Merangkum Sepuluh Hari ‘Selametan’ Lebaran Literasi dan Rilisnya “Teh Hijau” Sebagai Hadiah (Part I)

Paragraf pertama tulisan ini ditulis di pagi hari ketiga pasca BIL Fest 2026 selesai berlangsung. Hingga subuh tadi, aku masih menonton postingan instastory maupun feed dokumentasinya, tak terkecuali dari para volunteernya.

Sambil menunggu kepastian reservasi pijat, rasanya rebahan di pagi ini tidak rela aku lewatkan jika hanya dihabiskan dengan flashback kejadian sepuluh hari kemarin (dan sepuluh hari kemarinnya lagi). Sepertinya tidak ada salahnya jika flashback tersebut aku tulis juga, katakanlah ini upaya pengarsipan (versi lite, ya?). Semoga tulisan ini juga diterima sebagai bagian dari usahaku mengapresiasi para volunteer yang menyukseskan lebaran literasi sepuluh hari lalu.

Mas Koko Ganteng dan Para Volunteer Ganteng

Menurutku kehadiran Mas Koko Ganteng di hari pertama adalah rezeki. Pertama, gelar ‘Ganteng’ di ujung namanya memantikku dan beberapa teman untuk saling memanggil nama satu sama lain dengan awalan ‘Mas’ dan akhiran ‘Ganteng’. Agak geli, tapi seru juga.

Kedua, Mas Koko Ganteng menyampaikan tentang stimulasi afirmasi sebagai sesi rutin di setiap harinya. Termasuk tersematnya ‘Ganteng’ di ujung namanya sebagai afirmasi yang dianggap doa dari sekian banyak khalayak yang membaca nama tersebut dan tidak menutup kemungkinan sebagiannya mengetuk pintu langit sana untuk dikabulkan (jadi ganteng betulan, intinya begitu). Ya, sudah, hingga hari-hari berikutnya masih ada sekali dua kali panggilan tersebut digunakan walaupun tidak semasif di hari pertama. Setidaknya ada ‘Mas Irwan Ganteng’ dan ‘Mas Akbar Ganteng’ yang sepertinya sudah berdamai dengan sebutan itu hingga hari-hari terakhir.

Tapi jangan lupakan bagian tiba-tiba mati listrik sewaktu sesi Mas Koko Ganteng dan Mas Fajrul berlangsung. Mati lampu sampai magrib. Hari pertama langsung mati listrik. Kocak jadinya foto bersama Mas Koko Ganteng hanya mengandalkan flash dari ponsel.

Selametan: Tumpengan, Makan-makan, Pecah Tangis Kemudian

Sub ini adalah bentuk apresiasi kepada Mas Wafa yang kurang lebih selama sepekan terakhir sebelum BIL Fest berlangsung ikut meramaikan sekretariat yang tidak absen dari kopi hitam Arum dan Mas Fikri di pagi hari. Terlalu sabar meladeni sampai urusan makan siang kami percayakan ke Mas Wafa yang pergi ke Warung Sehati.

Selametan kemarin tepat di malam Jumat. Hari pertama yang tidak banyak agenda itu ditutup dengan tumpengan malamnya. Sesi internal bersama volunteer yang mendengarkan Mba Rahmi bercerita kilas balik titik nol BIL Fest hingga memasuki lebaran literasi tahun kedua. Sesekali aku menengok ke teman-teman volunteer, ada yang mungkin duduk bersila sambil menopang dagu, ada yang duduk memeluk lutut, ada yang duduk berdekatan seperti gerombolan, tapi semua posisi duduk tersebut adalah posisi menyimak Mba Rahmi yang duduk bersisian dengan Mas Neo dan Mas Fikri. 

