
Mungkin kedengarannya lebay, hanya sebuah buku tapi relevan sepanjang masa. Namun kenyataanya, isi filsafat dalam buku ini diciptakan untuk menghadapi situasi sulit atau masalah yang selalu menjadi bumbu kehidupan. 2.300-an tahun yang lalu, Zeno-pencetus filsafat stoisisme, saat itu sedang berada di titik terendahnya karena kapal yang ditumpanginya tenggelam. Seluruh barang dagangan mahalnya habis ditelan laut, dirinya terdampar di sebuah pulau sebatang kara. Bagaimana dia bisa bertahan dalam situasi sesulit itu?
Jawabanya ada pada ilmu filsafat di buku Filosofi Teras. Filosofi Teras sendiri sebenarnya adalah terjemahan asli dari filsafat stoisisme. Namun, menurut penulis, orang-orang kesulitan menyebut kata stoisisme, sehingga munculah ide untuk menyebut ilmu filsafat ini menjadi Filosofi Teras. Mengapa dinamakan filsafat stoisisme?
Dahulu Zeno mengajarkan ilmu filsafatnya di teras berpilar atau tempat pertemuan banyak orang, zaman sekarang mungkin seperti alun-alun kota. Teras berpilar merupakan makna asli dari kata Stoik yang berasal dari bahasa Yunani. Kata dasar Stoik inilah yang kemudian menjadi Stoisisme/Stoikisme.
Henry Manampiring-penulis Filosofi Teras-adalah salah satu penganut stoik yang membagikan pengalamannya menerapkan ilmu filsafat stoisisme dalam kesehariannya. Ia merasa setelah mempelajari stoik hidupnya terasa lebih tenang. Yang awalnya kemacetan adalah musibah besar, setelah belajar menerapkan stoik ia mulai bisa mengendalikan emosinya dan menemukan solusi terbaik menghadapi kemacetan. Sekarang, terjebak macet bukanlah sekedar buang-buang waktu bagi Om Piring, melainkan waktu luang yang bisa diisi dengan hal produktif untuk menambah wawasan seperti membaca. Dari sinilah stoik mengajarkan untuk belajar mengendalikan emosi negatif seperti marah, sedih, kesal, iri, dan sebagainya agar hidup terasa lebih tenang.
Begitupun dengan saya, setelah membaca buku ini rasanya terdorong untuk ikut mengamalkan stoisisme dalam hidup yang singkat ini. Jika dipikir ulang, untuk apa kita harus menghabiskan hidup untuk memusingkan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Siap-siap kecewa aja cuyy kalau kata Om Piring. Omongan orang lain selalu jadi bahan overthinking, padahal kan suka-suka mereka mau ngomong apa, kita tidak ada kendali atas itu.
Saya juga baru menyadari bahwa selama ini selalu menggantungkan kebahagiaan kepada hal-hal di luar kendali seperti popularitas, opini orang lain, kehadiran orang lain, dan masih banyak lagi. Ketika itu terpenuhi memang sangat bahagia tapi sekalinya tidak sesuai ekspektasi, boom! Langsung jadi manusia paling sedih di dunia, masalah bukan? Rasanya buku ini sangat relevan karena kita tidak mungkin hidup tanpa masalah. Sesimpel tidak sengaja makan mentimun pahit, itu bisa jadi masalah. Jika kita di posisi itu mungkin spontan marah bahkan mengeluarkan kata-kata yang ada di kebun binatang. Padahal tinggal buang aja apa susahnya?
Buku ini mengajarkan beberapa poin penting untuk manusia seperti kita dalam menghadapi hidup. Pertama, hidup selaras dengan alam atau hidup sebaik-baiknya sebagai manusia. Secara alamiah manusia memiliki akal sehat, nalar, dan rasio yang membedakannya dengan binatang. Hidup selaras dengan alam artinya kita harus selalu menggunakan rasio tersebut dalam bertindak, bukan dikendalikan oleh hawa nafsu atau emosi sesaat.
