Gulai Nangka

Membaca status kakakku yang memposting gulai nangka khas Minangkabau, Salivaku naik turun karena kepingin. Sudah lama aku tidak makan dengan gulai nangka. Gulai beraroma rendang yang dicampur dengan potongan daging sapi dan daging buah nangka atau cempedak. Rasanya rada-rada pedas dan nikmat. Kurang lebih sudah delapan tahun aku tidak makan masakan itu. 

Dulu, saat awal-awal tinggal di Pekanbaru, aku masih belum mengenal masakan itu. Ia terasa tampak asing di lidahku. Kala itu, salah seorang tetangga yang orang Minang asli memberi ibuku semangkuk gulai asing. Warnanya kehitaman sehingga ia agak menyerupai rawon. Tapi, yang ini aroma bumbunya jauh lebih tajam. Ditambah dengan bumbu rendangnya. Aku yang sama sekali belum pernah memakan masakan selain masakan Jawa pun mencicipi masakan tersebut. Dan hasilnya, sore itu aku langsung mencret-mencret. Aku kapok dan tidak mau makan makanan asing itu lagi. 

Tapi, rupanya tekadku untuk tidak memakan masakan Minang seketika berubah saat aku tinggal bersama Bang  Jum. Setiap hari aku membantu istrinya membuat bumbu-bumbu khas Minangkabau. Bang Jum asli orang Maninjau, Agam. Sementara istrinya asli orang Pasaman Barat. Sejak tinggal di sana, aku mengenal nama masakan yang dulu pernah membuat perutku mules itu. Gulai nangka. Tidak hanya itu saja. Aku juga mulai mengenal masakan lain, rendang, gulai paku, sambal pucuk ubi, rendang jariang, lotek dan gulai manisa. Dan anehnya, perutku sudah tidak mules lagi. 

“Mas, nanti kita buka dengan menu apa?” tanya istriku pagi itu. Aku lihat dia tidak belanja untuk menu buka puasa hari ini. 

“Lho, kamu tidak pergi belanja, Dik?” aku balik tanya. 

Istriku menggeleng. Mungkin dia sudah bosan dengan menu masakan yang itu-itu saja. Lalu, terlintas dalam kepalaku nama gulai nangka. Apalagi sudah lama aku tidak makan gulai. 

“Bagaimana kalau menu buka dan sahur hari ini kita makan dengan gulai nangka?” ujarku berpendapat. 

“Gulai nangka?” 

Aku mengangguk. 

“Iya. Gulai nangka. Sudah lama aku tidak makan gulai nangka.”

Tampak di depanku sebaskom gulai nangka dengan kuah aroma rendangnya yang berlinang-linang, potongan daging sapi dan daging cempedaknya yang berenang-renang di dalamnya. Aroma khasnya begitu kuat tercium hingga menusuk hidung. Lalu muncul juga hidangan masakan Minang yang lain di atas meja. Rendang sapi, pucuk ubi, sayur paku, dan gulai jengkol. 

“Yasudah kalau hari ini menunya gulai nangka.” 

“Kalau begitu aku mau keluar beli gulai nangka dulu.”

Di luar, langit yang sedari tadi menggantang mendung kini menurunkan air matanya ke bumi. Tapi tak masalah. Aku akan memakai jas hujan. Jalanan depan perumahan basah. Rerumputan juga basah. Langsung saja aku mengeluarkan sepeda motor ke depan rumah. 

“Aku pergi dulu.”

“Iya.” 

Sejak tiga tahun menikah, kami memang sudah membeli rumah sendiri di perumahan. Tidak mengapa mencicil rumah, daripada harus tinggal di rumah mertua. Paling tidak kami bisa hidup mandiri. Lagipula tinggal di rumah mertua tidak membuatku merasa nyaman. Apa pun yang kulakukan semuanya serba salah. Padahal, aku melakukannya demi menyenangkan hati mertua. Tetapi, selama satu bulan tinggal di sana, hanya membuatku tidak tenang. 

***

Sepeda motor matik ku  menembus derasnya hujan. Aku sama sekali tidak menghiraukan guyuran hujan yang membasahi jas hujan dan helmku. Gemuruh menggelegar di langit kota. Orang-orang saling berteduh di emperan toko dan SPBU. Tapi aku lanjut menerobos derasnya hujan. Aku sudah hafal jumlah rumah makan Minang yang ada di kota kecilku. Tidak menjamur seperti di Pekanbaru. Kalau di Pekanbaru, di setiap jalan pasti dapat ditemukan rumah makan Ampera. Jadi, di sana tidak sulit untuk menemukan rumah makan Minang. Aku langsung tancap gas menuju pusat kota. Di deretan ruko terdapat sebuah rumah makan Ampera yang harganya murah meriah. 

Aku memarkirkan sepeda motorku. Dari depan, rumah makan itu bentuknya sama persis dengan setiap rumah makan khas Minang. Ada bufet yang memajang aneka sambal (lauk) yang ditaruh di atas piring. Di sana ada kakap, gurami, ayam pop, ayam bumbu, dan tunjang sapi. Tidak ada kripik melinjo, belut, dan nila. Aku langsung menuju tempat bakul. Seorang pria muda berwajah Minang menyapa.

“Mau beli apa, Mas?” tanyanya.

Sejak tinggal di kota ini, orang-orang Minang memanggil kami yang laki-laki dengan panggilan ‘mas’. Padahal, kalau di tempatnya sana mereka memanggil dengan panggilan ‘abang.’ Memang mirip orang Jawa Barat sih. 

“Mas, ada gulai nangkanya?” aku balik bertanya. 

“Wah, kalau gulai nangka tidak ada, Mas. Kami cuma menyediakan gulai manisa.” 

Gulai manisa? 