Sejujurnya ada juga terharuku. Apalagi kalau diingat-ingat proses setahun ini yang tidak mudah. Aku pribadi bahkan mengalami mulai dari minus dalam hal percaya diri, bukan lagi dari nol. Sering ada rasa inferior yang memojokkan dan membuatku menjadikan warung seblak sebagai pelarian. Sehingga mendengarkan kilas balik Mba Rahmi tentu membuatku merasa ada kecocokan timelapse proses setahun ini.

Malam yang emosional itu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ustaz (betulan) ‘Kalcer’, Mas Alvin. Sesi doa bersama dibuka dengan dibacakannya (seingatku) sebuah puisi yang dilanjut dengan rangkaian doa. Hampir tidak ada doa yang dilafalkan kecuali dalam narasi berbahasa Indonesia, sehingga yang mendengarkan dan mengaminkan doa tersebut tidak semata hanya berdoa untuk formalitas, mungkin itu salah satu sesi berdoa bersama paling intim yang pernah aku ikuti.

Selanjutnya setelah pemotongan tumpeng, aku mengambil porsi makanku dan bergabung ke tengah volunteer, mendekati Arum dan Mas Wafa yang sejak tadi terlihat spesial bagiku. Dua orang yang tidak pikir panjang langsung mengiyakan kami berlima (Founder) yang membutuhkan ‘pertolongan’ menjelang lebaran literasi tersebut. Kami bertiga mengobrol tentang kesamaan di antara kami bertiga; sama-sama berstatus tiga bersaudara, aku dan kedua adik perempuanku, Arum dan kedua kakak perempuannya, Mas Wafa dan kedua adik laki-lakinya. Sesi makan malam yang memberi jeda untuk santai itu berakhir, lalu acara ditutup, lalu aku bersama Arum, Mas Fikri, Mas Wafa, dan Mas Zul selalu MC Opening Ceremony BIL Fest esok hari berkumpul. Tidak ada curiga sewaktu Mas Wafa memanggil Mas Tiko untuk ikut bergabung. Ya, cuma ajak Mas Tiko doang, kan?

Tapi setelah itu Mas Wafa memintaku, Mas Neo, Mas Fikri, Mas Fajrul, Mba Rahmi, dan Arum untuk berkumpul. 10 menit saja, katanya. Ternyata 10 menit itu mempengaruhi 10 hari ke depan.

Mas Wafa menyampaikan kabar baik. Tapi kabar itu juga mengharuskannya pamit. Aku salah satu yang paling lama diam. Selanjutnya aku dan Arum menangis bersama. Ah, terlalu bersahabat kita, Kak. Nangis pun berjamaah.

Aku belum memahami akan seperti apa sembilan hari yang tersisa. Heart rate-ku jelas tidak stabil sejak pagi, ditambah berita malam itu. Tapi malam itu setidaknya ada satu hal yang membuatku tenang; Mas Fajrul yang akan handle urusan logistik yang selama ini bersinggungan dengan penugasanku sebagai LO.

Opening Ceremony: Prolog yang Membuatku Bermonolog

Aku masih berspekulasi bahwa heart rate-ku baru normal setelah Opening Ceremony selesai berlangsung. Berarti setidaknya sampai hari kedua selesai. Sampai hari kedua, betis hingga telapak kakiku sering lemas, seperti orang yang terlalu lama berendam kakinya hingga kedinginan. Opening Ceremony tidak terlalu berkesan banyak buatku karena jelas aku lebih mirip gangsing yang berpindah-pindah. Hal yang paling berkesan buatku adalah memegang ponsel Mas Zul yang sedang membawakan acara, dan lewat ponsel tersebut sedang berlangsung zoom meeting perkuliahan daring. Aku menjadi mahasiswa bayangan S2 Teknik Sipil menggantikan si mahasiswa sebenarnya yang sedang memandu acara siang itu. 

