
Bar Ketiga
petunjuk pertama adalah bar
kota kerlap-kerlip
ibu-ibu dan bapak-bapak lebih suka menasihati
berceramah
tanpa ingin tahu sebab musabab
“kita mencari seseorang yang hilang puluhan tahun.”
“apa ibumu yang menyuruhmu mencari bapakmu di bar?”
kita mengalah—iya saja
biar cepat urusan
kita tumpangi angkot menuju bar
bar pertama,
satpam jadi penasihat dadakan—lagi
persis bar kedua
bar ketiga kita masuk bebas
segala maksiat dihalalkan
penulis sejarah masih hidup satu
ubannya menumpuk
suaranya membaik
ketika peluh kita bercampur darah
dipukuli algojonya
dan petunjuk pertama terbuka
titik terang mulai terlihat
ia menyebut satu nama
itulah pencarian dalam amplop
bar ketiga ini membuka jalan
sekaligus luka yang biru
(Baubau, 2023)
***
00.14
hanya aku dan bunyi malam
entah dari daun atau tanah
insomnia seperti ingin membunuh
angin dan sahabi
masih menggantung di selimut ungu
yang sudah kusampul
pada malam kematian bapak
tengah malam semacam taubat
tak bisa terulang
katup mata berat
namun hasrat menganiaya
sedang menggebu
ini pukul 00.14
sudah tiap malam
kutemui orang-orang jauh
yang dengan mudah
kutelanjangi kata-katanya
(Baubau, 2023)
***
Satu Minggu
pada bapak
aku pamit berangkat
ke kota orang
satu minggu saja
tepat satu minggu
kemudian
aku pulang
dan bapak juga pulang
ke rumah Tuhan
sedang aku
pulang
ke pusara bapak
(Baubau, 2023)
***
Senyum yang Terlalu Pagi
keseksian seorang lelaki
setelah menulis sejumput surat pagi hari
pujian yang sungguh tidak mengada-ngada
tupai-tupai bermain di taman
ibu yang tenggelam dalam senja seorang gadis
dan cerita-cerita yang tak kenal tua
bertahun-tahun mengendap dalam lemari buku
tak ada lagi yang kita cari
kecuali potongan kisah para budak
aku membuka kembali
membaca kemudian
mengeja huruf demi huruf
sungguh ketampanan yang paripurna
ringan mulut kita saling menyapa
hanya satu yang belum terlaksana
membaca kematian sendiri-sendiri
mula-mula menjadi seksi
dipuja-puja khalayak
porak-poranda tepuk tangan tersembunyi
menyadari diri
setidaknya beginilah caraku memuja
senyum itu masih terlalu pagi
sepagi suara burung gereja
yang tiba-tiba mengetuk pintu kamar
lalu buru-buru membangun sangkar
kiranya itu sebuah tanda dari tuhan
tentang senyum yang kurindukan
(Baubau, 2020)
***
Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya dimuat di media cetak dan online. Buku Puisinya, Dosa Termanis (Penerbit Komentar, 2024). Bisa disapa melalui Instagram: @joehasan_




