Langit yang Terbelah

Lantunan murotal ayat-ayat suci Al-Quran mengalir dari arah corong toa musala pesantren dan menyusup masuk tanpa permisi di telinga. Begitu indah dan menyentuh jiwa bagi hamba-hamba yang jiwanya kosong. Hamba-hamba Allah yang senantiasa merelakan sifat-sifat yang berkenan di hadapan Allah dan rasul-Nya pergi, dan mengisinya dengan tamu-tamu yang saleh, yang selalu mengajaknya untuk berbuat kebaikan kepada siapa pun.

Tampak di halaman pesantren para santri sedang menyapu daun-daun mangga yang berserakan. Mereka tampak kompak sekali. Hanya sekali gerakan, halaman berupa tanah dan paving itu langsung bersih. Tangan mereka sangat terlatih menggenggam gagang sapu lidi. Yang membuat mereka berbeda ketika masih di rumah adalah mereka dilatih untuk selalu menjaga kebersihan dan kesucian. Tidak hanya kebersihan dan kesucian tempat, juga hati dan jiwa dari kotoran-kotoran yang menempel dan memproduksi keringat. Bagi sebagian orang, keringat yang mengucur dari kulit merupakan pertanda bahwa kita sehat yang patut disyukuri. Sebuah pertanda jantung dan limpa kita bekerja dengan baik. Akan tetapi, bagi segelintir hamba yang sudah awas membaca tanda-tanda, ayat-ayat yang rahasia langit, keringat merupakan petaka. Keringat adalah pertanda bahwa tulang-tulang kiita telah dibungkus dengan dosa. Lantas mereka memerasnya hingga kering, persis penguasa yang mengisap kering, darah peluh rakyat. 

Kemudian, belasan santri laki-laki yang mengenakan kemeja kotak-kotak warna hijau menyiram halaman pesantren dengan air yang mereka tampung dengan timba. Seketika tanah dan paving menjadi basah. Membuat debu halus yang bisa membuat mata perih tidak beterbangan. Itulah pemandangan setiap sore. Setelah para santri melaksanakan salat asar berjamaah, mereka membersihkan halaman pesantren dengan menyapu dan menyiram. Dari wajah mereka sama sekali tidak terukir mimik-mimik terpaksa. Mereka melakukannya dengan tulus. Bahkan kebiasaan itu mereka bawa ke rumah. Membuat ibu-ibu tetangga kepincut untuk menikahkan santri itu dengan putri mereka. 

“Kamu tahu, siapa yang melaporkan Kiai Mahfuz sehingga ditangkap oleh polisi?” seorang perempuan mengenakan kerudung dan gamis hijau bertanya kepada seorang lelaki muda kira-kira usianya empat puluh tahunan. Perempuan itu duduk di lantai musala, sedangkan lelaki itu bersimpuh di bawahnya. Kepalanya tertunduk karena tidak berani menatap.

“Yang saya tahu Bu Nyai laporan itu bukan laporan langsung, melainkan dari sebuah tulisan opini yang beberapa hari yang lalu dimuat di salah satu surat kabar nasional, dan nama penulisnya mmm…,” lelaki muda itu mengingat-ingat nama yang pernah dibacanya di layar ponselnya. “Khairul Azzam. Ya, Khairul Azzam, Bu Nyai.” 

“Khairul Azzam?” perempuan yang dipanggil dengan sebutan ‘Bu Nyai’ itu menirukan apa yang diucapkan oleh pemuda tersebut. “Kamu tahu siapa Khairul Azzam. Orang mana dia?” 

Seorang santri bertubuh agak gemuk melintas di halaman pesantren dengan penuh hormat seperti di keraton-keraton kesultanan Jawa. Namanya adalah Ilyas. Lantas Bu Nyai memanggilnya. 

“Ilyas!” 

“Enggeh, Bu Nyai,” pemuda itu menyahut dan menghampiri Bu Nyai.