“Gulai nangka tidak ada?” 

“Tidak ada, Mas.”

Aku balik kanan. Kemudian, aku langsung menuju rumah makan kedua. Aku sudah mengenal rumah makan itu sejak usiaku sepuluh tahun. 

“Mbak, jual gulai nangka?” Aku bertanya kepada pelayannya, warga asli sini. 

“Nggak ada, Mas.” 

Aku kembali balik kanan. Di rumah makan ketiga juga tidak menjual gulai nangka. Begitu juga di rumah makan keempat dan kelima. Aku bertanya-tanya, kenapa susah macam mencari jarum dalam jerami cuma mencari sebungkus gulai nangka di kota ini? Kali ini aku berharap di rumah makan Minang terakhir yang aku datangi ini menjual gulai nangka. 

“Kami ndak menjual gulai nangka, Mas.”

“Padahal, saya ingin sekali gulai nangka, Kak.”

“Nangka di sini mahal, Mas. Saya pernah membeli dua puluh ribu dapat sedikit.”

Aku menghembuskan napas. Aku pun pulang ke rumah dengan tanpa membawa sebungkus gulai nangka. Tapi, aku membeli gulai kepala kakap. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba terlintas di kepalaku buah cempedak yang tumbuh ranum di pohon cempedak yang berada di pinggir sawah dekat perumahan. Kenapa tidak aku beli saja, kemudian aku jual lagi kepada para bakul rumah makan Minang supaya bisa dijadikan gulai nangka? 

“Dapat gulai nangkanya, Mas?” istriku menyambutku di pintu gerbang depan rumah kami. 

“Tidak. Aku cuma dapat gulai kepala kakap.” Aku mengangkat kantong plastik berisi sebungkus gulai kepala kakap. 

Istriku mengulum senyum. 

“Tapi, aku dapat ide.”

“Ide apaan?” 

“Aku ingin menjual cempedak yang kemudian kujual pada pemilik rumah makan Minang agar dibikin gulai nangka. Dengan begitu, aku tidak kesulitan kalau lagi pingin gulai nangka,” ujarku. 

“Ide yang bagus.”

Saat bunyi bedug bertalu-talu, kami berdua pun berbuka puasa dengan gulai kepala kakap. Ta’jilnya es kolang-kaling yang dicampur dengan potongan nanas, melon, anggur dan kurma. 

*** 

Akhirnya, seperti rencanaku aku pun menemui Pak Markasan untuk membeli cempedak darinya. Aku tahu dari salah seorang warga kalau dialah pemilik belasan pohon cempedak dekat sawah tersebut. 

“Rencananya mau dibuat apa cempedak-cempedak ini, Nak Soleh?” tanya lelaki tua yang berprofesi sebagai petani itu. 

“Gulai nangka, Pak. Saya akan menjual cempedak-cempedak ini ke pemilik rumah makan Minang yang ada di kota,” jawabku sambil memasukkan cempedak-cempedak muda itu ke dalam karung goni. 

“Gulai nangka?” Jidatnya berkerut. “Yang saya tahu cuma gulai kambing.”

“Ya semacam itulah, Pak. Dibumbui dengan bumbu rempah-rempah lengkap. Tapi, yang ini isinya potongan cempedak muda dan daging sapi,” aku menjelaskan. 

Setelah membereskan semua cempedak-cempedak itu aku pun mengangkutnya dengan motor Tosa  menuju rumah. Aku akan menawarkannya ke pemilik rumah makan Minang besok. Dengan begitu aku memiliki satu bisnis lagi, yaitu menjadi distributor cempedak. 

Gulai nangka, di dalam kuah bersatu padu berbagai macam rempah-rempah dengan rasa yang berbeda-beda, namun mereka membentuk suatu aroma yang begitu khas dan sedap sehingga membuat gulai nangka menjadi lezat dan pas di lidah setiap orang. Tidak hanya di lidah orang Minang saja, namun di lidah semua suku yang ada di Nusantara ini.

“Maaas!” istriku memanggilku dengan berteriak dari teras rumah saat kami hendak makan sahur dini hari itu. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.30. Dia sedang membuang bungkus roti di tempat sampah depan rumah.

Aku yang saat itu berada di ruang makan langsung menuju ke teras. 

“Ada apa, Dik?” aku bertanya. 

“Motor tossanya mana?” 

Aku menengok ke arah motor tossa yang semalam aku parkiran di depan teras rumah. Aku tidak bisa memasukkan motor Tosa karena rumah kami tidak ada carportnya. Anehnya, motor Tosa milikku raib! Aku berpikir, jika motor Tosa itu diembat, kenapa tidak berbunyi? Padahal, semalam sudah dikunci ganda? Maling zaman sekarang sangat canggih. Motor dan cempedak-cempedak itu sudah dicuri! Lalu, siapa pencurinya? 

***

Keesokannya, ketika aku sedang memburu malam, kulihat sebuah motor Tosa warna merah, di baknya ada stiker Takana Juo, dan di platnya ada tulisan Mel, sedang terparkir di depan salah satu rumah makan Minang. Aku langsung tahu kalau itu adalah motor Tosa milikku yang telah dicuri. Sebab lagi, di dalam bak terdapat berkarung-karung buah cempedak. Tanpa babibu aku langsung mengarahkan kamera handphone ke motor tersebut. 

Aku penasaran, siapakah maling yang telah menghancurkan rencanaku untuk menjadi juragan cempedak sebagai pelopor gulai nangka di kota ini? Setelah lama menunggu, akhirnya begundal itu pun muncul dari dalam rumah makan. Dan, ternyata, orang itu adalah Markuat, maling kambuhan yang selama ini meresahkan warga perumahan. Saat itu, ia tengah menghitung uang dari hasil menjual cempedak hasil colongan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top