Untuk menghilangkan segala kegelisahan, sesekali aku perhatikan sesi perkuliahan kelas Mas Zul itu, cukup menjadi selingan yang mendistraksi kekhawatiranku. Satu demi satu susunan acara yang berlangsung membawaku pada monolog dalam hati sambil berpindah posisi berdiri. Begitu terus sampai acara selesai dan aku menyalami guru SMA serta dosenku, lalu selesainya kuliah Mas Zul.

Pertama Kali Hujan Turun

Sesi sore setelah pembukaan adalah sesi pertama hujan turun. Pertama kali panggung mitigasi digunakan. Heart rate-ku berarti belum jadi normal. Hari pertama mati listrik, bagaimana seandainya hari kedua mati listrik juga?

Aku menyembunyikan kepanikanku dengan mengelap kursi besi yang sempat terguyur hujan. Aku tahu teman-teman logistik juga sedang menata kursi audiens di dekatku. Ada Mas Fikri dan Mba Isna yang tidak jauh dariku. Setelahnya sesi berlangsung dan aku pergi bersama Mas Fajrul, membeli titipan tas plastik titipan teman-teman di bazar buku, lalu menjemput Pak Nung (Borobudur Agency) dari Jakarta dan dilanjut dengan mengantarkan beliau ke penginapan.

Sesi Dansa: Dari Hujan yang Berhenti, Hingga Ketegangan Pertama

LitSprouts adalah kolaborator yang punya kesan tersendiri bagiku karena keberadaan Hesti, teman baik tetangga prodi semasa kuliahku, adalah salah satu punggawanya. Restu yang dengan sukarela menerima permohonan bantuanku untuk menjadi LO pengganti sangat rapi membersamai mereka. Hujan hari itu baru berhenti ketika sesi materi selesai dan akan dilanjut dengan sesi dansa di amphiteater.

Pengunjung dan volunteer yang ramai malam itu cukup menjadi tambahan PR bagi kami yang harus beradaptasi dengan realita dan segala hal insidental karena situasi sempat hujan. Malam itu aku berjejer dengan Restu sambil memegang Handy Talkie (HT) masing-masing. Mata kami sambil awas melihat sekitar dan telinga kami seperti sudah memiliki saluran koneksi tak tampak dengan HT. Lalu Akbar bergabung bersama kami, jadilah kami tiga orang yang sesekali menghela nafas dan menggelengkan kepala menonton sesi dansa. “LDR nggak related.” Itu kata Akbar.

Sesekali juga mendengarkan Mas Alvin dan Mas Fikri yang lebih mirip bercocokologi sesi dansa tersebut yang kebetulan berlangsung di bangunan peninggalan Belanda masa lampau. Mungkin karena terlalu lama menonton peserta berlatih dansa, aku dan Restu memilih duduk sebentar, lalu mengobrol tentang kisah asmara Restu yang bagiku sedang manis-manisnya. Tidak lama obrolan itu karena Mas Fajrul tiba-tiba mengajakku mengambil papan tulis yang akan digunakan untuk sesi-sesi hari berikutnya.

Waktu aku kembali, sesi malam itu sudah selesai. Aku lihat teman-teman logistik dibantu beberapa volunteer laki-laki menata buku yang sempat dipindahkan saat hujan ke suatu tempat dan dipayungi tenda sarnafil. Seperti lapak dagang buku yang baru karena tidak ada dalam konsep sebelumnya. Adaptasi yang cukup baik.

Tapi malam itu sepertinya memang melelahkan, buatku pribadi adalah hari dengan ketidakstabilan heart rate, lalu ketegangan pertama terjadi di bawah tenda tratak menjelang pukul sebelas malam. Semua selesai di malam itu juga, dan ketegangan di malam itu cukup berhenti di kami yang ada di situ.

Dimulainya Hari Ketiga, Dimulainya Hari Paling Sibuk Tingkat Kabupaten

Hidup di negara yang lagi banyak babak drama mengharuskan festival ini juga beradaptasi agaknya. Hari ketiga, ada agenda yang sepertinya serentak dilakukan di berbagai kabupaten atau kota, yaitu aksi unjuk rasa. Sebetulnya nggak berdampak secara langsung bagi kami, tapi penyelenggaraan festival di dekat pusat Purwokerto secara tak langsung mengajak kami memikirkan pengunjung dan berspekulasi. 

