Dongeng Peri Kapuk

Angin sepoi melambaikan rambut Peri Androgini yang keperakan. Mereka bukan lelaki, bukan pula perempuan. Badan mereka yang ramping serupa tangkai bunga, berwajah kelopak dandelion yang kuning cerah, sekilas mirip dandelion asli di taman mereka. Hanya saja mereka memakai jarik yang dirajut apik dari daun-daun rumput.

Para peri yang bertugas menyiram dandelion sesekali menyemprot kumbang tanduk yang hilir mudik. Tripun membuyarkan sekelompok peri yang menggerombol di satu titik. Ia menyuruh agar berpencar untuk memastikan kesuburan dandelion di taman mereka. 

Sementara itu, Tripin sibuk memeloroti jarik para peri lalu lari sembunyi di balik kawanan kumbang. Kadang ia sengaja mematahkan selang, lalu pura-pura panik dan melapor kepada kakaknya, sehingga Tripun amat kesal karena harus mengubah batang-batang kangkung muda untuk dijadikan selang air yang lentur. 

“Siapa pun cepat kemari! Kalian harus lihat ini!” 

Sebuah ketakutan lama yang menghantui mereka kini benar tiba. Seperti yang selalu diberitakan tetua: bahwa jika ada dandelion yang layu, itu artinya ada anak kampung yang tidak bahagia, dan pasti salah satu peri dijatuhi sakit. 

Wajah Tripun gusar. Matanya terbelalak melihat satu dandelion yang serbuknya menghitam—merunduk layu. Ia langsung lari menembus para peri yang bergerombol. Ia khawatir dengan keadaan tetua peri di rumah pohon kapuk.

Apa dikata, dugaannya benar. Tetua tergeletak lemas di kursinya. Matanya setengah terpejam. Tangannya melambai tak berdaya kepada siapa saja. Dengan suara parau ia menyuruh siapa pun segera pergi menuju Mandala Padma, bunga lotus penentu takdir yang tersembunyi di danau seberang. Mereka harus ke sana untuk melihat nama anak itu. Tripin yang tertinggal di belakang sempat dipanggil tetua, “Serbuk sari yang keluar nanti tolong simpan baik-baik ke dalam kantong ini.”

Kesakralan Mandala Padma sudah terasa dari beberapa meter. Tripun mendaratkan kumbang tanduk di bundaran teratai diikuti yang lain. Bundaran-bundaran itu memutari lotus serupa motif batik. Mereka begitu khidmat menanti segurat nama, tapi tidak dengan Tripin. Ia asyik melompat dari bundaran satu ke bundaran lain. 

Setelah tujuh bundaran diinjak bersama, kelopak lotus perlahan merekah. Serbuk sari terbang berputar di udara serupa kabut bercahaya. Partikel itu menyusun diri menjadi huruf-huruf yang melayang di atas kelopak, membentuk sebuah nama: Junjun Munawaru, lalu kembali berputar-putar dan membentuk seraut wajah anak kecil. 

Serbuk itu kemudian memadat menjadi dua bola kecil. Tripin langsung menangkapnya dan memasukkan ke kantong.  

***

Seraut wajah awas mengendap-endap di balik pintu. Ia baru saja mau menyentuh lantai, seolah yakin bisa cepat-cepat masuk kamar lalu menguncinya dari dalam. 

“Kemari kau,” ucapnya dingin. Tangannya bersedekap. Matanya menodong tajam.

“Sudah berapa kali kubilang, jangan pulang surup-surup!

“Sini. Lihat ini.” Ia menjewer kuping anak itu sembari menjolokkan kertas ujian matematikanya.

“Kemarin 50, sekarang? 30 itu nilai apa? Malu ibu, Nak!” Kertas ujian ditampar-tampar di depan wajahnya. Junjun hanya menunduk.

“Mulai besok, kau tak boleh lagi main sore-sore. Pokoknya belajar matematika sampai pintar. Kucarikan guru privat.”

