Karhutla yang Serutin Rapat Kabinet Terbatas

Ilustrasi: Listyo Widodo | Ekstraktif, Hutang Klasik Nan Destruktif
Dalam gambar ada kesalahan nama. Seharusnya Listyo Widodo.

Hari ini, Presiden RI memimpin rapat soal Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan). Ini rapat rutin. Atau sudah menjadi rutin karena hutan dan lahan tetap terbakar. Dan, karenanya rapat terus menerus diadakan. 

Kita tidak tahu apa yang dibicarakan dalam rapat ini. Karena tidak ada kamera dan mic, kita tidak tahu ide-ide cemerlang apalagi yang muncul dari pikiran Bapak Presiden setelah mendapat laporan. Kemarin itu, dia diberitahu soal tepung untuk memadamkan kebakaran. Dan, jadilah dia suruh produksi massal. 

Soal Karhutla ini memang sudah membuat para elit kita hilang akal. Oh, sebenarnya tidak hilang akal. Mungkin saja mereka pura-pura hilang akal. Pura-pura kerja. Mereka pun tahu bahwa kebakaran hutan dan lahan itu perlu. 

Hasil penelitian sebuah organisasi masyarakat sipil bernama Pantau Gambut memperlihatkan bahwa 54 persen dari hutan yang terbakar antara 2015-2025 menjadi perkebunan sawit dan akasia. 41 persen menjadi belukar. Hanya tiga persen yang benar-benar kembali menjadi hutan.  

Dan tentu kita tidak lupa, presiden yang sama ini, ketika awal kekuasaannya pernah mengatakan bahwa sawit juga pohon. Dia mengeluarkan oksigen. Ambisinya adalah membuat negeri ini mandiri secara energi karena sawit bisa dipakai sebagai minyak diesel. 

Maka mulailah program B10, B30, B50, dan seterusnya. Ini adalah campuran antara minyak diesel dari fosil dan minyak sawit atau etanol (dari tebu). Hingga nanti puncaknya B100 di mana kendaraan akan dijalankan dengan 100 persen bahan bakar minyak sawit dan etanol. 

Ucapan seorang presiden tentu punya bobot. Ia mengirim signal akan kebutuhan sawit (biodiesel) dan etanol. Dan untuk itu, terbuka peluang menangguk keuntungan. Untuk untung, perlu menanam. Untuk menanam, perlu lahan. Hanya sayangnya, lahan masih berbentuk hutan. 

Membakar adalah cara paling murah untuk membersihkan lahan. Umumnya lahan, yang sebelumnya hutan ini, sudah diambil kayu-kayunya (ini duit tersendiri). Nah sekarang tinggal dibersihkan (land clearing) dengan cara murah: dibakar! 

Saat terbaik untuk membersihkan lahan adalah pada musim kering. Apalagi dengan El Nino sekarang ini. Lengkap sudah. Bakar. Asap? Seperti kata Gubernur Jambi, siapa yang bisa mengendalikan asap? Para pejabat mulai bermain semantik — ini adalah kehendak Allah. Atau, asap tidak punya KTP? 

Apalagi paspor. Yang jelas tiga negara tetangga Indonesia dilanda asap — Malaysia, Singapura, Filipina. Mereka menawarkan bantuan. Mereka menggugat ke ASEAN. Bahkan beberapa warga mereka sudah ada yang meninggal. 

Indonesia? Negara besar ini tenang-tenang saja. Seakan tidak ada masalah. Indonesia seperti tetangga gila yang berak mencret dimana-mana, termasuk ke tetangga. Ketika mau ditolong untuk dicebokin, malah cuek sambil terus lari kesana-kemari membawa kotoran dan bau tak sedap. Tamsil ini mungkin tidak terlalu tepat karena mungkin tidak ada korban jiwa hanya karena orang gila berak sembarangan. 

Tapi itulah kita. Gubernur Kalimantan Timur kabarnya plesir ke Singapura ketika daerahnya diamuk asap. Dia dan bininya nonton balapan F1. Tidak tahu diri? Sejak kapan menjadi pejabat di Indonesia itu dituntut untuk tahu diri? Ha wong orang nggak cukup umur dan nggak punya ijazah saja bisa jadi wakil presiden! Kowe nuntut tahu diri? 

Pejabat dan aparat pun makin aneh. Mereka makin tidak bisa dikontrol. Dan, mereka tidak peduli. Kalau pun mereka peduli, mereka memperlihatkannya dengan cara-cara yang ganjil. Seperti orang tua yang kasihan melihat anaknya lapar dan mengajaknya jalan-jalan ke mal. Seperti pemimpin yang kasihan dan menangis melihat anak-anak Indonesia stunting dan memberinya racun? 

Saya tahu dan sadar sepenuhnya bahwa sinisme tidak akan menyelesaikan apapun. Namun apa pilihan untuk tidak sinis dalam situasi konyol yang tiada henti ini? Tadi siang, saya keliru menulis pesan “20 tahun pemerintahan Prabowo.” Teman yang menerima pesan dari saya itu segera mengoreksi, 2 tahun bukan 20 tahun. Tapi memang benar, dua tahun ini terasa dua puluh tahun! 

Nah, coba sodara perhatikan foto-foto yang beredar. Presiden memimpin rapat karhutla. Aparat-aparatnya di bawah dengan sigap dan kreatif menanggapi seruan presiden untuk memadamkan kebakaran. Setelah tepung, sprayer tanaman, dan ember-ember untuk memadamkan api, kini aparat kita makin kreatif: pakai penggebuk kasur! 

Kaum Gen Z mungkin bingung karena mereka tahunya hanya spring bed dan kasur busa. Begini ya, dek. Dulu kami tidur di kasur kapuk. Kasur ini harus dijemur secara reguler kalau tidak dia akan kempes, lembab, dan penuh Tinggi (kepinding pengisap darah). Kalau dijemur, dia harus digebuk untuk mengembalikan keempukannya, mengeluarkan debunya, dan menghalau Tinggi-nya. 

Rotan penggebuk kasur itu kadang mampir ke pantat kami, terutama kalau kami nakal. Nah, mungkin satu saat, ketika tidak ada kebakaran hutan, aparat-aparat ini kembali ke metode lama untuk menghadapi anak-anak muda yang berdemo: menggebuknya dengan penggebuk kasur! 

Inilah Indonesia yang kita miliki sekarang. Indonesia yang diurus oleh orang-orang yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Orang-orang yang amat sangat tidak kompeten. Tapi di saat lain hidup sangat mewah — dengan puluhan ekor kuda hanya untuk menyambut seorang jendral dari Mesir. 

Jadi? Biarlah kita sinis sejenak. Walau sinisme tidak akan mengubah apapun.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top