Di bawah langit sore yang terbungkus tabir senja berwarna jingga keemasan itu, Bu Nyai, pemimpin pesantren menginterogasi para santrinya siapa yang tahu tentang orang yang telah membuat saudaranya dijebloskan ke dalam penjara. Perkara apa? Perkara menggelapkan bantuan operasi sekolah. Ia ingin membalas dendam. Walaupun saudaranya tetap salah, demi menyelamatkannya dari citra buruk, ia akan mencari tahu siapa orang yang berusaha untuk menjatuhkan reputasinya sebagai anggota dewan. 

“Yas, coba kamu cari tahu siapa Khairul Azzam!” perintah Bu Nyai. 

“Baik, Bu Nyai. Tapi siapakah Khairul Azzam, Bu Nyai?” Ilyas bertanya dengan nada tolol. 

“Ya cari di internet, Yas. Kamu ini sekolah tinggi-tinggi, tapi berlagak bodoh.” 

Maklumlah, meskipun ijazahnya Ilyas SMA, tapi dia tergolong gaptek. 

***

Setelah menikah, Azzam dan istrinya, Afifatuz Zakiyyah tinggal di rumah Azzam. Hubungan Afifah dengan kedua adiknya Azzam sangat baik. Bahkan Dila dan Dina tidak menganggap Afifah sebagai kakak ipar yang terkadang memiliki hubungan yang kurang sedap di depan mata, melainkan menganggap istri kakaknya itu layaknya kakak kandung. Begitu juga dengan hubungan Afifah dengan ibu mertuanya juga terjalin dengan baik. Bu Maimunah menganggap Afifah layaknya anak kandungnya sendiri. Sangat perhatian. 

Sementara Azzam, setelah memutuskan untuk menulis novel, hingga saat ini ia sangat produktif menulis. Tidak hanya menulis buku, namun ia juga menulis artikel yang kemudian ia kirimkan ke media online dan surat kabar. Beberapa hari yang lalu, ia menulis sebuah artikel yang isinya adalah mengupas tentang dugaan penggelapan dana bantuan operasi sekolah yang menyeret nama seorang oknum kiai. Tulisan itu merupakan hasil investigasinya setelah memeriksa kondisi fisik sekolah di mana ia mengajar. Dengan berbekal ponsel hape, ia memotret lantai koridor sekolah yang terkelupas keramiknya, langit-langit yang ambrol dan berserakan di lantai, pagar sekolah yang hancur, kelas yang tergenang banjir kiriman dari masa Nabi Nuh, dan gaji guru yang ditunggak selama dua bulan.

Yang terbesit di benak Azzam, ke manakah larinya uang bantuan operasional sekolah sebanyak itu? Dari informasi yang ia dapatkan dari beberapa guru, ada yang mengatakan kalau tahun lalu, uang bantuan tersebut digunakan untuk men-DP mobil baru kepala sekolah. 

“Istrinya minta dibelikan mobil baru,” kata Bu Sri, guru Mapel Bahasa Inggris. 

Azzam manggut-manggut. 

“Lalu, siapa yang membuat surat rencana pengajuan bantuan itu, Bu?”

Bu Sri menyebut nama wakil kepala sekolah. 

Lantas Azzam siang itu terlihat tidak tenang. Ada yang membuat pikiran sesak. Pikiran-pikiran tentang orang-orang yang telah menyelewengkan bantuan operasional sekolah itu berlarian di dalam otaknya. Ia memang tidak memiliki surat fisik rencana pengajuan bantuan itu untuk bukti, tapi ia memiliki bukti yang juga cukup kuat untuk ia tunjukkan kepada pihak berwajib. Lalu ia bilang kepada Afifah.

“Apakah menulis tentang itu sama sekali tidak berbahaya, Mas?” tanya Afifah dengan nada khawatir. Ia tahu menulis sesuatu yang mengungkap sebuah kebenaran resikonya sangat besar. Tidak jarang seorang aktivis di negeri ini yang telah dibungkam bahkan namanya dihilangkan dari sejarah oleh orang-orang yang mendukung penguasa zalim. Bahkan mereka sampai dicap sebagai pemecah belah bangsa. 