“Tapi Bu,”

“Sudah, cepat masuk kamar!”

Bukannya masuk kamar, ia malah berlari keluar sambil menangis, menggedor pintu rumah sebelah. Rumah neneknya.

Di balik selimut tebal dua makhluk kembar kecil menyelinap di samping bantalnya. Satu tersenyum bijak, satu lagi tersenyum lebar. Junjun terperanjat melihat wujud mereka.

“Jangan takut, kami adalah kawanmu, Tripin menenangkan dengan isyarat jari mengunci bibir.

“Siapa kalian?” tanyanya ketakutan.

“Kami adalah malaikat pemberi kebahagiaan. Ikutlah bersama kami, Junjun. Setelah kau bahagia, kami akan mengembalikanmu lagi,” imbuh Tripun.

“Ya, aku mau ikut kalian, malaikat,” tukasnya dengan wajah gembira.

Tripin melempar bola serbuk lotus ke badan Junjun. Junjun terpukau. Ia berubah menjadi peri, sementara bola kedua tetap disimpan untuk mengembalikan Junjun menjadi manusia.

Suara derit pintu terdengar pelan. Sang nenek masuk kamar. Ia baru saja memarahi ibu Junjun yang menurutnya terlalu keras mendidik anak. Ia lalu menyibak selimut, dan ternyata hanya guling gambar spongebob meringis mengejeknya. 

Saat itu pohon kapuk sedang berbuah. Para peri berbondong menempatinya sebagai rumah gantung. Junjun amat takjub dengan apa yang sedang dilihatnya. Para peri menyambutnya dengan ceria. Seperti teman-teman kampungnya saat kedatangan teman baru. 

Tripin sekonyong-konyong menyentil petugas lampu yang tertidur di balkon. Ia lupa bahwa hari sudah mulai gelap. Petugas itu pun menuju kandang tonggeret diikuti oleh Tripin. 

“Aku saja yang memegang talinya,” ucap Tripin girang.

“Sini Jun, lihatlah ini,“ Tripin menyeret tonggeret ke atas pohon. Junjun berjaga di sampingnya. Tonggeret pun menyenandungkan bunyi terompet. Tripin lantas meloncat-loncat gembira. Kerlip noktah kuning kehijauan menyerbu ke arah mereka. Kunang-kunang yang dikontrak sebagai lampu pun datang. Mereka menempati posisi di sudut-sudut rumah dan di sudut-sudut taman.

Seminggu lamanya Junjun menetap di sana. Waktunya sering dihabiskan bersama Tripin naik kumbang tanduk, bersantai di Mandala Padma, berburu tonggeret, atau berkunjung ke kerajaan kunang-kunang. 

Di sebuah kamar kecil, ia terdiam menyaksikan mega merah yang mulai redup dari jendela pohon. Pendar lampu kunang-kunang begitu memanjakan mata. Akan tetapi, ia teringat pada jeweran kala itu di magrib kala ini. Ia tak bisa membohongi lubuk hatinya sendiri, bahwa ia sebenarnya kangen pada ibunya. 

***

Dandelion yang dulu layu kini sehat lagi, begitu pun juga tetua peri. Hari itu Tripun berencana mengembalikan Junjun, karena ia sudah bahagia. Akan tetapi, tetua merasa berat. Ia takut jika anak ini sedih lagi. Junjun pun dipanggil,

“Junjun, sebetulnya kau ingin kembali atau menetap di sini? Kalau manusia tak bisa memberimu kebahagiaan, buat apa kau kembali ke sana?” Junjun tak menjawab. 

Sementara itu, kampung sedang geger. Ada yang berpendapat bahwa Junjun diculik penjual organ tubuh anak kecil yang saat itu heboh di berita televisi. Mereka sengaja mengincar Junjun sebab ia anak orang kaya. Satu lagi berpendapat bahwa Junjun diculik wewe gombel yang malam itu menjelma anak kecil dan mengajaknya main dari luar jendela. Sudah seminggu lebih Junjun tak ditemukan. Polisi pun belum memberi kabar lebih lanjut. 

