Kami Sempurna pada Masanya

Ada satu kalimat yang sempat membuatku terdiam: “Jika dia kembali, apa kamu akan memberi kesempatan?” Satu kalimat yang membungkamku cukup lama, sekelebat bayangan masa lalu kembali menyapa. Tidak lagi menyakitkan, namun juga bukan hal yang mampu diterima oleh sang pemilik hati. Kembali kalimat itu datang dari seseorang yang kali pertama mendengar kisah pilu manusia yang gagal bersama.

“Tidak.” Satu kebohongan yang kemudian kulanjutkan agar tidak ada lagi sepasang mata yang menatap penuh curiga. “Jika kembali aku senang, hanya saja hati sudah berubah banyak.” Satu kalimat yang tidak mengisyaratkan penolakan hanya sebuah pernyataan dari hati yang terus diulang-ulang.

Dia terdiam. “Lalu apa sebab dua manusia yang dulu saling, harus berpisah sejauh ini?” Kalimat ini, aku sendiri pun tidak tahu apa jawabannya. Mungkinkah kami memang sepasang yang sedang tertunda atau kami bagian dari mereka yang gagal bersama, karena memang bukan jodohnya.

Aku sendiri pun kebingungan bagaimana bisa dua manusia yang dekat bisa begitu jauh di kemudian hari. Untuk keputusan yang ada saat usia masih belasan aku pernah menjadi salah satu orang yang mengutuk kebersamaan yang sudah, padahal manusia tahu jika yang datang tidak selalu menetap.

Untuk manusia yang pernah menjadi favorit memang menyakitkan jika dipisahkan, namun kita bisa apa dengan keputusan semesta. Hidup membawa banyak sekali luka tapi juga tidak pernah lupa memberi bahagia, tergantung bagaimana hati merasakannya.

Aku pernah membencinya, tidak ingin mendengar namanya, tidak lagi tertarik pada bahagianya. Namun anehnya, beberapa saat kemudian kerinduan datang dengan tidak tahu malunya. Begitulah hati berjalan, berulang-ulang seolah kebencian dan kerinduan adalah sepasang yang memang begitu.

Hingga suatu hari aku menyadari, mereka yang pernah memastikan bahagia kita ada, bukanlah orang yang patut kita beri doa buruk dan kebencian. Bagi gadis berusia tujuh belas tahun itu, perpisahan adalah cara paling kejam dari semesta untuk merenggut bahagianya.

“Kita sampai di sini saja, bahagia selalu, sedihnya jangan terlalu hidup harus berjalan semestinya”

Kalimat yang tidak pernah aku bayangkan akan keluar dari mulut manusia yang menyandang gelar terfavorit. Bagiku yang masih berusia belasan tahun, kalimat itu adalah goresan panjang yang tidak ada habisnya. Hari-hari yang kami bangun bertahun-tahun, doadan  harapan agar bahagia bersama tidak lagi memiliki arti.

Lalu untuk apa dua manusia harus sejauh ini jika perpisahan harus menjadi pilihan?

Hari itu begitu banyak doa buruk yang terucap, dari manusia yang merasa tersakiti untuk mereka yang terpaksa menyakiti. Hidup memang ada-ada saja kejutannya. Di usia itu bagiku manusia favorit telah berganti menjadi dia yang pandai melukai, yang hadirnya saja selalu aku sesali

Beribu kalimat tanya yang sibuk mencari siapa pemiliknya, hampir setiap hari kuhabiskan untuk mempertanyakan mengapa hidup begitu pandai mempermainkan hati.

“Bertahanlah, cari udara lain. Hidup selalu membawa kita pada hal indah jika hati mampu untuk merasakannya”

Satu kalimat dari manusia baik yang masih mau bermain pada hati yang sedang terluka. Pada teman, sahabat yang membersamai luka ini terima kasih selalu untuk baiknya.