Kedua, dikotomi kendali, yaitu membedakan hal-hal yang ada di dunia ini menjadi dua yaitu berada di bawah kendali kita (pikiran, opini pribadi, persepsi, pikiran, dan tindakan kita sendiri) dan di luar kendali kita (opini orang lain, pemikiran orang lain, kesehatan, kekayaan, popularitas, fenomena alam). Kebahagiaan sejati hanya dapat diciptakan oleh diri kita sendiri, menggantungkan kebahagiaan kepada hal-hal di luar kendali kita dinilai tidak rasional karena hanya melelahkan dan menciptakan ruang kesedihan (ketika tidak terpenuhi).
Dalam situasi sesulit apapun, kita masih memiliki pemikiran kita sendiri yang mampu menciptakan kebahagiaan dari bagaimana cara kita memaknai masalah yang sedang dihadapi. Apakah kita akan terus menyalahkan keadaan yang notabene itu di luar kendali kita atau mencoba mencari solusi dari pemikiran atau akal yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.
Ketiga, mengendalikan interpretasi dan persepsi kita. Stoisisme memisahkan antara impresi (fakta objektif suatu perisitiwa yang dapat ditangkap panca indra) dengan representasi (interpretasi atau pemaknaan kita terhadap fakta tersebut). Semua kejadian pada dasarnya adalah bersifat netral, tetapi persepsi subjektif kita yang membumbui fakta atau peristiwa tersebut sehingga menjadi positif atau negatif. Jadi, kekhawatiran, stress, kesedihan itu tidak datang dari peristiwa itu sendiri melainkan persepsi kita yang melabeli peristiwa tersebut menjadi hal buruk.
Pada bab ini juga dijelaskan tips ketika emosi negatif mulai muncul yaitu S-T-A-R (Stop, Think and Asses, Respond). Ketika kita mulai merasakan emosi negatif cobalah untuk stop, kemudian pikirkan dan nilai menggunakan akal, dan outputnya respon berdasarkan rasional.
Ketika saya mengadakan diskusi dengan orang-orang yang telah membaca buku ini, ada beberapa yang kurang setuju dengan satu dua poin dari buku ini. Seperti anggapan bahwa dikotomi kendali terlalu mengajarkan untuk pasrah pada keadaan, nyatanya jika diteliti lebih dalam buku ini memberikan counter untuk pernyataan tersebut. Seperti pada bab memperkuat mental yang mengajarkan imunisasi mental atau memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi sehingga kita mampu mengantisipasinya.
Menurut saya buku ini sudah cukup jelas dalam menggambarkan isi dari stoisisme, namun kurang runtut sehingga memunculkan persepsi lain seperti contoh di atas. Apalagi bagi pemula seperti saya yang masih awam dengan ilmu filsafat. Selebihnya bahasa mudah dipahami dan gaul. Lebih santai tidak terlalu kaku yang memunculkan kesan asik saat membacanya.
Setelah membaca buku Filosofi Teras, saya telah mencoba melakukan S-T-A-R dalam menghadapi emosi negatif. Rasanya memang sulit sekali mengendalikan emosi negatif, tetapi mulai ada alarm dalam otak yang seolah menuntut untuk coba lakukan dan terus mencoba. Efeknya jauh lebih tenang ketika dalam situasi sulit, ada pemikiran yang berbeda dari sebelum saya membaca tentang stoisisme ini. Dari sinilah harapannya saya dapat menciptakan kebahagiaan sendiri tanpa menggantungkan kebahagiaan pada orang lain atau hal-hal di luar kendali.
Karina Fryda Setia Ayu, atau akrab disapa Karina, merupakan mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Gadis kelahiran Banyumas, tahun 2007 ini adalah peraih penghargaan Genzu Terbaik 2025 serta Duta FEBI Intelegensia 2025. Di sela kesibukannya, ia gemar mengeksplorasi hobi memasak. Saat ini ia tinggal di Desa Kalisalak, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Untuk menjalin komunikasi dan kolaborasi, Karina dapat disapa melalui Instagram @karinafryda_