Bincang inspiratif pagi itu cukup spesial bagiku karena kedatangan seorang dosen yang cukup sering berdiskusi dan terbuka untuk membersamai prosesku, Bu Gita. Topik yang secara singkat aku pahami adalah diskusi mengenai kebahasaan dalam koridor kearifan lokal Banyumas hari itu dimoderatori sangat apik oleh Kang Wanto Tirta, Presiden Geguritan. Walaupun aku tidak mengikuti seutuhnya sesi tersebut karena menjemput Pak Nung dari penginapan, namun sesi itu tetap menerimaku sebagai seorang yang lahir dari lingkungan heterogen dan memiliki pengalaman mengesankan belajar bahasa daerah Banyumas ini, aku bercerita tentang pengalamanku berkenalan dengan ‘selawe’ yang berarti 25 semasa sekolah dulu.

Membersamai Pak Nung: Dari Obrolan di Ruang Tunggu Hingga ke Stasiun

Sejak berkomunikasi lewat WhatsApp dengan Pak Nung, aku sudah membayangkan bahwa Pak Nung adalah ‘cowok greenflag’ yang soft spoken dan menyenangkan. Di usia yang sudah kepala 7, aku harus mengakui bahwa beliau adalah pribadi yang menyenangkan dalam berbincang, setiap pertanyaan atau topik yang dilempar lawan bicaranya ditanggapi sebaik mungkin. Selayaknya seorang kakek kepada cucu, seperti itu yang aku rasakan saat mendengarkan cerita beliau tentang dunia literasi atau industri buku di masa lalu. Aku yang cenderung cerewet ini lebih banyak diam mendengarkan beliau karena sudah lama momen seperti ini tidak aku dapatkan (terhitung sejak kondisi kesehatan Eyang Kakung terus menurun dan berpulang di tahun lalu).

Aku tidak mengikuti utuh sesi bincang inspiratif Pak Nung dengan Bu Ambhita. Alasannya apa juga aku lupa. Aku sudah buka room chat WhatsApp group LO BIL Fest 2026, dan masih belum ingat yang aku lakukan siang itu, mungkin segala persiapan untuk sesi sore juga malamnya. Tapi selesainya sesi Pak Nung menjelang sore hari itu, aku sempat berfoto bersama Pak Nung dan Bu Ambhita sebelum akhirnya mengantar Pak Nung ke Stasiun Purwokerto.

Perjalanan ke Stasiun Purwokerto waktu itu agak emosional buatku ketika mendengarkan Pak Nung menceritakan istrinya yang berpulang setahun lalu. Kalau bahasa warga sosmed hari ini: istri Pak Nung adalah definisi perempuan yang dicintai secara ugal-ugalan. Beberapa jam sebelumnya Pak Nung baru melepaskan jaket di ruang transit pengisi acara sambil menyampaikan ke aku dan Mba Rahmi kalau jaket tersebut merupakan pemberian istrinya, “jaket ini dari istri saya, setahun lalu dia meninggal, jadi kalau lihat jaket ini saya masih teringat ke dia.”