Padanya laki-laki tujuh belas tahun: orang yang pernah kucintai adalah laki-laki berusia tujuh belas tahun. Dan yang mencintainya adalah gadis yang usianya sama. Kami tumbuh, hidup dan memandang dunia dengan cara paling sederhana. Kala itu, segala hal terasa mudah, ringan, dan tenang. Kami hidup dengan baik dengan memberi kabar kecil dengan pesan teks setiap pagi. Ah cinta di masa SMA memang sesederhana itu.

“Pernahkah kau membayangkan satu dua tahun nanti, hidup membawa kita untuk berpisah jauh?”

Kalimat yang tiba tiba menyapa pada sore yang kami habiskan dengan keliling kota. Langit jingga, indah seperti tidak akan redup. Seperti itulah perasaanku kala itu, aku tidak suka berandai andai dan menebak nembak masa depan.

Selalu ada satu perasaan, di depan nanti entah kapan kami pasti akan menjadi kenangan. Tapi bukankah kita harus menikmati yang ada sekarang, untuk apa sibuk menerka nerka jauh kedepan?

“Aku disini, masih dan selalu. Mungkin.” Kalimat yang dengan yakin kukatakan agar sore itu tidak berubah menjadi kelabu. Siapa yang tahu bahwa kekhawatirannya adalah kenyataan yang harus kami hadapi beberapa bulan setelah percakapan sore itu

Hati dan logika. Cinta dan masa depan. Cinta dan hati kalah telak, logika kami menang untuk membawa masa depan tanpa perlu saling memegang. Di usia itu, aku mengira cinta hanya tentang bertahan. Semakin lama kami bersama waktu akan berpihak banyak pada kami. Kami lupa bahwa hubungan tidak pernah sesederhana itu, ada keluarga, mimpi, pendidikan, pekerjaan, dan begitu banyak hal yang baru kami sadari beberapa tahun setelahnya.

Mungkin memang begitulah cinta di masa SMA, indah karena pikiran belum rumit, hati masih ringan dan dunia belum banyak bercanda. Untuk cinta yang bertahun tahun itu, sayang sekali harus berakhir. Padahal hati banyak membuat skenario bagaimana dua manusia akan bahagia bersama.

Tidak apa barangkali, kita bertemu bukan untuk bersama selamanya. Bukankah sebagian dari kita bertemu untuk saling tertawa, mendapat pelajaran dan memberi doa baik. Karena itu, yang tersisa hari ini bukan lagi cinta yang sama. Aku tidak tahu harus menyebutnya dengan apa, jadi kunamai saja “harapan baik.”

Bersama lagi atau tidak, takdir yang memegang itu. Karena jika memang milik, hati akan menemukan jalannya. Aku tidak lagi memiliki apapun untuknya. Yang masih kusimpan hanyalah kenangan indah, yang buruk mari lupakan. Barangkali, yang paling aku rindukan bukan dirinya, melainkan dua anak berusia tujuh belas tahun yang pernah percaya bahwa dunia ada di pihak mereka.

Dan untukmu…. Seseorang yang kini telah tumbuh menjadi laki-laki yang lebih baik. Jagalah dirimu! Berbahagialah selalu! Jangan pernah membenci apapun yang pernah kita lewati bersama. Jangan sampai di antara kita ada yang hidup dengan penyesalan, atau menganggap bahwa perasaan menjadi rumit hanya karena kita pernah saling memiliki.

Aku ingin kita mengingatnya dengan cara yang paling lembut: bahwa pernah ada dua anak berusia tujuh belas tahun yang saling mencintai sebaik yang mereka bisa. Mereka mungkin tidak berhasil berjalan sampai akhir, namun mereka juga tidak gagal. Mereka hanya selesai pada waktunya. Semoga semesta senantiasa memberi banyak kabar baik padamu. Senang berkenalan dan pernah berjalan beriringan.

Andani, mahasiswa yang senang menulis cerita-cerita reflektif tentang manusia, kenangan, dan perjalanan menjadi dewasa. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki masa yang pernah ingin diulang, tetapi pada akhirnya harus diterima tanpa banyak menyalahkan dan mempertanyakan.

Melalui tulisan, ia mencoba mengabadikan hal-hal yang pernah membahagiakan, bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk memahami mengapa masa lalu pernah begitu berarti.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top