“Aku sama sekali tidak takut untuk menyuarakan kebenaran, sayang,” jawab Azzam dengan tekad sekuat baja. Tidak salah almarhum ayahnya dulu memberinya nama ‘Azzam’, dengan harapan anaknya kelak memiliki tekad yang tak mudah digoyahkan oleh angin sekencang apa pun. Ia akan tetap berdiri kokoh di atas kedua kakinya. 

***

“Diyah pernah bilang kepada saya kalau selama ini kamu jatuh cinta kepada Azzam?” Bu Nyai bertanya kepada seorang gadis cantik beralis agak tebal yang saat itu duduk bersimpuh di depannya. Sedangkan Bu Nyai duduk di atas kursi kayu.

“Iya, Bu Nyai.” Gadis itu menganggukkan kepalanya. 

“Sudah berapa lama kamu menyimpan perasaan itu, Nduk?” 

“Dua tahun terakhir, Bu Nyai,” gadis itu kembali menjawab. Kedua pipinya bersemu merah seperti buah delima. 

“Dua tahun?” 

“Iya, Bu Nyai.”

“Dan kamu belum pernah menyampaikannya?” 

Gadis itu menggeleng. Siang harinya, setelah Bu Nyai menginterogasi dan mengumpulkan informasi tentang Azzam tadi pagi, ia memanggil salah seorang santriwati bernama Zahira di ndalem. Ia mendengar kalau gadis itu selama ini menyimpan perasaan cinta kepada Azzam. 

“Apakah kamu sudah mengenal Azzam dengan baik sehingga kamu jatuh cinta kepadanya? Apa yang kamu ketahui tentang dia?” Bu Nyai kembali bertanya dengan nada ingin tahu. 

“Pak Azzam selain cerdas juga baik, Bu Nyai. Saya dapat merasakan kalau dia bukanlah sosok lelaki yang suka mempermainkan hati perempuan,” gadis itu menjelaskan sesuai isi hatinya, dan Bu Nyai membenarkan. 

“Yakin kamu kalau Azzam tidak pernah mencintai seseorang?”

“Pak Azzam memang pernah mencintai seseorang, namun ia sering dilukai.” 

Bu Nyai mengangguk. 

“Lalu, apakah kamu siap apabila saya jodohkan kamu dengan Azzam?” 

Gadis itu menjawab dengan malu-malu, “Siap, Bu Nyai.”

“Baiklah. Saya akan menyuruh Pak Bahar nanti untuk menemui Azzam dan menyampaikan soal perjodohan ini.”

Bu Nyai lalu meminta salah satu dari santriwatinya mendekat. Lalu dengan berbisik ia mengatakan sesuatu. Entah apa yang ia katakan di telinga gadis itu. Yang jelas, gadis itu mengangguk sambil melihat ke arah Zahira yang menundukkan kepalanya  ke lantai. 

***

Surat itu sampai di tangan Afifah. Dahinya berkerut saat menerima sepucuk surat yang ada di tangannya itu. Dari siapakah surat tersebut, dan apa isinya? Lalu, ia menyobek amplop bermotif bunga itu dan membuka isinya. Ia membacanya dengan suara rendah, 

“Bagaimana perasaanmu apabila ada seseorang yang mencintaimu namun ia tidak berani untuk mengungkapkan perasaan cinta yang menyiksanya berhari-hari? Apakah kamu tidak bisa menembus hatinya untuk melihat cinta yang terkurung oleh rasa malu? Selama ini cinta itu terpenjara di dalam hatiku. Ia tidak bisa terbang dengan bebas dan bersarang di hatimu. Bla… bla… bla… isi surat itu sangat panjang. Hampir selembar kertas penuh. 

