Ode Anjing Ciputat dan Puisi Lainnya

Hujan Akhir Januari

airmata merah meringkuk di sela hujan.
tubuh lunak, manis racun yang menggantung di bibir
dalam kata-katamu, menembus tirai senyap
dengan anugerah yang membutakan kau merayap
di sepanjang jalan raya, jiwamu merunduk
seperti anjing-anjing lapar.

quo vadis.

manis hujan dan pembekuannya?
anjing-anjing liar ditenggelamkan kelaparan.
tubuh lunak berdering halus di antara udara
sambil mengunyah airmata—
kesombongan yang meremukkan wajahmu, dan
bayangmu mengeras dalam birahi ketakutan,
atau tubuh lunakmu meringkuk, tertidur, di atas
kursi kayu.

airmata merah meringkuk di sela hujan
dan anjing-anjing lapar diperdaya oleh
gongongan kemukjizatan.

quo vadis?

2023

***

Gusti, Aku Di sini
: buat Hafiazuh

di depan cermin itu, gusti
bayanganku mogok bicara

rambu-rambu itu, apa
jebakan? aku jatuh ke
dalamnya karena bumi
ingin menampung

tapi anak-anakku tidur dengan
mata terbuka, dan mengigau
wajah sejarah dari retak pribumi
atau udara yang membawa
serbuk kapur dan
nama yang disembunyikan

hmm… meski aku hentikan bicara
entah mengapa
suara yang patah bisa berdarah

di bawah kulitku ada sungai kecil
yang belum mencapai laut
meski terus berpendar, membawa
serpihan huruf, dan tak pernah selesai

buset! bagaimana mungkin doa tertukar?
seseorang ingin hidup, seseorang
ingin diam, seseorang ingin pergi
di tengah rapat keluarga

setiap malam anak-anak menulis
sistem udara dengan bahasa
yang kehilangan realisme

dan di luar jendela, lampu-lampu
ideologi berkedip, mengingatkan sesuatu
yang muskil diingat

tapi apa artinya metafora
yang berhenti di tenggorokan
atau yang menggantung di antara
wacana itu, gusti?

aih! rambu-rambu itu
jebakan? dan lantai memantulkan
bayangan nama

di depan cermin itu
bayanganku mogok bicara

2025

***

Ode Anjing Ciputat

bang bang wus rahina
srengengene muncul
sunar sumamburat

anjing menggonggong dari kerlip bulan perak yang sakit hati, menelanjangi mata lapar-asing, tujuh-sembilan lagu menghela gamang sejarah dan masa depan pada genetika jihad dan penghianatan, menerjang polusi dan macet, dan yang terjebak di antara peristiwa berjubah caci-maki yang ironi, dan meneguk duka yang muskil dicerna oleh otak pengutuk. anjing menggonggong membentang hujan anugerah dan ayat yang membara, ucapan mendadak bertanya tanya pada kekacauan pragmatisme ide yang enggan mekar sebagai dirinya, dan keperkasaan yang memperkenalkan auranya sebagai hiasan malam yang dicuri budaya matahari seperti tak merasakan fana dan di sekujur kakinya. anjing menggonggong memanjati tebing cahaya untuk menggerayangi udara yang terbakar, dan membenturkan dirinya kepada peradaban, tanpa dapat memetik hikmah yang dijanjikannya mata kebenaran, dan hanya sebagian keluh yang memuakkan sebagai penerimaan kenyataan sebuah kehidupan.

anjing menggonggong
tapi hidup dan mati, apakah kosong?

suara kegilaan dan erang nasihat terjebak di firman bulan perak yang gelap-kelabu, yang bertahan hanyalah rongsok besi dan aspal jelek di antara kenyataan, di batas kesabaran dalam kesadaran impulsivitas yang sobek dan ruwet, dan menghabisi diri dalam kematian amarah yang suci.

anjing menggonggong di bawah bulan
perak, dan ciputat bergelimpangan kegelapan?

a
n
j
i
n
g

menggonggong di bawah bulan perak
yang serak dan sesak
dan samar-samar
cahaya-gelap pudar.

bang bang wus rahina
srengengene muncul
sunar sumamburat

anjing menggonggong
hidup dan mati, apakah kosong?

Tangsel, 2025

***

Pulang Kampung

bengawan solo
riwayatmu kini?

udara sepanjang bentuk keris
di sungai itu, priyai dan santri
membelah manis, di jembatan bacem
mewujud palu dan patahan arit.
padi dan kemakmuran–seteguh
mataram dan pecahan giyanti–
menyelinap ke sela gigi bungsu
dan longlongan ha-na-ca-ra-ka
histeris-menganga dalam sebutir sekaten
dan beratus jihad yang terburu-buru.

udara sepanjang songgorunggi
–yang berbau jamu–terbesit kain putih
dan matahari merah delima, tongak
peradaban sripaduka, dan orang susah.
tiga hektar ladang tebu
–berwajah pemberontakan,
membelah mitos-mitos kejayaan.
kerinduan bermata kemiskinan
kenyang mengunyah kesepian
hinga tak berdaya.

itu perahu
riwayatnya dulu?

udara sepanjang rintihan
kawula dan gusti, dan
matahari ringkih menagih airmata
dari sungai darah itu
dan mimpi ha-na-ca-ra-ka
yang dikejar anakanak di sawah
pada senja akhir bulan itu, berkata:

mengapa ada ibu
meninggalkan rumah
menuju jakarta?

bengawan solo
riwayatmu kini

udara sepanjang sukoharjo
di sungai itu, komunis dan teroris
membelah katakata, di puskesmas
menjelma benci dan cinta yang dungu.
sejarah dan masa depan—selembut kembang
desa dan kelaparan—menggeliat tenang
dan racauan da-ta-sa-wa-la
histeris-menganga dalam bibir toleransi
dan hanya termenung, memetik api.

bengawan solo
sedari dulu jadi
perhatian insani

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top