Mozaik Kanon: Cinta dalam Tiga Kacamata

Riak air di pinggir Danau Toba
Sekawanan burung di Pohon Ketapang
Tak ubahnya adalah cinta
Segudang doa, maaf, dan kasih sayang

Selamat siang warga Indonesia. Salam sejahtera untuk kita semua. Berjumpa lagi kita dalam Mozaik Kanon: rubrik santai untuk ngomongin fiksi yang udah disemai di hari Sabtu dan Minggu yang lalu. Mozaik Kanon kali ini akan ngobrolin tulisan fiski yang tertanam di bilfest.id pada tanggal 25 dan 26 April 2026. Berupa tulisan cerpen dan puisi yang ditulis dengan hati dan hati hati. Karena apa yang ditulis dari hati akan sampai ke dalam hati.

Mozaik Kanon edisi ini akan menanggapi sedikit saja – karena yang banyak cukup notifikasi BCA saja – tentang tiga karya fiksi pada minggu lalu. Pertama, cerpen “Hati yang Tak Dikehendaki” karya Faisal Fadhli, penulis asal Pasuruan-Jawa Timur. Kedua, puisi “Rekonstruksi Peta dari Jahitan Luka dan Puisi Lainnya” karya Noorma Paramitha, seorang pustakawan asal Semarang. Ketiga, puisi “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 12)” karya Abdul Wachid BS, sastrawan asala Yogyakarta yang meraih penghargaan Mastera pada 7 Oktober 2021.

Ada kesamaan dari ketiga tulisan di atas. Tentu perbedaan juga ada. Salah satu kesamaan ketiga tulisan di atas adalah kesamaan dari segi topik yang disampaikan, yakni soal cinta. Tentu banyak juga topik-topik lain yang sama dalam ketiga tulisan tersebut. Akan tetapi topik seputar cinta, umumnya selalu gurih untuk dibicarakan. Seumpama bumbu dalam masakan, cinta menghadirkan gurih dalam kehidupan. 

Selanjutnya, mari kita kupas sekilas mengenai ketiga tulisan tersebut sembari ngemil atau minum yang dingin-dingin. Yang dingin cukup es saja, kamu jangan. Dinginnya es, nyegerin. Kalo dinginnya kamu, bikin khawatir. Wkwkwk.

Cinta dalam ‘Hati yang Tak Dikehendaki’

Membaca cerpen Faisal Fadhli yang berjudul Hati yang Tidak Dikehendaki, semacam diajak ke tempat yang jauh dari perkotaan alias ndeso kluthuk (desa sekali). Hal ini tergambar dari simbol: barongan, blantik, dukun beranak, dan Genderuwo dll. Lebih-lebih kesepian Naimah yang sering tinggal sendirian di ruamah, karena suaminya, Mas Kus yang sekalinya kerja bisa semingguan baru pulang ke rumah. Pasutri ini belum diamanhi seorang anak. Hal ini membuat Naimah merasa belum utuh menjadi seorang perempuan. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Tapi dia juga berspekulasi, jangan-jangan dia belum punya momongan karena suaminya saja yang mandul. Terlebih sering ditinggal lama untuk keperluan blantik.

Naimah merasa dirinya butuh kasih sayang dan cinta suaminya, Mas Kus. Di sini tergambarkan bahwa cinta dalam kacamata cerpen Hati yang Tidak Dikehendaki salah satunya adalah cinta dengan artian kebutuhan biologis istri terhadap nafkah batin dari suaminya. Nafkah lahir saja tak cukup. Seyogyanya seorang suami juga mementingkan yang namanya nafkah batin. Pemenuhan nafkah batin dari suami, membuat istri lebih tenang.

Belum lagi Naimah acap mendapat tekanan sisal dari tetangga setempat. Mereka acap membicarakan Naimah yang sampai saat ini belum saja punya anak. Hal ini membuat Naimah gusar dan gelisah, sehingga sangat membutuhkan keberadaan dan cinta suaminya untuk setidaknya memberikan ketenangan batin kepada Naimah. Akan tetapi, profesi blantik menjadikan Mas Kus sering abai terhadap istrinya.

Gong-nya, Naimah berhasil punya anak akan tetapi bukanlah dari Mas Kus, suami aslinya. Melainkan dari sosok makhluk halus yang menjelma menjadi Mas Kus kemudian meniduri Naimah. Hati yang Tidak Dikehendaki menjadi ungkapan atas lahirnya seorang anak akan tetapi bukan anak yang dikehendaki, melainkan anak hasil dari hubungan antara manusia dengan makhluk halus.

