberhasilan atau kegagalan. Ia adalah kesadaran. Kesadaran bahwa perjalanan ini tidak dibangun di atas heroisme individu, melainkan di atas kesediaan untuk terus belajar menjadi manusia bersama manusia lain. Kesadaran bahwa tidak semua hal harus disepakati, namun semua perbedaan perlu dirawat agar tidak berubah menjadi jurang.
Kesadaran juga mengajarkan bahwa pondasi bukan sesuatu yang selesai diletakkan. Ia harus terus diperiksa, dirawat, dan diperkuat. Pondasi yang dibiarkan tanpa perhatian akan rapuh oleh waktu, sementara pondasi yang dirawat dengan kesadaran akan menua dengan kebijaksanaan. Munajat Jalanan memilih yang kedua; menua bersama proses, bukan berhenti karena lelah.
Dalam perjalanan ini, mungkin ada yang datang dan pergi. Ada yang memilih tetap berjalan, ada pula yang berhenti di persimpangan. Semua itu bukan kehilangan, melainkan dinamika. Jalanan memang tidak pernah menjanjikan kepastian jumlah, hanya kejujuran niat. Dan kejujuran itulah yang menjaga Munajat Jalanan tetap hidup, meski bentuknya bisa terus berubah. Pada titik ini adalah tentang peneguhan arah. Bahwa Munajat Jalanan akan terus berjalan sebagai ruang kesadaran; sadar akan asal-usulnya, sadar akan keterbatasannya, dan sadar akan tanggung jawabnya. Tanggung jawab untuk tetap rukun tanpa mematikan perbedaan, berkomitmen tanpa membelenggu kebebasan, dan kompak tanpa kehilangan daya kritis.
Sekali lagi, Munajat Jalanan tidak sedang berlomba mencapai tujuan tertentu. Ia sedang menjaga agar perjalanan ini tetap layak dijalani. Dengan kesadaran sebagai bekal, kerukunan sebagai laku, komitmen sebagai sikap, dan kekompakan sebagai buah yang tumbuh perlahan.
Dan jika suatu hari langkah ini harus berhenti, semoga ia berhenti dalam keadaan sadar, bahwa ia pernah menjadi jalan bagi banyak hati untuk belajar berjalan bersama. Namun selama kesadaran itu masih hidup, Munajat Jalanan akan tetap menemukan jalannya; di mana pun Tuhan memilihkan tempat, dan kapan pun kesadaran memanggil untuk kembali melangkah.
Ahmad Dahri adalah seorang pegiat budaya kelahiran Malang. Saat ini, ia aktif berkontribusi di beberapa kolektif dan lembaga riset, di antaranya Republik Gubuk, Muktilaku, Pancasuma, dan Neras Suara Institute. Bisa disapa lewat Instagram @a.dahri01.




