Sisipus Sepenuhnya Bahagia dan Puisi Lainnya

Sisipus Sepenuhnya Bahagia

Antreanku dipanggil
tepat setelah aku pulang.

Badanku menggigil.
Jaketku berlubang.

Tetapi langkah
tetap berdesak-desakan.

Satu per satu
menghilang
di gangnya masing-masing

Rumahku
pindah alamat.

***

Bapak

Aku tidak tahu.
Harus menuliskannya
seperti apa.

Yang aku tahu
Ia hanya menghafalkan keberanianku
lebih dulu daripada aku.

Maka setiap kali awan gelap
merambat
ia menerjemahkan rasa
menjadi dering telepon
yang tak henti bersuara.

***

Bapak dan Pohon Jati

Tanah tak pernah benar-benar lupa

pada batu yang lebih dulu menjadi dirinya.

Dan, nanti, bapak
membiarkan senyumnya pulang
pada langit
Jalanan
yang ia buka perlahan
dengan parang-parang mimpi
juga tebasan doa
hingga langkah kecil ini
menapak
jalan yang pernah jati.

***

(Be)Ban

Kendaraan ini berdiam
di ujung jalan
sebelum mencapai tempat tujuan.

Di sekitarnya,
pepohonan gersang.

Maka kutinggalkan ia
mencari air
lalu aku akan kembali,
mungkin.

Telapak kakiku yang mulai memanas
memelankan pelarian.
Tak ada oasis.
berbalik,

Kutemukan lagi, kendaraan itu
penyok di mana-mana,
bahan bakarnya habis,
bannya mengempis,

Dan aku harus memperbaikinya
sendiri.

***

Toksin

Tangan ini terbakar.
Diguyurnya lagi
dengan air comberan.
Setidaknya api itu padam.

Biarlah bau-bauan itu
menjadi penanda.
Busuk,
meracuni tulang belulangnya.
potong saja.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top