Senja di Bawah Pohon Mangga, Midori Merayakan “Kaki Matahari”

Ruang terbuka di bawah pohon mangga, sudut nyaman di kafé Coffee at Home, berkumpul beberapa anak muda yang membincangkan karya sastra dari Komunitas Dua-Belas Pena (DBP). Komunitas ini beranggotakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (PBSI UMP). Komunitas tersebut telah menerbitkan buku kumpulan puisi dari anggotanya. Selain mahasiswa PBSI angkatan 2022 juga ada penulis tamu yang mengisi “Kaki Matahari” –judul antologi puisi yang mereka tulis. Sebut saja Abdul Wachid B.S., Akmad Fauzan, Edi Romadhon, Iik Hikmandari, Jabrohim, Heru Kurniawan, Jarot C. Setyoko dll.  

Salah satu karya sastra adalah puisi. Di Sabtu sore (12/7) itulah Midori Institute mengadakan diskusi sastra dan bedah buku “Kaki Matahari”. Diskusi tersebut bernama “daras kertas ke #1 dengan tema: Kaki Matahari dari Komunitas ke Karya”.

Buku yang diterbitkan oleh Selat Media tahun 2025 tersebut diberi pengantar oleh Akhmad Fauzan selaku Ketua Program Studi PBSI UMP. Sebagai editor adalah Ilham Rabbani selaku pembina Komunitas Sastra Dua-Belas Pena dan Eko Muharudin. Dalam diskusi tersebut, hadir dari berbagai komunitas literasi, sastra, mahasiswa maupun individu yang bergelut di dunia sastra serta literasi.

Sebagai pembedah karya, Midori Institute menghadirkan Iqbal H. Saputra. Ia adalah Founder Yayasan Pusat Studi Kebudayaan Belitong, sekaligus Ketua Dewan Kesenian Belitong. Dan Ilham Rabbani yang menjadi pemantik dalam diskusi sore itu.

Setelah Umi Rosiatul Mukaromah memandu peserta untuk membuka acara, Hatindriya Hangganararas selaku Ketua Midori Institute memberikan sambutan. Dalam sambutanya –Raras nama panggilannya— menyampaikan terima kasih kepada pembedah dan seluruh peserta yang hadir. Juga mengucapkan terima kasih kepada owner kafé Coffe at Home yang telah mengizinkan sudut kafenya untuk diskusi ini. Ia menyampaikan bahwa Midori awalnya adalah toko buku, yaitu Midori Book yang berbasis di Purwokerto. Setelah Raras menyampaikan sambutannya, dilanjutkan dengan sambutan dari Iik Hikmandari, selaku owner kafé.

Dalam suasana yang sudah cair sejak awal, Iik Hikmandari sudah dianggap ibu bagi beberapa pegiat literasi di Purwokerto. Bahkan ada celetukan sebagai “Bunda Literasi”. Meskipun Ia menolaknya. Ia merasa tidak pantas. Padahal kafé yang Ia dirikan, sangat mendukung iklim peningkatan literasi yang ada di Purwokerto, umumnya di Banyumas dan sekitarnya. Dari buku-buku berkualitas yang dipajang untuk dibaca para pengunjung, hingga pengadaan buku-buku berkualitas. Termasuk beliau selalu update buku yang disukai penggunjung. Termasuk buku-buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa, sampai buku karya tokoh sastra perempuan S. Rukiyah. Selain itu, dalam sambutannya beliau juga menyampaikan tentang aktivitas literasi di kafé miliknya, yaitu Prapen Puisi, yang sudah berjalan kali ke 3 bulan Juni lalu. Beliau menyampaikan bahwa 2 tahun kafé literasi ini berdiri adalah secuil kontribusinya untuk literasi di Purwokerto. “Sudah pantaslah beliau disebut Bunda Literasinya Purwokerto”, celetuk salah satu peserta, yang diikuti tawa yang seolah mengaminkan gelar tersebut disandang oleh Bu Iik.

Hingga acara yang ditunggu akhirnya dimulai. Selaku pemantik Ilham Rabbani mengawali dengan memperkenalkan Iqbal H. Saputra –selaku pembedah buku— tentang perjalanan kesusastraanya. Diawali dari Iqbal menginisiasi komunitas “Lawang Abang” saat masih kuliah di Yogya pada tahun 2007. Nama “Lawang Abang” yang artinya pintu berwarna merah merupakan kamar kos yang ditempati oleh Iqbal saat masih menjadi mahasiswa. Hingga nama tersebut menjadi sebuah komunitas untuknya belajar sastra luar kampus bersama teman-temannya. Dari kamar kos daerah Jln. Pramuka Kota Yogya itulah, pemikiran sastra Iqbal dimulai. Setelah itu, Iqbal menginisiasi “Jejak Imaji”, komunitas sastra yang sampai hari ini masih aktif di Yogya sejak tahun 2014.