Cinta dalam ‘Rekonstruksi Peta dari Jahitan Luka dan Puisi Lainnya’

Selanjutnya, membaca puisi-puisi karya Noorma Paramitha yang termaktub dalam Rekonstruksi Peta dari Jahitan Luka dan Puisi Lainnya agaknya kita dimanjakan dengan bahasanya yang mudah dicerna oleh siapapun. Hal ini bisa dibilang kelebihan bisa juga dibilang kekurangan. Mereka yang menganut paham sastra bermain-main dalam ambiguitas, mungkin akan mudah jengah dan merasa bosan membaca puisi-puisi ini. Namun bagi mereka yang menganggap sastra nilai utamanya adalah tersampaikan dan bisa dicerna, mungkin akan membaca puisi-puisi ini sampai titik pada kata terakhir.

Terlepas dari itu, puisi dalam Rekonstruksi Peta dari Jahitan Luka dan Puisi Lainnya menghadirkan salah satu insight menarik: tentang cinta yang diwakili oleh harapan dan ketahanan mental. Dalam kacamata puisi-puisi ini, secara hematnya cinta tak lain adalah harapan dan kekuatan mental atau batin dalam bertahan dari segala hal yang tidak mengenakkan, menyedihkan, mengecewakan, dan bahkan menakutkan sekalipun.

// Pelan-pelan kususun batu bata dari kata yang tak terucap / Kelak, di puing rumah yang kurekonstruksi / Akan ada meja panjang tempat cerita berlabuh / Gelak tawa menggema memenuhi setiap sudut ruang / Dan anak-anakku nanti, takkan hafal bahasa retak //. Aku lirik selalu saja punya harapan di kala dirinya tertimpa sekian cobaan. Cinta selalu mengada sejauh harapan bersemayam sekalipun cobaan datang bagaikan buih di lautan.

Cinta dalam ‘Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 12)’

Setelah itu, kita masih dikasih kesempatan untuk menyeruput puisi series Segelas Teh Tanpa Gula yang pada pekan lalu sudah mencapai pada sajian Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 12). Episode ke-12 ini merupakan babak terakhir Segelas Teh Tanpa Gula menemani kita di setiap minggu pagi. Minggu yang kadang layu karena malamnya tak sampai menyeduh kencan bersama kekasih yang sama sama dilanda rindu. Aw…

Membaca Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 12) kita diajak untuk melihat cinta yang tidak banyak menuntut, tak banyak aturan, dan justru lebih tentang mendoakan untuk kebaikan bersama. // Dan aku, / di setiap sujud, / hanya menyebut satu hal: / biarkan rindu ini mengalir, / selama kau tetap menjadi jantungnya. //. Cinta dalam kacamata Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 12) mengingatkan akan cinta sejati yang tak ubahnya adalah saling mendoakan.  

Penulis dalam puisi-puisi Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 12) persoalan cinta menjadi medan empuk untuk bermain-main. Cinta di sini bisa diartikan sebagai cinta terhadap manusia, namun di beberapa bagian juga bisa diartikan sebagai cinta terhadap Sang Maha Pencipta. // Tak ada kata yang cukup / untuk menggambarkanmu, / karena kau tak perlu diucap / untuk ada. / Kau adalah nafas yang aku hembuskan / tanpa sadar, / setia di samping setiap rindu / yang tak pernah aku tutup. //.

***

Kami jadi ingin berbagi tips, yang mana strategi ini dipakai oleh beberapa penulis. Katakanlah Abdul Wachid BS dan penulis lainnya. Tips ini berlaku bagi teman-teman yang ingin membuat karya, terutama menerbitkan buku baik itu fiksi maupun non fiksi. Mau tahu tipsnya?

Taraaaa…Tipsnya adalah tentukan mau menulis fiksi atau nonfiksi, kemudian tulislah karya sesuka kalian. Setelah itu kirimkanlah ke media-media online, boleh itu media berhoror maupun belum. Lakukanlah itu secara berkelanjutan, bisa setiap minggu sekali dengan karya yang berbeda, atau dua minggu sekali, atau sebulan sekali, silakan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Selepas 12 bulan atau di akhir tahun, barulah akan tampak jika dikumpulkan karya-karya teman teman yang melalang buana ke media-media. Kumpulkan dan susun secara sistematis karya tersebut. Kirimkan ke penerbit. Jadilah kalian menerbitkan buku.

Tabik,
Tim Redaksi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top