Untungnya sore itu temanku yang berada di balik kemudi mobil cukup komunikatif membuka topik obrolan. Mulai dari menanyakan cucu Pak Nung sampai menerima nasihat tentang pernikahan untuk kami yang belum menikah. Untuk yang terakhir itu, Pak Nung tidak panjang memberikan nasihat karena sudah semakin dekat dengan tempat tujuan, tapi Pak Nung sempat menyampaikan bahwa baginya pernikahannya yang satu kali itu sudah cukup dan hari ini bahagianya sesederhana melihat cucunya bermain. Setelah itu Pak Nung berjabat tangan berpamitan dengan temanku, lalu aku turun mengantar Pak Nung sampai zona batas pengantar, mendengarkan satu dua kalimat dari Pak Nung, melambaikan tangan, lalu menangis sambil berjalan kembali ke mobil. Setahun lalu, aku dan Pak Nung sama-sama ditinggal orang yang kami cintai, tapi di hari itu aku mendengarkan Pak Nung menceritakan cintanya dan menghidupkan lagi nostalgia sore ketika aku menjadi pendengar bucinnya laki-laki sepuh yang setia. Sepanjang perjalanan kembali ke lokasi festival, aku menghabiskan jatah menangis sore itu, karena setelahnya masih ada tiga agenda di satu waktu yang menunggu untuk diselesaikan.

Tiga Agenda di Satu Waktu

Seperti yang aku sebut sebelumnya kalau hari ketiga adalah hari paling sibuk tingkat kabupaten. Minimalnya dalam hajatan sepuluh hari ini bisa dipastikan hari ketiga menjadi hari paling sibuk. Sesi 3 atau sore harinya langsung ada tiga agenda: bincang inspiratif di panggung utama, aktivasi lapak baca, sharing session pengalaman dari seorang awardee LPDP (Mba Miranti), dan temu penerbit di amphiteater. Ah, empat agenda ternyata, tapi beruntungnya aktivasi lapak baca oleh TBM Kalimosodo bisa dikolektifkan dengan sharing session bersama Mba Miranti sore itu. 

Ah, lagi, empat agenda itu dilipatgandakan kegiatannya. Hujan turun tepat di tengah semua sesi sore itu berlangsung. Kegiatan volunteer terutama Mas-mas logistik jadi bertambah. Aku yang tadinya di lapak baca bersama Mba Miranti dan beberapa teman sejak masih gerimis yang turun langsung pamit dan berkeliling ke tempat lainnya. Walaupun hari ketiga aku sudah tidak mengalami lemas secara tiba-tiba di betis hingga telapak kaki (seperti yang sering aku rasakan di hari pertama dan kedua), tapi mendadak hujan cukup menguji heart rate yang temponya mendadak disko.

Tapi semua agenda sore itu selesai meskipun aku tidak menetap di salah satu tempat. Dengan segala mitigasi dan gedibugan yang ada semua agenda berakhir. HT dan ponselku masih aktif semuanya, HT tersambung dengan teman-teman logistik dan ponselku seputar chatting dengan teman-teman LO, masih ada persiapan perlengkapan untuk sesi malam itu dan pihak-pihak penerbit yang perlu dibersamai (hormat setinggi-tingginya untuk Mizan, Semut Api, Buku Mojok, dan Ohara Books, selaku penerbit-penerbit yang meramaikan sesi temu penerbit tahun ini, sukses selalu!). 

Magrib itu aku duduk di sofa ruang transit sambil menghabiskan sebotol minuman elektrolit dan vitamin c yang dikirim kekasihnya Arum (aduh, kekasih). Tidak bisa berlama-lama karena notifikasi WhatsApp sudah mengabari kalau Aldy Amis dan tim sudah berada di lokasi.

Lima Mangkuk Soto dengan Jaminan Lanyard Panitia 

Momen ini mungkin menjadi salah satu momen paling berkesan buatku. Semua bermula dari aku yang sepanjang sore ‘memaksa’ seluruh panitia (terutama teman-teman konsumsi dan logistik) untuk mempersiapkan sesi dan riders Aldy Amis. Agak kaget juga kalau ternyata tim Aldy Amis yang riders-nya tidak ribet itu cenderung suka menu makanan khas daerah setempat, sedangkan teman-teman konsumsi sore itu belum membeli menu makanan khas karena informasi yang agaknya mendadak, ditambah mereka juga bingung dimana keberadaan Mba Rahmi yang memegang keuangan karena sore itu ada banyak tamu. Secara reflek setelah melihat jam aku meminta Mba Sulis dan Fatia untuk membeli soto di Sawangan, hanya itu opsi yang terlintas di pikiranku; makanan khas, secara lokasi tidak terlalu jauh, dan menurut hitungan waktu akan pas disajikan sebagai makan malam.