Setelah Ilham Rabbani memperkenalkan pembedah, Ia melanjutkan dengan pertanyaan kenapa penulis itu sebaiknya berkomunitas dan fungsi komunitas bagi seorang penulis atau pegiat literasi itu seperti apa?

Iqbal mengatakan bahwa dalam perspektif masyarakat timur, secara antropologi masyarakat kita masih membutuhkan proses kreatif secara komunal. Dimulai dari saling bercerita dan bertukar pikiran akan mengasah proses kreatif bagi seorang penulis atau siapapun yang ingin berkarya. Ia juga menceritakan tentang masyarakat kita sejak zaman dahulu yang sering bercengkerama di Langgar –musholla— setelah sholat berjamaah, dan akhirnya melahirkan sebuah gerakan yang besar serta berdampak untuk masyarakat. Ia juga menambahkan tidak hanya masyarakat kita, bahkan tradisi kesusastraan di Eropa juga ada yang berangkat dari diskusi dan obrolan di café-café, rumah, kebun dan perpustakaan. Meskipun itu hanya salah satu metode saja. Karena memang ada penulis atau orang yang berkarya mampu berproses secara individu. Ia juga menambahkan mengapa memilih berkomunitas karena ada dendam terhadap kaum intelektual kampus. Mereka tidak menyediakan bahan bacaan yang representative untuk mahasiswa. Lalu Ia mempertanyakan bagaimana nanti kami meneliti dan mengabdikan dirinya selepas kuliah kepada masyarakat? Hal itulah yang memantik, akhirnya Ia membuat sendiri iklim belajar. Salah satunya adalah dengan metode Puasa Daud –menghemat supaya uang sakunya bisa untuk membeli buku-buku yang Ia butuhkan dan inginkan.

Dalam diskusi yang berlangsung khusuk, Iqbal menyampaikan beberapa kritik terhadap buku “Kaki Matahari”. Diawali dari bertanya kenapa memilih kata “Kaki” untuk membuat metafora yang menjadi judul antologi puisi karya mahasiswa PBSI UMP ini. Mengapa tidak memilih kata “Sulur” untuk menggambarkan sinar matahari? Bukankah itu lebih bisa menembus apa yang di bawahnya. Dan jika “Kaki” yang dimaksud adalah kader-kader Muhammadiyah, Ia mengatakan, “kan kalau kaki melangkah bisa lelah, bisa juga tersandung?”. Selain itu Ia juga memberikan pandangannya tentang menulis puisi itu, “jangan mubadzir kata”, meskipun itu akan memperjelas bagi pembaca. Namun jangan sampai sebagai penulis puisi, kita mengekang imajinasi pembaca. Biarkan pembaca memiliki imajinasi sendiri atas sebuah karya yang dibaca tanpa intervensi kesimpulan dari penulisnya.

Selain itu, Ia juga memberikan pesan kepada para penulis generasi muda tentang prinsip proses berkarya. Yang hasil akhirnya akan tersemat pada diri pencipta karya, entah itu sastrawan, penulis, perupa atau apapun itu. Yaitu estetika dan etika. Karena tidak hanya menciptakan karya tetapi tentang etika yang menjadi laku dalam kehidupan sehari-hari. Harus tetap menjaga moral, sebagai bentuk tanggung jawab atas keilmuan yang dipelajari di tengah masyarakat. Karena proses kreatif itu menurut Iqbal yang Ia kutip dari W.S. Rendra adalah membangkitkan semua fungsi panca indra dan juga nurani, serta empati.  

Selain berdiskusi tentang isi buku, dalam suasana yang diselingi tawa juga membahas tentang ruang-ruang literasi yang mulai tumbuh lagi di Banyumas Raya. Dan menurut Iqbal tidak ada sentralisasi dalam aktivasi sastra. Semua bisa melakukan aktivasinya. Termasuk di Purwokerto dan kota-kota kecil lainnya. Tidak hanya Yogya, Solo atau Jakarta. Karena dengan komunal support atau gerakan-gerakan komunitas kecil yang didukung oleh pemerintah atau government support serta melibatkan commercial support, akan menumbuhkan iklim literasi yang baik. “Kita jangan anti-anti bangetlah dengan industri, karena sebenarnya industri dan komunitas bisa saling berkolaborasi”, tuturnya.

Ia juga berpesan untuk para generasi muda Banyumas dan sekitarnya untuk mengambil peran sebagai local champion dalam memajukan iklim kreativitas. Bukan untuk cari muka, tetapi memanfaatkan dan memaksimalkan ruang-ruang yang ada untuk proses kreatif dan berkarya. Red.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top