Afifah lalu menyimpannya di dalam lemari pakaiannya. Dan ternyata itu bukan surat pertama dan terakhir. Keesokannya ia kembali menerima surat yang sama, tap isinya berbeda. Penulisnya mulai menyebut nama suaminya. 

“Mas, mas tahu surat ini dari siapa?” tanya Afifah yang mulai curiga. 

“Surat dari siapa?”

“Apakah selama ini mas mencintai seseorang?” 

“Apakah menurutmu aku mencintai seseorang selain dirimu?” 

Azzam menerima surat itu dan membacanya. Ia menduga kalau pengirimnya dari pesantren. Lalu, ia meminta bantuan Ilyas untuk mencari tahu siapa penulisnya. Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Setelah itu, Azzam mengirimkan surat balasan yang isinya sangat di luar dugaan,

“Bagi seorang lelaki yang telah memiliki istri, tidak pantas dia akan menerima cinta yang lain. Hatinya hanya satu. Hati itu bagaikan rumah dan hanya cukup ditempati oleh satu orang yaitu istrinya. Dan lelaki itu tidak akan menggantinya selama istrinya merawat hati itu.”

Bergetar gadis yang membaca isi surat tersebut. Lalu kata Ilyas, gadis itu jatuh sakit. 

***

Dua minggu berlalu setelah kejadian surat itu, Afifah mengalami pendarahan hebat setelah jatuh dari kamar mandi. Pendarahan itu tidak hanya membuatnya sakit, tapi yang lebih menyakitkan adalah janin yang ada di dalam rahimnya mengalami keguguran. Selama dua minggu penuh ia dirawat di rumah sakit. Yang membuatnya sedih adalah bukan karena tidak ikhlas kehilangan calon bayinya. Namun, ia sedih karena takut kehilangan Azzam. Ia takut Azzam tidak akan mencintainya lagi. Sebab menurut dokter, ia tidak bisa hamil lagi karena rahimnya tidak kuat. Ia bisa hamil, namun akan mengalami keguguran lagi. 

“Aku akan tetap mencintaimu dan akan selalu bersamamu dalam keadaan apa pun, Fif. Tidak masalah kamu memberiku anak atau tidak,” kata suaminya sambil memeluk tubuh Afifah. 

“Tapi, Mas. Rasanya kebahagiaan kita tidak lengkap kalau tidak ada anak,” ujar Afifah sambil menangis dalam pelukan Azzam.

“Kebahagiaan kita bukan karena ada dan tidaknya anak, Fif.” 

“Kalau mas memang mencintai gadis itu, nikahilah dia,” kata Afifah yang membuat Azzam mengernyit tak mengerti. 

“Apa maksudmu, Fif?”

“Dari surat itu aku tahu kalau gadis itu mencintaimu, Mas.”

“Siapa?”

“Zahira.” 

“Zahira? Aku sama sekali tidak mencintainya, Fif. Aku hanya mencintaimu.” 

“Tapi dia sangat mencintaimu, Mas.”

Azzam heran mengapa istrinya itu tahu betul tentang perasaan Zahira melebihi dirinya. Selama mengajar di kelas, Azzam sama sekali tidak pernah memiliki keinginan untuk mencintai salah satu dari muridnya. Apalagi perasaan Zahira kepada dirinya. Ia sama sekali tidak tahu. 

“Kudengar saat ini ia sedang sakit, Mas. Ia sakit karena cintanya yang tak berbalas.” 

Lalu, Azzam mencari tahu soal Zahira yang menurut Ilyas sakit. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata semua ini adalah skenario Bu Nyai. Perempuan itu balas dendam dan memanfaatkan Zahira. Ia menyuruh Diyah untuk menulis surat-surat itu seakan-akan Zahirah yang menulisnya. Ketika Azzam mengirim surat kepada Zahira, gadis itulah yang menerimanya. Ia pun jatuh sakit ketika tahu kalau Azzam sudah menikah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top