Hujan yang sempat berhenti kembali turun, deras, dan dua temanku yang sedang membeli soto belum juga kembali. Lalu notifikasi WhatsApp masuk dari salah satunya yang mengabarkan bahwa mereka terjebak hujan. Pening. Aku lihat jam yang semakin dekat waktu dimulainya sesi malam itu, pening, mulai panik. Setelahnya aku reflek menelepon Mas Fajrul, “Mas, tolong siapin mobil, kita ke warung soto di Sawangan. Ambil soto buat tim Aldy Amis, sekarang.”

Sepanjang perjalanan pandangan mataku hanya ke ponsel dan melihat jalanan di depan. Macet. Wajar karena hujan. Kemudian aku semakin gelisah karena ingat rute kami melewati alun-alun yang notabene dekat dengan lokasi aksi unjuk rasa. Biasanya di situasi begini aku kesal dengan penyebab adanya aksi unjuk rasa, bukan ke massanya, kalau yang ‘di atas’ nggak berulah setidaknya sore ini nggak ada aksi unjuk rasa. 

Setelah melewati kemacetan tersebut dan sampai di parkiran, aku buru-buru memasuki warung soto dan menemukan Fatia yang duduk mengenakan helm, di sebelahnya ada Mba Sulis yang sudah menenteng helm. Dugaanku mereka sudah siap kembali ke lokasi acara tetapi tiba-tiba hujan deras turun. Melihatku datang kami segera melakukan estafet satu kantong plastik besar berisi lima porsi soto dan kantong plastik berikutnya yang membungkus lima mangkuk hasil meminjam dari warung tersebut.

“Ini serius mangkuknya pinjam?”
“Iya, Mba. Kita tadi izin, kok. Katanya boleh.”
“Ooh, oke. Bener, ya.”
“Iya. Lanyard BIL Fest punya Fatia ditinggal di sini.”
“Lah, jaminannya lanyard?”

Shock. Di antara KTP, SIM, STNK, BPKB, sampai surat tanah yang biasanya dijadikan jaminan, muncul lanyard panitia BIL Fest. Ya, wajar juga kalau yang dipinjam mangkuk dengan jaminan lanyard. Tapi bagiku tetap komedi. Lanyard BIL Fest yang didesain Mas Neo itu sudah selevel KTP, kah?

Setelahnya aku kembali ke parkiran dengan membawa Fatia juga karena hanya ada satu mantel hujan yang berarti hanya bisa dikenakan oleh satu di antara Mba Sulis atau Fatia. Di perjalanan kembali ke lokasi acara yang masih hujan itu Fatia baru menceritakan kalau kartu perpustakaannya juga dijadikan jaminan dari mangkuk-mangkuk tersebut. Literasi sudah seberharga ini, guys. Apresiasi untuk Raja Soto Lama H.Suradi, sebagai warung soto yang secara tidak langsung sudah menghargai literasi dengan harga yang tak kecil.

Drama soto ini belum selesai. Sesampainya di sekretariat kelima porsi soto ini langsung dibuka dari plastiknya dan dipindah ke para mangkuk. Waktu itu aku dibantu Akbar menyiapkan lima porsi soto tersebut, sudah tidak peduli dengan estetika soto melihat topping yang justru di bawah dan ketupat di bagian atas, yang penting sudah ada dan siap disajikan (kami berkali-kali diberi pesan oleh penjual sotonya kalau kenikmatan soto ini hanya berlangsung dua jam sejak disajikan, jadi harus segera dinikmati). Dengan dipayungi oleh Rafi, aku dan Akbar sampai di ruang transit Aldy Amis dan tim mengantar kelima soto tersebut. Setelahnya aku meminta bantuan kepada Mas Febrionik untuk menjelaskan cara menikmati soto tersebut kepada Mas Aldy Amis beserta timnya. 

