
Pendidikan merupakan pondasi untuk menyelami segala pengetahuan yang dapat memberikan manusia mengenali suatu kebenaran dan kebatilan. Manusia dapat mengetahuinya apabila mereka mau belajar dengan cara membaca ilmu pengetahuan secara komprehensif atau menyeluruh. Tidak hanya pendidikan saja, islam pun di dalam Al-Quran pada ayat yang pertama kali turun yaitu (اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ) kepada Nabi Muhammad SAW untuk memahami suatu kondisi diperintahkannya kita untuk membaca.
Anehnya kenapa sebagian atau bahkan kebanyakan anak muda zaman sekarang seperti mudah sekali menyerah dalam hal apapun padahal pendidikan maupun islam tidak pernah mengajarkan manusia terutama orang yang beriman untuk berputus asa. Sekarang banyak fenomena orang yang menganut agama islam malah seperti merasa dirinya mrasa kalah, hampa, putus asa maupun ingin menyelesaikan cerita hidupnya hanya karena satu kutipan atau video yang membuatnya seperti sudah tidak ada harapan. Hal seperti itu seolah-olah seperti tidak percaya dengan rahmat Alloh SWT. Padahal banyak diterangkan di dalam ayat–ayat Al-Quran agar untuk tetap berjuang dan tidak berputus asa dalam meraih kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat.
Seperti ayat 139 surat Ali-Imran:
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
Hal ini sudah jelas diterangkan bahwasanya kita harus tetap di jalan rahmatnya Allah SWT. Imam As-Syafi’i pun mengatakan seperti ini:
اجْعَلِ الآخِرَةَ فِي قَلْبِكَ، وَالدُّنْيَا فِي يَدِكَ، وَالْمَوْتَ بَيْنَ عَيْنَيْكَ
“Jadikanlah akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.”
Seharusnya yang harus dilakukan oleh kita sebagai orang yang beriman jangan hanya mengeluh dan tergerus oleh hal-hal yang membuat kita semakin lemah dan down grade sebagai manusia, namun teruslah berjuang melampaui batasanmu sampai saat ini menuju batas kemampuan terbaik, bukan malah menyerah, mengeluh, bersedih, putus asa karena hanya melihat temanmu sudah di atasmu secara karir maupun ilmu.
Kita dikasih waktu yang sama yaitu 1 hari (24 jam) maka dari itu hal yang harus dilakukan yaitu lampauilah temanmu kalo bisa bukan malah menyerah dan mengeluh yang hanya menjadi beban pikiran saja. Sekali lagi penulis ucapkan “Berjuanglah dan lampauilah batasan kemampuanmu” hingga dirimu mengeluarkan kemampuan versi terbaiknya.
Bagaimana caranya? teruslah membaca dan evaluasi dirimu, mana yang harus kamu kembangkan dan mana yang harus kamu asah untuk mencapai cita-cita yang akan kamu raih. Rintangan itu pasti ada, justru dengan adanya rintangan dan ujian itu akan membuatmu semakin kuat dan terus melangkah jauh jika berhasil dalam melewatinya. Jikalau pun masih belum berhasil coba lagi, coba lagi, coba lagi sampai cita–cita yang kauimpikan berhasil dicapai. Kalian tau Thomas Alva Edison? Ya dia penemu lampu yang baru berhasil membuat lampu hingga ribuan kali percobaan. Terus dirimu menyerah begitu saja kah hanya satu kali mencoba gagal, itu tidak mencerminkan orang yang beriman.
Maka dari itu sebagai orang yang berpendidikan dan beriman jangan pernah merasa putus dari rahmat Allah SWT karena jika terus berjuang dan berikhtiar maka jalan menuju Roma pun akan selalu terbuka. Manusia hanya memiliki warisan dari leluhurnya bukan harta bukan juga pengetahuan namun hanya diwariskan sebuah semangat dan tekad pantang menyerah untuk meraih kehidupan yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Dengan adanya tekad tersebut bisa digunakan untuk menuntut ilmu pengetahuan agar manusia bisa mengetahui cara menuju kebahagiaan tersebut. Terkadang orang yang tidak bisa mengetahui bakatnya saja bisa menjadi orang besar jika mereka terus konsisten dan tidak menyerah dalam meraih impiannya.
Manusia sudah diberi akal untuk terus berpikir menjadi lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Bukan hanya lebih baik untuk bekal akhirat saja namun juga lebih baik dalam segi apapun, itu juga merupakan bentuk perwujudan rasa syukur sebagai manusia kepada Allah karena telah memberikan karunia yang sempurna untuk digunakan sebaik mungkin. Maka dari itu teruslah belajar sampai ajal menjemput kalian. Untuk merasakan kalian hidup atau tidaknya tentukanlah tujuanmu dan gunakan akalmu untuk berpikir dan mendongkrak agar mau bergerak.
Hidup yang sekali ini apakah kalian gunakan waktu untuk malas-malasan sampai membuang waktu kalian sia-sia begitu saja? Apakah ini ucapan syukur kalian kepada Tuhanmu yang telah memberikan kalian sehat? Bangunlah wahai kaum muda. Masih banyak hal yang harus dilakukan. Bertarunglah dengan hawa nafsu kalian yang sering membawa kemalasan pada diri sendiri. Musuh terberat manusia adalah melawan hawa nafsunya. Sebenarnya manusia itu bukan bersaing dengan manusia itu sendiri namun sedang bertarung melawan hawa nafsunya, dari situ dapat diketahui yang menang akan menguasai ragamu. Jika yang menang dirimu sepenuhnya akan menguasai ragamu bahkan hawa nafsu itu sendiri tunduk dan jika sebaliknya dirimu yang sedang dalam kekacauan.
Hal ini menyadarkan bahwa manusia harus terus berusaha dan gigih dalam menentukan jalan hidupnya, meski banyak rintangan yang menyertainya di depan sana. Dengan tekad dan semangat perjuangan 45 yang dimiliki bahkan rintangan pun pasti tidak bisa menggetarkan jantung sedikit pun. Jangan pernah terdistraksi oleh hal yang menghalangi menuju jalan impian itu karena itu salah satu hal yang bisa menghambat menuju pencapaian terbaik. Cara terbaik untuk konsisten menuju pencapaian adalah lawan rasa kemalasan dan ketakutan dengan sikap keberanian tanpa henti.
Agus Setiawan, lahir di Banjarnegara pada Agustus 2002, merupakan mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam di UIN K.H. Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Memiliki passion di bidang akademik, ia aktif sebagai guru dan pegiat literasi melalui komunitas Waktu Kita Membaca (WKM). Ia dapat dijumpai di Instagram @wawansky19.




