
Kulit buah masuk ke tong sampah
Kulit bundar masuk ke gawang
Tak ada rumah yang lebih ramah
Selain Tuhan Yang Maha Penyayang
Selamat hari jumat teman-teman pembaca maupun penulis bilfest.id yang senantiasa militan dalam menjalani kehidupan. Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang tak punya masalah. Kabar baiknya, setiap masalah ada solusinya. Setiap persoalan yang masuk ada jalan keluarnya. Kata jam’iyah instagramiyah, “Jika masalah tak ada jalan keluarnya, maka kita ke luar untuk jalan-jalan.” Justru yang kurang tepat adalah kata motivator yang menyarankan “tarik napas” ketika datang permasalahan. Idealnya ketika teman kita ada masalah, saran yang tepat untuknya adalah “tarik tunai” bukan sebatas tarik napas. Hehe. Guyon, lur.
Jumpa lagi kita dalam Mozaik Kanon: rubrik asik-asik untuk mengulik tipis-tipis tulisan fiksi yang tampil pada Sabtu dan Minggu di laman bilfest.id. Kali ini kita bertemu cerpen “Kesenjangan” yang ditulis oleh Bayu Prakoso, lantas puisi “Pada Pelukan Tuhan dan Puisi Lainnya” yang disemai oleh Aflakha, serta puisi “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 10)” yang diracik oleh Abdul Wachid BS. Ketiga fiksi tersebut, bagai perahu yang berlayar di sungai bilfest.id sejak 11 & 12 April 2026.
Luka dalam ketimpangan
Membaca cerpen “Kesenjangan” karya seorang penulis berkelahiran Kebumen (masih serumpun bahasa ngapak sebagaimana Banyumas) kita tak perlu kesulitan untuk mengenali pesan yang disampaikan dalam cerpen tersebut. Cerpen dengan gaya bahasa yang lugas membuat pembaca mudah untuk menyerap pesan atau nilai yang dibawakan dalam cerpen. Umpamanya pada, “Seandainya pemerintah lebih membuka mata…” (di akhir) ini membawa kita seperti sedang duduk sembari mendengarkan ceramah terbuka.
Paragraf terakhir dalam cerpen ini seperti sedang menyuguhkan kesimpulan. Alangkah lebih baiknya, jika cerpen maupun fiksi lainnya tak perlu menyematkan barang secuil kesimpulan. Biarkan pembaca yang menuai kesimpulannya masing-masing. Di sisi lain ending cerita yang tidak mudah ditebak atau mungkin menggantung adalah suatu yang menggoda bagi sebagian pembaca.
Pesan dari cerpen karya Bayu Prakoso kali ini menyoal tentang adanya kesenjangan dan ketimpangan dalam kancah dunia pendidikan kita. Utamanya menyorot tentang fasilitas yang ada di sekolah. Sekolah di desa-desa dan sekolah di kota-kota bagai air laut dan air tawar. Meski sama-sama air, namun berbeda. Tampak gamblang cerpen ini muatannya yaitu kritikan terhadap pemerintah yang belum sepenuhnya membuka mata, menatap sekolah di desa-desa, utamanya yang jauh dari pusat kota dan pusat pemerintahan.
Ketimpangan perihal fasilitas dan akses dalam pendidikan antara sekolah di desa dan kota menimbulkan luka lahir batin bagi kita. Mengingat bahwa pendidikan adalah kunci utama dalam melangsungkan kehidupan. Sebagaimana pesan Nelson Mandela: “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Jangankan dunia, untuk mengubah diri sendiri agar dari hari ke hari lebih baik pun juga dengan pendidikan. Memang benar pendidikan tak hanya di sekolah. Akan tetapi kemudahan akses dan fasilitas di sekolah maupun dalam pendidikan bukankah akan lebih baik?
Kesadaran eksistensial
Membaca puisi-puisi dalam “Pada Pelukan Tuhan dan Puisi Lainnya” garapan mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman, membawa kita kepada topik seputar kesadaran eksistensial. Hal ini tergambar jelas pada puisi berjudul “Fana”, // hidup hanyalah tempat bermalam / sebelum segalanya luruh dan terpendam //. Dalam kearifan lokal Jawa ada istilah urip mung mampir ngumbe, sementara dalam puisi ini urip mung mampir turu. Sama-sama tentang pemaknaan mengenai eksistensi manusia di muka bumi yang tak akan abadi.