Beberapa kali aku ke ruang transit untuk memantau nasib si soto, apakah bisa dinikmati? Sampai akhirnya aku memasuki ruang tersebut dan mendapati kelima mangkuk soto tersebut isinya ludes. “Enak, kok. Tadi kita bahas, hujan begini enak kali ya makan yang berkuah. Eh, disuguhi soto. Pas!” Itu kata salah satu tim Aldy Amis. Memang ajaib soto ini.

Sesi Aldy Amis malam itu ramai pengunjung. Purwokerto sepertinya cukup siap untuk mengapresiasi karya. Malam itu terasa intim dengan lirik-lirik kritis yang dibawakan Aldy Amis. Walaupun hujan kemudian turun dan aku yang duduk di sebelah seorang tim Aldy Amis melihat sang musisi memberi kode sempat tersengat setrum aliran listrik, penonton tidak bubar dan dengan sukarela berpindah ke bawah tratak saat diminta untuk bergeser dari panggung utama.

Ah, iya, di malam itu untuk pertama kalinya aku berdoa dipimpin secara Kristen saat berdoa bersama tim Aldy Amis sebelum manggung. Ini akan jadi pengalaman yang mungkin aku ceritakan berkali-kali ke banyak temanku. Malam hari paling sibuk tingkat kabupaten tersebut berakhir dengan menemani Aldy Amis dan timnya merokok di ruang transit. Selesai sudah hari seorang aku mengenakan pakaian dominan hitam.

Kalau boleh memberi apresiasi besar untuk hari tersebut, aku akan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya untuk teman-teman konsumsi atas dedikasinya menyiapkan lima porsi soto beserta mangkuknya dengan lanyard sebagai jaminannya. Terima kasih bersedia diajak kerjasama di situasi yang tidak terduga. Terima kasih juga karena nggak mutungan, meskipun pasti mumet dan kesel. Rispek!

Menepi Sesaat di Hari Keempat

Hari keempat adalah hari dengan agenda yang tak kalah padat. Di hari yang padat ini aku tetap berangkat ke lokasi acara, tapi kemudian diantar Rafi ke stasiun untuk bertemu Bu Nisa dan Menjemput Bu Elizabeth yang akan berduet di sesi bincang inspiratif sorenya. Kami tidak hanya bertiga, ada juga Mba Risma, mahasiswi Bu Nisa yang berarti kakak tingkat almamaterku. Pagi hingga siang itu kami habiskan di Cibun, sebuah desa yang sepertinya merupakan satu bagian kerak surga di  Banyumas.

Kami bertemu seorang keturunan penembang Babad Pasir Luhur, tiga remaja perempuan, dan seorang anak laki-laki yang menembang di hadapan kami. Sesekali kami bertanya tentang Babad Pasir Luhur dan gambaran tradisi lisan ini berlangsung di masa lalu. Siangnya kami makan ikan kali, sayur daun ubi, olahan serai (sereh), dan sambal sebagai pelengkap. Sesi makan siang adalah sesi yang paling aku nikmati hari itu, bukan karena lapar, tapi seperti diberi jeda untuk makan dengan khidmat.