“Ibumu itu lemah. Mendidik anak kok begitu. Kamu juga, harusnya tak perlu main tangan. Kan bisa dibuat lebih sopan,” ucap pria kekar di sebuah ruang tamu.

Ibu Junjun tersenyum tipis. Ia bersedekap sambil mengayun-ayunkan ponsel. Pecahan luka yang berkeping disembunyikannya rapi-rapi di balik topeng. Ia pun beranjak dari sandaran dinding.

“Tak usahlah kau bahas-bahas lagi soal Junjun. Bukannya kau sendiri suka memukul?”

“Tapi sebentar, memangnya selama ini, kemana saja kau sepulang dinas? Kau pun akhir-akhir ini jarang di rumah kan?” ucapnya sembari berjalan memutari suami. 

Di hadapan pria yang lebih tinggi lima senti itu, ia mendongakkan kepala. Ditatapnya mata prajurit itu lekat-lekat. Wajahnya gagap melihat mata sang istri yang memerah tergenang air saat disodorkan padanya video mesum yang telah beredar. Rintihan birahi yang berpadu dengan jerit perempuan jalang itu disetel keras-keras. 

Si suami terdiam, seolah terpojok oleh anak-anak panah. 

“Sayang, tolong dengar…”

“Hah apa kau bilang? Sayang? Jangan lagi kau panggil dengan nama itu. Jijik!.”

“Sekarang juga pergi dari rumahku. Pergi!” Murka melumat habis kesadarannya. Foto pernikahan yang terjejer di dinding, dibantingnya tanpa sisa. Tetangga sebelah pun segera merapatkan kuping. 

*** 

“Aku mau pulang saja, jawab Junjun berat hati. 

“Baiklah, aku harap mereka bisa lebih serius merawat kebahagiaan Junjun,” ucap tetua pada Tripun saat pamit mengantar Junjun. 

Sesampai kamar, bola kedua dilempar. Junjun tetap menjadi peri. Tripun panik lalu melempar bola itu lagi, tapi tetap tak mempan. Rupanya bola itu hanyalah gumpalan serbuk dandelion yang dipadatkan dengan lem tebu. Lantas ia kembali ke rumah kapuk dan bertanya pada Tripin, tapi Tripin sangat lihai menyulap dusta menjadi gusar yang natural. 

Tetua tahu bahwa Tripin sangat berat ditinggal Junjun. Ia tak mau kehilangan teman barunya. Lantas tetua membujuk, 

“Jika kau ingin terus bersama Junjun, buanglah bola kedua agar ia menjadi peri selamanya dan hidup bersama kita di sini.” 

Dengan itu, tetua tak perlu risau dengan kesedihan Junjun, sebab tak akan berefek apa-apa pada bangsa peri. 

Tripun kembali muncul membawa kabar hampa, bahwa ternyata ia tak menemukan bola kedua. Junjun langsung menangis seketika. 

“Kalau badanku masih seperti ini, ibuku pasti ketakutan.”  

“Maafkan aku Junjun. Lebih baik kita kembali ke rumah kapuk saja, barangkali bola itu ketemu.”

“Aku tak mau! Pulanglah sendiri. Aku ingin tetap di sini,” suaranya terisak sesenggukan.

Pagi-pagi seorang ibu berseragam dinas membuka pintu. Ia selalu teringat momen mengantar Junjun ke sekolah yang searah dengan rumah sakit tempatnya bekerja. 

Di saat kolam rindu digenangi air, sebuah hempas menyeka batinnya ketika ia hendak memasang sepatu di hadapan bunga baru yang terbit di taman rumahnya. Ia mengelus-elus kelopak dandelion itu. Jarinya basah. Lantas ia mengendusnya dalam-dalam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top