“Pada Pelukan Tuhan dan Puisi Lainnya” karya Aflakha, mengandung empat puisi yang memang oleh penulis disusun dan diletakkan dengan penuh perhatian. Empat puisi ini seumpama sebuah perjalanan jiwa yang dimulai dari (puisi pertama) kesadaran bahwa hidup itu sementara, (puisi kedua) kemudian pertanyaan menyoal amal kebaikan: // cukupkah tabungan amal / sambut hidup sesudah ajal? //.
Selanjutnya (puisi ketiga) tentang pengalaman intim dengan Tuhan dan penyerahan diri kepada-Nya, // Dia mendengarkan / gemuruh di dada / meredakannya penuh sayang; / mengobati yang meradang; / memberkahiku tenang //. Kemudian (puisi keempat) tentang buah dari tawakkal yang tak lain adalah dipandu oleh-Nya dalam melakoni kehidupan melalui kalam-Nya, // Kalam-Mu menjadi peta yang memandu musafir meniti lintasan takdir //.
Satu yang sedikit disayangkan ialah puisi-puisi ini masih kental sekali nuansa religiusitasnya. Memang puisi religius, akan tetapi barangkali akan lebih menarik lagi jika tidak terlalu tampak gamblang sisi religiusitasnya walau sebenarnya adalah puisi religius. Sebagaimana puisi mazhab King Sapardi: Bilangnya begini maksudnya begitu. Mungkin lebih dipermainkan diksi-diksinya supaya menuliskan “surga” tanpa kata “surga”, semidal dengan, “dalam ruang bermandikan cahaya, yang pagi dan malam serupa saudara kembar.” Atau ngomongin “sayang” tanpa kata “sayang”. Silakan kali ini teman-teman mencobanya di kolom komentar.
Kepulangan sebagai rekonsiliasi batin
Puisi-puisi dalam “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 10)” racikan seorang guru besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, merupakan puisi-puisi yang beraroma reflektif-religius. Tentang refleksi diri atas suatu hal yang merentang ruang seraya merentang waktu. Membaca puisi-puisinya seumpama sedang perjalanan pulang untuk pemulihan atau rekonsiliasi batin. Sebuah kepulangan ke dalam diri yang kemudian ditautkan dengan Sang Khaliq. Hematnya, Man ‘arofa nafsah, ‘arofa Rabbah.
// Tapi luka punya cara / menyulap jarak menjadi pengertian, / dan sepi, / telah mengajari aku / menyapa angin / dengan dada terbuka //. Keterampilan rekonsiliasi batin dalam hal ini tergambar dari lapang dada. Luka baik lahir maupun batin memanglah suatu hal yang membuat down, putus asa, sedih, dan perasaan negatif lainnya. Akan tetapi jika kita mampu untuk mengambil hikmahnya dan lebih fokus terhadap solusi dari luka tersebut, kita akan lebih tahan banting dan sesegera mungkin pulih kembali.
Keterampilan rekonsiliasi batin juga membawa kita untuk rentan berbahagia. Berawal dari memaafkan diri sendiri, mengenal diri sendiri secara lebih, hingga mencintai diri sendiri membuat kita tangguh lahir batinnya. Mungkin secara lahir kita boleh rapuh, namun batin harus tetap tangguh dalam kondisi apapun. // Aku memaafkan diriku, / bukan karena aku menginginkan pengampunan, / tapi karena aku belajar, / bahwa cinta sejati dimulai dari diri sendiri. //.
Kita tak harus menjadi mahasiswa sastra Indonesia untuk membaca karya sang guru besar, Prof. Abdul Wachid BS. Gaya bahasa dan gaya ungkapnya dalam berpuisi tak terlalu menyulitkan orang awam untuk menjerat makna kata maupun kalimat dalam puisi-puisinya. Entah ini merupakan kesengajaan penulis untuk memanjakan pembacanya atau penulis sendiri sudah bosan bermain petak umpet dengan pembacanya. Karena memang ada sebagian penyair yang memang sengaja menyembunyikan makna puisinya (puisi gelap) begitu dalam pada silang sengkarut kata-kata, hingga pembacanya dibuat frustasi, bingung, dan limbung. Tapi apapun itu, terima kasih atas series puisinya.
Tabik,
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




