Takut Mati Sambil Mendengarkan The Spirit Carries On karya Dream Theater

“Hidup memang banyak hal, tetapi sesekali The Spirit Carries On juga tidak apa-apa, deh.”

Safe in the light that surrounds me. Free of the fear and the pain. My questioning mind has helped me to find the meaning in my life again,” teriak James LaBrie dengan tenor tingginya, setelah beberapa suasana pasca-John Petrucci menyelesaikan interlude gitarnya yang ciamik. Pada bagian itu, saya berhenti memikirkan apakah dunia sedang baik-baik saja. Bukan karena dunia mendadak baik, melainkan karena selama beberapa menit musik berhasil membuat saya cukup jauh dari dunia untuk tidak ikut terseret ke dalam kebisingannya.

Belakangan ini memang terlalu banyak hal yang bisa ditakuti, setidaknya menurut segudang cerita orang kepada pribadi saya. Atau, kecemasan pribadi, kecemasan komunal yang sering berwajah hipokrit, politik serigala berbulu domba, atau negara yang seperti sedang mencari negarawan di antara celah sempit paradoks realitas politik dan pragmatisme para politikus. Berita buruk datang tanpa pernah benar-benar meminta izin, lalu tinggal terlalu lama di kepala. Saya membacanya pagi-pagi, membicarakannya siang hari, dan membawanya ke tempat tidur malam-malam. Semuanya berputar seperti tidak pernah selesai memproduksi alasan untuk membuat manusia cemas. Sialan. Asu.

Upaya menangkap itu, saya memutar The Spirit Carries On. Secara sadar, kalau boleh sedikit sok tahu-impulsif , spiritualitas mendadak mengangkang di pori-pori imajinasi saya. Pikiran yang sejak tadi berlarian ke mana-mana tiba-tiba melambat. Dan dari situ saya malah kepikiran sesuatu yang jauh lebih tua daripada berita politik: kematian. Lebih tepatnya, ketakutan saya terhadap kematian. Mungkin bukan kematian yang membuat manusia begitu takut, melainkan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika kematian datang. Manusia takut mati karena terlalu banyak hal yang dianggap miliknya. Untuk itu, saya kira, kemelekatan, memang bahaya laten.

Perasaan lepas itu sebetulnya telah dimulai semenjak piano awal lagu progresif tersebut dimainkan dengan tempo sedang. Jelentikan jari Jordan Rudess mengalun menyentuh sumsum tubuh saya, lalu perlahan membawa pikiran ke tempat yang lebih tenang. Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory, album kelima Dream Theater yang di dalamnya terdapat The Spirit Carries On, memang mempunyai keistimewaan tersendiri bagi saya. Secara lirik, balada tersebut sangat konkret memaparkan manusia pada umumnya: pertanyaan mengenai asal-usul, tujuan hidup, kematian, dan kemungkinan adanya sesuatu setelah kehidupan berakhir. Namun bagi saya lagu itu tidak berhenti sebagai narasi tentang seorang tokoh dalam sebuah album konsep. Ia seperti respons spiritual terhadap kegelisahan yang tidak bisa diselesaikan dengan argumen.

Sebelum sampai pada pemikiran yang sok spiritual itu, pertama kali saya mendengar lagu tersebut, kalau tidak salah, justru karena seorang kawan ingin mengajari saya bermain gitar. Mula-mula ia menyodorkan beberapa istilah musik—pentatonik, Lydian, Dorian, akor, scale, strumming, dan berbagai istilah ndakik-ndakik lain yang sekarang sudah hilang dari ingatan—lalu saya diberi latihan kromatik yang monoton, rutin, penuh hafalan, dan harus diulang-ulang sampai jari terasa seperti bukan lagi milik sendiri. Secara usia, kalau ingatan saya tidak sedang berdusta, saya masih mengenakan seragam sekolah tingkat atas. Waktu itu saya lebih akrab dengan bending-bending blues B.B. King, Jimi Hendrix, Rhoma Irama, dan berbagai bunyi gitar yang menurut saya sudah cukup untuk membuat seseorang merasa keren. Saya belum mempunyai ambisi memahami progressive metal.