Setelahnya, Bu Elizabeth memilih curug di desa tersebut sebagai tempat yang kami kunjungi sehabis makan siang. Kami berjalan kaki menuju curug yang masih belum terjamah itu. Karena tidak dikelola sebagai tempat wisata, kami harus menyesuaikan diri dengan medan yang tidak ramah untuk berjalan biasa saja, bebatuan sebesar rak sepatu hingga sebesar lemari pakaian (bahkan lebih) adalah satu-satunya jalan yang harus kami tapaki. Alas kaki kami diletakkan tak jauh dari tepi jalan, lalu kami melompat dan memanjat bebatuan demi bebatuan sampai ke ketinggian tertentu. Jujur, seru. Kami duduk-duduk di bebatuan cukup lama, memandangi air yang mengalir, memainkan ranting-ranting yang jatuh, mendiskusikan apa saja (tapi yang utama adalah Babad Pasir Luhur), berfoto sesekali, berteriak mencoba peruntungan memanggil lutung di hutan atas. Ini jadi salah satu pengalaman sebagai LO yang paling berkesan.

Perjalanan kembali dari curug diisi dengan obrolan bersama ibu-ibu petani tentang sulitnya bertani padi yang tak seperti nenek moyangnya lagi. Berkali-kali aku dan Bu Elizabeth memikirkan hal yang sama; tanah sesubur ini kenapa harus dibuat ribet bertaninya? Kapitalisme, kah?

Setelah menyeberangi jembatan sebagai satu-satunya akses jalan menuju desa, kami melanjutkan perjalanan menuju Hetero Space Banyumas, lokasi festival berlangsung. Sore itu, sesi Bu Elizabeth berbincang dengan Bu Nisa, adalah sesi bincang inspiratif teramai yang terjadi dalam kurun waktu empat hari.

Aku tidak mengikuti sesi tersebut secara keseluruhan karena harus ke stasiun menjemput pembicara untuk esok hari, tapi selama aku pergi sore itu hujan turun, dan ketika aku kembali justru dibuat kaget dengan forum yang justru sudah lebih ramai meskipun sesi diskusi berpindah ke panggung mitigasi di bawah tratak. Bahkan ketika waktu sudah menunjukkan tenggat kurang dua menit, penanya pertama baru mengangkat tangan dan seluruh forum masih khusyuk menyimak, padahal Bu Nisa selaku moderator sudah melihat ke arahku seperti gelisah mengingat sisa waktu. Tapi selama Bu Elizabeth, Bu Nisa, dan seluruh forum tidak keberatan dengan perpanjangan waktu, aku biarkan saja diskusi itu tetap berlanjut. Tepat saat magrib sesi tersebut selesai, lalu setelah segala sesi foto bersama dan ramah tamah, Bu Elizabeth bersamaku dan Mas Fajrul menuju Stasiun Purwokerto. 

Sore itu, aku perlu mengapresiasi teman-teman ticketing dan among tamu, karena membludaknya pengunjung sesi tersebut jelas menuntut kesiapan mereka yang belum tentu siap. Keren, teman-teman!

Hujan dengan Suasana yang Tidak Sejuk

Setelah mengantar Bu Elizabeth ke stasiun dan menjemput Mas Haikal dari penginapan, aku menghabiskan waktu di sekretariat sambil satu dua kali menengok sesi diskusi malam bersama Mba Artie dan Mba Raras. Malam itu masih ada sisa hujan, tapi malam itu tidak sejuk, cenderung panas, mungkin sesuai dengan tema diskusi yang sedang berlangsung. Aku makan malam di sekretariat sambil merenung sedikit yang sudah aku lewati seharian; aku memang tidak jadi war tempat duduk di sesi mendongeng Syakirinu, tidak juga ikut menjadi jamaah bincang inspiratif Mba Miranti dan Mas Huda yang sebetulnya masuk wishlist pribadiku, tapi aku diberikan ganti berupa pengalaman berkesan bersama seorang dosenku, seorang kakak tingkatku, dan Bu Elizabeth ke Cibun yang aku sebut bagian dari kerak surga. Kalau kata Azki, salah satu LO, “Mba, seharian nggak kelihatan tiba-tiba wall climbing (di Cibun).”

Hari itu ditutup dengan duduk-duduk di samping sekretariat, deep talk dengan Irwan yang sepantaran adik bungsuku, sebelum akhirnya mengantar Mba Artie kembali ke penginapan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top