Festival dan Ekologi Sastra Banyumas Baru

Tidak sengaja membaca esai Bayu Suta Wardianto “Mencari Celah Tumbuh dan Berkembangnya Sastra di Kampus Banyumas” serta esai Abdul Wachid B.S. “Ekologi Sastra di Banyumas: Model Serayu”, tampak jelas bahwa pemetaan dinamika sastra Banyumas tidak pernah bersifat stagnan. Bayu Suta Wardianto berhasil melacak bagaimana rahim kampus (seperti UNSOED, UMP, dan UIN Saizu) dan jejaring komunitas (seperti Komunitas Penyair Institut maupun Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban/SKSP) menjadi celah tumbuh generasi baru. Di sisi lain, Abdul Wachid B.S. menyempurnakan pembacaan tersebut melalui perspektif Ekologi Sastra Banyumas—Model Serayu (ESB-MS), yang menegaskan bahwa sastra Banyumas merupakan ekologi yang saling berhubungan antarlapisan: hulu budaya lisan/rakyat, media cetak, pesantren, simpul kampus/komunitas, teater, hingga ruang digital. 

Kedua pandangan akademik di atas sangat ampuh dalam menjelaskan bagaimana teks, gagasan, dan generasi penulis diproduksi serta didistribusikan dalam skala komunal maupun institusional. Namun, memasuki dekade ini, muncul satu pertanyaan krusial: melalui medium dan infrastruktur kebudayaan seperti apa seluruh jaringan ekologi ini dapat bertemu secara meriah, inklusif, dan melintasi batas-batas geografi serta generasi?

Jika esai Bayu Suta Wardianto menekankan ruang kelas dan komunitas, serta Abdul Wachid B.S. menekankan keterhubungan antarlapisan waktu dan medium, maka saya mengajukan pandangan untuk menjadi diskursus, gerakan festival seperti BIL Fest dapat dibaca sebagai wahana pertemuan fisik dan transformatif dari seluruh unsur ekologi tersebut. 

Festival tidak hadir sekadar sebagai agenda tahunan atau hiasan seremonial, melainkan berfungsi sebagai infrastruktur kultural baru. Melalui format festival, ekologi sastra yang mulanya berada di ruang-ruang terpisah—kampus yang akademis, pesantren yang sunyi, komunitas yang bersifat melingkar, serta budaya rakyat yang tersebar—ditarik ke dalam satu panggung publik yang terbuka dan setara.

Pertama, Memerdekakan Sastra dari Dinding Kampus

Sebagaimana disinyalir oleh Bayu Suta Wardianto, ada kekhawatiran bahwa kampus dapat berubah menjadi “pabrik ijazah” yang mempersempit celah tumbuhnya sastra. Format festival yang digagas BIL Fest memecah kecenderungan eksklusif tersebut. Karya, naskah, dan diskusi yang semula mendekam di ruang kelas UNSOED, UMP, atau UIN Saizu kini dialirkan ke panggung terbuka tempat masyarakat umum, anak sekolah, hingga wisatawan dapat berdialog langsung dengan para akademisi dan penulis. 

Kedua, Perwujudan Konkret Metafora Serayu

Dalam model ESB-MS karangan Abdul Wachid B.S., sungai Serayu dibentuk oleh anak-anak sungai yang membawa ingatan lokal, kesenian rakyat, dan tutur Penginyongan. BIL Fest menjadi wadah pertemuan hulu dan hilir tersebut. Di panggung festival, pembacaan puisi modern dan diskusi buku bereputasi internasional berdampingan secara alami dengan tradisi lisan, musik etnik, tema dengan bahasa lokal seperti (temenan dan selamet). Bahasa Penginyongan yang mendasari substruktur sosial masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek kajian akademik, melainkan diucapkan, dirayakan, dan diuji langsung di hadapan publik lintas budaya. 

Ketiga, Perluasan Modal Kultural dan Legitimasi Publik

Mengutip Pierre Bourdieu (The Field of Cultural Production) yang dirujuk oleh Wachid, produksi kebudayaan membutuhkan medan hubungan antara pengarang, pembaca, penerbit, dan legitimasi. Format festival memperluas field ini secara signifikan. 

Bayu Suta Wardianto menutup esainya dengan pernyataan bahwa pergerakan sastra di Banyumas belum selesai dan bahwa peta yang ia buat hanyalah peta kasar dari arus yang terus bergerak. Sejalan dengan itu, menurut saya kehadiran BIL Fest membuktikan bahwa arus tersebut kini melaju semakin kencang melalui akselerasi regenerasi salah satunya dengan program Inkubasi Penulis Banyumas. 

Di dalam ekologi sastra modern, festival literasi memainkan beberapa fungsi strategis untuk menambahi analisis kedua akademisi:

Pertama, Situs Silang Generasi (Intergenerational Cross-over):
Dalam BIL Fest, mpu sastra Banyumas seperti Ahmad Tohari atau sosok penyair-akademisi seperti Abdul Wachid B.S. tidak ditempatkan sebagai “mitos yang tak terjangkau”, melainkan duduk dalam satu gelanggang bersama para penulis muda potensial. Festival memangkas hierarki dan memfasilitasi transfer pengetahuan secara organik. 

Kedua, Integrasi Ruang Digital dan Material:
Abdul Wachid B.S mencatat bahwa lapisan keempat ESB-MS adalah ruang digital, tempat produksi dan sirkulasi karya mengalami percepatan. BIL Fest memanfaatkan ruang digital (media sosial, dokumentasi terarsip, serta jejaring internasional) untuk menyebarkan gaung peristiwa sastra lokal ke tataran global. Namun pada saat yang sama, festival mempertahankan kehangatan perjumpaan fisik (presence) yang menjadi kekuatan utama komunitas sastra. 

Ketiga, Lokalitas yang Berdialog Internasional:
Penggunaan nama “Banyumas International Literacy Festival” mengisyaratkan keberanian politik kebudayaan. Lokalitas Banyumas—dengan akar dialek Penginyongan, cerita pedesaan, dan sejarah kebudayaannya—tidak diisolasikan sebagai folklor eksotis, melainkan didialogkan dengan diskursus literasi global.

Kehadiran format festival seperti yang diusung oleh BIL Fest merupakan kelanjutan logis sekaligus bentuk akselerasi dari ekologi tersebut. Festival adalah ruang tempat sungai Serayu itu bermuara sementara waktu—sebuah telaga perjumpaan tempat air dari kampus, pesantren, media, pasar, panggung teater, dan ruang digital bercampur menjadi satu gelombang kebudayaan yang dinamis. 

Selama celah-celah di kampus terus dirawat, ekologi sosial masyarakat terus dijaga, dan ruang-ruang festival seperti BIL Fest terus diberi napas untuk mengumpulkan arus-arus tersebut, sastra Banyumas tidak akan pernah kekeringan air. Ia akan terus mengalir, membawa bunyi bahasa Penginyongan dan ingatan manusianya, menjelajahi zaman yang terus berubah. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top