Entah ada angin apa yang membawa kawan saya, dari latihan blues dan kromatik yang membosankan itu saya malah disuguhi The Spirit Carries On. Saya mendengarkan dengan gaya orang yang berusaha tampak paham meskipun sebenarnya sedang kebingungan. Saya mencoba mencari bagaimana lagu itu dimainkan, memperhatikan petikan Petrucci, mencari chord, mencari tab, dan mencoba menirukannya. Sampai sekarang hasilnya tetap saja mengenaskan: saya hanya bisa memainkan The Spirit Carries On dengan gaya sebakul—tidak bisa, tetapi sok-sokan bisa. Ha-ha-ha.

Namun justru dari kegagalan itulah saya kemudian merasa bahwa musik barangkali memang tidak selalu harus dipahami sampai habis. Ada musik yang boleh dibedah dengan teori, tetapi ada pula musik yang cukup didengarkan sampai ia menemukan jalannya sendiri ke dalam ingatan. Saya terlalu sibuk mencari tahu bagaimana sebuah lagu dibuat sampai lupa bertanya mengapa lagu itu membuat saya merasa sesuatu.

Bertahun-tahun setelah pengalaman belajar gitar itu, secara kebetulan saya pernah mendengar sebuah grup dangdut di sekitar Tangerang Selatan sedang latihan. Seorang gitaris memainkan beberapa lagu Dream Theater, salah satunya The Spirit Carries On. Saya hanya menikmati. Ada sedikit kesalahan pada petikan melodi, tetapi tidak cukup untuk mengganggu lagu itu. Justru ada sesuatu yang terasa lebih dekat karena ketidaksempurnaannya. Kemudian sang vokalis masuk dan menyanyikan bagian yang paling saya ingat: “If I die tomorrow, I’d be all right, because I believe that after we’re gone, the spirit carries on.” Ia melafalkannya dengan lidah Betawi-Tangerang. Sedikit aneh, tentu, tetapi justru unik dan mengesankan. Dream Theater yang selama ini berada dalam kepala saya sebagai musik rumit dengan permainan teknis yang mengintimidasi tiba-tiba muncul di sebuah ruang latihan grup dangdut di Tangerang Selatan. Petrucci tidak ada. LaBrie tidak ada. Jordan Rudess tidak ada. Tetapi lagunya tetap hidup.

Mungkin musik memang bekerja seperti itu. Setelah dilepaskan oleh penciptanya, ia tidak lagi sepenuhnya menjadi milik pencipta. Ia bisa berpindah tangan, berpindah kota, berpindah bahasa, bahkan berpindah genre. Ia bisa keluar dari studio megah, masuk ke ruang latihan yang barangkali kipas anginnya lebih berisik daripada metronom, lalu tetap membawa sesuatu yang sama: sebuah perasaan dan estetika.

Dari ingatan itulah saya kemudian kepikiran untuk memahami liriknya. Tentu saja ulasan tentang The Spirit Carries On sudah banyak dibahas di media sosial, blog, video, dan berbagai tempat lain. Sekarang bahkan akal imitasi dapat menjelaskan hampir lengkap terkait lagu itu. Tetapi, naifnya, pikiran manusia mempunyai tabiat yang agak menyebalkan: ia terus mengulang pertanyaan yang sudah dijawab berkali-kali. Pembukaan lirik lagu tersebut, bagi saya, agak mengingatkan pada Dunia Sophie. Kalau sedang ingin lebih sok spiritual, saya bahkan bisa menghubungkannya dengan ungkapan yang sering dinisbatkan kepada tradisi mistik Islam, man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu. Hahaha. Saya sadar hubungan itu bisa terdengar terlalu dipaksakan, tetapi justru di situlah menariknya sebuah lirik: ia tidak hanya membawa maksud penciptanya, tetapi juga membawa kemungkinan pembacaan dari orang yang mendengarkannya.

“Where did we come from? Why are we here? Where do we go when we die? What lies beyond and what lay before? Is anything certain in life?” Enam larik pembukaan tersebut semuanya berakhir pada pertanyaan. Dan saya kira itu penting. Tidak ada satu pun yang berkata, “Inilah jawabannya.” Tidak ada dogma yang ditaruh di meja lalu meminta kita mengangguk. Hanya pertanyaan: dari mana kita datang, mengapa kita berada di sini, ke mana kita pergi ketika mati, apa yang ada setelah kita, apa yang ada sebelum kita, dan apakah ada sesuatu yang benar-benar pasti dalam kehidupan. Betul, kan? Sangat spiritualitas. Dan saya kira sesuai dengan dugaan saya sebagaimana terjelaskan dalam alinea sebelumnya. Ha-ha-ha. Tetapi semakin dipikirkan, semakin saya merasa bahwa pertanyaan itu sebenarnya tidak eksklusif milik agama atau filsafat. Ia milik manusia. Dan, mungkin, spiritualitas memang bermula dari keberanian mengatakan, “Saya tidak tahu.” 

