
Setelah menjalani pekan yang panjang, Mozaik Pekanan hadir kembali. Ia ingin hadir sebagai teman bagi pembaca untuk menutup pekan ini. Selain itu, tim redaksi mengucapkan terima kasih kepada para penulis yang tayang pekan ini. Terima kasih juga kami ucapkan kepada para pembaca setia dan pembaca baru. Halo salam kenal teman-teman pembaca baru, kami bilfest.id. Media literasi, kolaborasi dan aksi.
Mozaik Pekanan kali ini, tim redaksi tidak hanya membaca isi tulisan, namun mencoba membaca bagaimana cara para penulis yang tulisannya tayang pekan ini. Hingga akhirnya tim redaksi menemukan satu hal, bahwa apa yang mereka tuliskan, adalah sesuatu yang dekat dengan mereka. Jika kita cermati, seakan tidak ada jarak antara penulis dan apa yang dituliskan. Sehingga mudah bagi pembaca untuk mendapatkan: “insight apa yang saya dapatkan setelah membaca tulisan di bilfest.id selama sepekan ini?”
Oke, kita ulik satu persatu ya. . . kira-kira sedekat apa mereka dengan yang dituliskan.
Pertama dari Salma Dilla Ramadani
Ia adalah mahasiswa Pemalang yang sedang belajar di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto. Mahasiswa gen Z yang suka ngopi dan jadi “penyelam” -baca saja bionarasinya.
Dalam tulisannya, ia tidak hanya singgah di Purwokerto untuk belajar. Namun ia mengulik, Purwokerto masa lalu dan Purwokerto masa kini. Dalam benaknya juga terngiang tentang pertanyaan Banyumas sama Purwokerto bedanya apa? Ya mirip-mirip lah sama obrolan perbedaan Purwodadi dan Grobogan.
Tim redaksi salut dengannya karena ia tidak hanya menjadikan Purwokerto-Banyumas sebagai tempat ia nunut sinau saja. Lalu selesai dan ditinggalkan tanpa kesan medalam. Ia juga nyinau tempatnya belajar. Sebuah upaya seorang pembelajar yang menerapkan sebuah ajaran yang umum kita dengar: “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Ia melebarkan ruang belajar tidak hanya di dalam kelas kampusnya. Ia luaskan bahwa tempatnya belajar seluas Purwokerto-Banyumas. Semoga ilmunya bermanfaat dan izinkan Purwokerto-Banyumas mengantar kesuksesanmu kelak, ahhaaayy. . .
Selanjutnya adalah Aprilia Ani Fatimah
Kiranya tepat jika kita awali dengan women diort women, karena tulisan ke 3 nya di bilfest.id setelah dikurasi, tayang tepat di Hari Kartini, 21 April 2026. Seakan ia sudah mempersiapkan tulisan ini secara matang. Termasuk mengukur, kapan waktu yang tepat mengirim ke redaksi bilfest.id. Ia kirim jauh-jauh hari yang kiranya cukup bagi tim redaksi untuk mengkurasi. Dan benar, tulisannya tayang tepat di Hari Kartini. Hari saat perempuan melakukan refleksi atas perjuangan kaum perempuan, yang Kartini dijadikan sembagai simbolnya.
Alih-alih sekadar euforia dan ucapan selamat yang nir makna, Aprilia mengambil peran untuk mengajak pembaca melihat kedalam tentang Kartini, perempuan dan perjuangannya. Tidak hanya kepada pembaca perempuan, tapi untuk laki-laki juga.
Ia mengingatkan kita untuk memperpanjang usia Kartini. “. . . menghidupkan kembali keberaniannya dalam berpikir, mempertanyakan, menggugat, dan mendobrak batas-batas yang dirasa tidak memberikan manfaat berarti.” Teruslah berjuang untuk melawan pembodohan!
Selanjutnya dari Kang Aveus Har
Sebelumnya, kami mengucapkan terima kasih kepada Kang Ave -panggilan akrabnya, yang berkenan tulisannya kami muat. Tujuan kami sederhana, tulisan Kang Ave -meskipun yang kali ini ringan, namun dampaknya kami yakin tidak sebagai hiburan.
Dalam tulisannya yang tayang pada hari Rabu 22 April 2026 -beberapa hari setelah ia menjuarai Lomba Skenario Film Panjang SINEMA 2026 Kemenbud adalah sebuah tulisan tutorial, bagaimana ia menulis. Sebuah ilmu yang patut dijariyah kan melalui media ini.
Ia berkenan membongkar proses kreatifnya dalam menulis. Terutama dalam menulis karya fiksi. Proses kreatifnya bisa ditiru, atau setidaknya jadi referensi. Bisa juga sebagai bahan pembanding, bagi yang sedang belajar menulis.
Satu hal yang bisa kita lihat dari Kang Ave, ia bisa menjadi penulis yang berhasil. Ia mendapat berbagai penghargaan kepenulisan bergengsi tingkat nasional. Namun mari kita cermati, sebagai penulis ia berangkat bukan karena privilage apapun atau dari manapun. Privilagenya adalah ketekunan. Dan itu bisa kita tiru.
Fyi, Kang Ave jualan mie ayam bukan gimmick atau mendalami peran. Memang itu keseharianya. Eh, jangan-jangan, Brian Khrisna pernah jajan di sana? Wallhu’alam.
Lanjut ya. . ., Gen Z yang nulis tentang Gen Z
Mia Zuhrotul Afifah adalah penulis baru di bilfest.id. Kami ucapkan selamat datang dan terima kasih sudah menulis yang cukup panjang.
Di era dengan daya baca yang makin melemah -apalagi membaca tulisan di media digital, perlu kiranya kita berupaya bersama. Terutama Gen Z dan Gen Alpha yang saat ini mendominasi ruang digital.
Tulisan Mia yang tayang pada hari Kamis 23 April 2026 kami yakin bukan untuk menggurui sesamanya. Meskipun dengan gaya bahasa yang cukup ilmiah, ia menuliskan keresahan dalam dirinya dan mungkin hasil pembacaan di sekitarnya. Sehingga ia mencoba mengambil peran untuk saling support. Ia menulis sebagai dirinya sendiri (Gen Z) dan menuliskan keresahan yang dialami.
Kalau mau menulis di bilfest.id lagi, tidak harus seilmiah itu. Seperti curhat saja. Supaya pembaca serasa sedang deep talk sama kamu. Boleh kan?
Terakhir adalah Materi Kelas Pra Nikah dari Mas Penghulu Muda
Hari Jumat, tanggal 25 April 2026, ada penghulu muda yang Gen Z dan membahas pernikahan dengan sudut pandang Gen Z. Ia adalah Ilham Alamsyah, penghulu muda di Gombong.
Tulisannya cukup padat namun wort it. Seperti judulnya. Ia seakan menyampaikan materi kelas pra nikah. Bagi Gen Z yang menyukai hal-hal yang logis, tulisannya bisa jadi referensi. Bagi yang sedang memantapkan hati untuk menikah, tulisannya sangat membantu. Bagi yang belum menikah, ya nggak papa baca saja ilmu dari mas penghulu.
Terakhir, pembaca bilfest.id yang budiman, sampai saat ini kami tidak bekerja sama dengan KUA manapun. Jadi kalau ada yang menganggap tulisannya Ilham Alamsyah adalah marketing KUA, ya coba tanya beliaunya.
Eh, tapi kalau ada KUA mau kerjasama, ya boleh-boleh saja, sini-sini kita janjian ngopi, bisa diatur lah. . .

dari Banyumas menyapa Indonesia