Membicarakan–sebagaimana penjelasan sumber populer–The Spirit Carries On tentu tidak lengkap kalau tidak membicarakan sedikit tentang album kelima Dream Theater, Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory. Album studio kelima tersebut dirilis pada 26 Oktober 1999 oleh Elektra Records dan direkam di BearTracks Studios di New York, tempat Dream Theater sebelumnya merekam Images and Words (1992) dan A Change of Seasons (1995). Album ini merupakan kelanjutan dari “Metropolis—Part I: The Miracle and the Sleeper”, lagu yang sebelumnya muncul dalam Images and Words. Ia juga menjadi album pertama yang menampilkan Jordan Rudess sebagai keyboardist penuh Dream Theater. Pada 2012, album tersebut bahkan terpilih sebagai album progressive rock nomor satu sepanjang masa dalam sebuah polling Rolling Stone, mengungguli 2112 milik Rush dan Close to the Edge milik Yes. Semua informasi sejarah itu penting, meskipun tentu tidak pernah bisa menjelaskan mengapa sebuah album tiba-tiba menjadi bagian dari hidup seseorang.

Para penggemar sebelumnya memang telah meminta Dream Theater membuat sekuel dari Metropolis—Part I, tetapi gagasan tersebut belum segera terwujud. Pada masa pengerjaan Falling into Infinity (1997), band sempat merekam demo instrumental sekitar 21 menit berjudul Metropolis Pt. 2. Demo itu kemudian tidak dimasukkan ke album, tetapi sejumlah motif musik di dalamnya berkembang menjadi bagian dari versi final, terutama materi yang kelak dikenal melalui “Overture 1928”, “Strange Déjà Vu”, “The Dance of Eternity”, dan “One Last Time”. Sebuah karya besar kadang memang tumbuh seperti kenangan: mula-mula berupa potongan-potongan kecil yang belum kita ketahui akan menjadi apa. Kita baru mengenali bentuknya setelah semuanya selesai.

Kemudian Jordan Rudess masuk ke cerita tersebut. Setelah terlibat dalam Liquid Tension Experiment, Mike Portnoy dan John Petrucci menemukan bahwa menulis musik bersama Rudess terasa begitu mudah sehingga mereka mendorong anggota Dream Theater lainnya untuk menawarinya posisi keyboardist penuh waktu. Rudess menerima tawaran tersebut, sementara Derek Sherinian meninggalkan band melalui sebuah panggilan konferensi ketika ia berada di Los Angeles dan anggota lain berada di New York. Portnoy dan Petrucci kemudian menyatakan bahwa situasi itu tidak nyaman. Mereka bahkan tidak ingin meminta Sherinian terbang dari Los Angeles hanya untuk menerima kabar pemecatan. Di sini, seperti sering terjadi dalam sejarah seni, kita mendapati kenyataan yang agak lucu: musik yang terdengar begitu harmonis dapat lahir dari hubungan manusia yang tidak selalu harmonis.

Setelah kepergian Sherinian, Dream Theater kembali ke BearTracks Studios di Suffern, New York, tempat mereka sebelumnya merekam Images and Words. Kegagalan komersial Falling into Infinity justru memberi mereka kebebasan lebih besar dari label untuk menentukan arah album berikutnya. Mereka kemudian menyelesaikan cerita yang selama ini masih menggantung, dan versi akhirnya menjadi album konsep tentang Nicholas serta penemuan kehidupan masa lalunya yang melibatkan Victoria Page, cinta, perselingkuhan, pembunuhan, dan reinkarnasi. Cerita tersebut lebih terinspirasi oleh film Dead Again (1991) daripada semata-mata melanjutkan kisah “Metropolis—Part I”. Dengan begitu, Scenes from a Memory bukan sekadar album yang berisi lagu-lagu bagus; ia bekerja seperti novel yang dibaca melalui suara gitar, bass, drum, keyboard, dan vokal.

Setelah album dirilis, Dream Theater melakukan tur dan kemudian menyewa aktor untuk memerankan bagian-bagian naratif dalam pertunjukan mereka. Pertunjukan tersebut direkam dan dirilis sebagai Metropolis 2000: Scenes from New York pada 2001. Di dalam versi panggung itulah akhir cerita menjadi lebih terang. Nicholas tiba di rumah, menyalakan berita, menuangkan minuman untuk bersantai, lalu sebuah mobil datang. Hypnotherapist masuk dan (seraya) berkata, “Open your eyes, Nicholas.” Suara gramofon terdengar bersamaan dengan Nicholas yang terkejut, kemudian suara statis memudar. Rekaman album meninggalkan nasib Nicholas dalam ketidakjelasan, tetapi versi pertunjukan mengungkap bahwa Hypnotherapist, yang berkaitan dengan Edward, telah membunuh Nicholas dan menyelesaikan siklus itu sekali lagi. Kematian, dalam cerita tersebut, ternyata bukan akhir yang sederhana. Ia bahkan mungkin hanya sebuah pintu menuju pengulangan.

Sebagaimana nukilan di atas, saya mulai melihat The Spirit Carries On dari sisi yang lain. Saya kira, kehidupan memang berlanjut setelah kematian, tetapi, pertanyaannya bukan sekadar apakah kita akan hidup lagi, tetapi apakah kita akan menjadi lebih baik ketika hidup itu datang kembali. Karena, kehidupan yang berulang tanpa kesadaran hanya akan menjadi kesalahan yang diulang dengan kostum berbeda. Manusia bisa mengganti nama, tubuh, zaman, bahkan sejarah, tetapi jika kecemburuan, kekerasan, keserakahan, dan kemelekatan tetap sama, apa yang sebenarnya berubah? Barangkali yang kita sebut takdir kadang hanyalah kebiasaan yang terlalu lama kita pelihara. Aih. Jawabannya mari saya sampirkan pada yang berhak menjawab.

Setelah melihat keseluruhan cerita tersebut, sekurang-kurangnya yang bisa saya katakan tentang album ini adalah luar biasa. Album ini menceritakan balada, tetapi sekaligus menyentuh psikologi yang sangat biasa kita temui dalam diri sendiri. 

Saya ulangi sekali lagi:”If I die tomorrow, I’d be all right, because I believe that after we’re gone, the spirit carries on.” Bagi saya, lirik itu bukan terutama tentang keberanian menghadapi kematian, melainkan tentang keberanian mengurangi genggaman terhadap kehidupan. Sebab manusia memang takut mati karena manusia terlalu melekat. Manusia menganggap tubuh sebagai milik, orang-orang sebagai milik, pekerjaan sebagai milik, uang sebagai milik, bahkan keyakinan sebagai milik. Manusia sering berkata “ini saya”, “ini punya saya”, “ini hidup saya”, dan parahnya, seolah-olah hidup pernah menandatangani surat kepemilikan dengan manusia. Padahal, selaras banyak nasihat purba, semuanya sementara. Tubuh dipinjamkan. Waktu dipinjamkan. Orang-orang yang kita cintai dipertemukan dengan kita untuk suatu masa yang tidak pernah kita ketahui panjangnya. 

Atas realitas itu, saya merasa, kematian datang untuk mengingatkan bahwa apa yang kita sebut milik sebenarnya sejak awal adalah titipan. Kita marah ketika titipan itu diambil kembali karena selama bertahun-tahun kita sudah lupa bahwa kita hanya meminjamnya. 

Saya tidak tahu apakah the spirit benar-benar carries on. Saya tidak tahu apa yang ada setelah kematian, apakah ada kehidupan lain, apakah kesadaran berlanjut, atau apakah semua yang kita harapkan tentang kehidupan setelah mati hanyalah cara manusia membuat ketidaktahuan terasa lebih ramah. Saya juga tidak tahu apakah kemelekatan dapat benar-benar dilepaskan. Tetapi setidaknya sebuah lagu dapat membuat saya memikirkan semua itu tanpa merasa harus segera mempunyai jawaban. 

“Takut mati itu manusiawi,” ejek kawan saya setelah saya mendengarkan The Spirit Carries On puluhan kali guna menyelesaikan tulisan jelek ini. “Dan kalau berani mati juga manusiawi.”

Saya diam sebentar. 

“Asu!” teriak saya singkat.

Lalu lagu itu selesai. Dan untuk beberapa jam—saya tidak menyalakannya lagi lagu tersebut—saya malah takut mati!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top