
Teman-teman pembaca bilfest.id yang budiman, selamat datang dalam Mozaik Kanon. Semacam tulisan singkat yang merespons tulisan sastra dari penulis-penulis bilfest.id – yang gacor-gacor – yang tayang pada hari Sabtu-Minggu. Mozaik Kanon kali ini hendak merespons tulisan sastra yang terbit pada 14 dan 15 Februari 2026. Pada hari Sabtu ada cerpen berjudul “Zombi” karya Etika Filosofia. Sedang pada hari Minggu ada puisi berjudul “Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)” karya Abdul Wachid BS.
Sebelum merespons kedua tulisan tersebut, alangkah baiknya kami sampaikan bahwa Mozaik Kanon tak lain sebatas catatan singkat Tim Redaksi. Catatan sederhana dari Tim Redaksi untuk menemani teman-teman menunaikan ritual puasa (bagi yang menjalankan) atau prosesi ngopi di malam hari (lebih tepatnya tergantung Anda ngopi-nya kapan). Catatan ini sangat mungkin untuk berlainan dengan pembacaan teman-teman terhadap dua tulisan tersebut. Apalagi kali ini tulisan sastra – dalam hal ini bertubuh cerpen dan puisi – yang konon katanya karya tulis yang adiluhung, suci, dan sakral.
Sebagian orang merasa enggan untuk merespons atau mengomentari karya sastra (fiksi). Akan tetapi bukankah harapan setiap penulis baik penulis fiksi maupun non fiksi adalah supaya tulisannya dibaca oleh siapapun dan kemudian bisa mengambil insight menarik dari tulisan tersebut? Terlepas dari si pembaca adalah pengamat sastra, kritikus sastra, pembaca militan yang 24 jam sehari membaca tanpa jeda, atau sekadar pembaca yang membaca tulisan melalui beranda Instagram. Bagi kami, siapapun berhak membaca dan merespons setiap karya tulis baik sastra (fiksi) maupun non fiksi. Oleh karena itu, jika catatan singkat kami agak laen dengan pembacaan teman-teman, ruang komentar bisa diseduh untuk saling silang tanggapan dan bersulang pendapat (asal bukan pendapatan bulanan).
Cerpen ini merupakan karya dari penulis yang saat ini sedang tinggal di Semarang. Penulis yang saat ini sedang mengasah “taring”- nya supaya runcing dan tajam untuk bisa menyaingi Ahmad Tohari. Kita doakan supaya apa yang disemogakan olehnya tersemogakan.
Cepen berjudul “Zombi” ini, menawarkan plot twist di ending ceritanya. Pembaca sudah diarak kepada titik bahwa ada seorang nenek tua yang sedang menunggu paket berisi makanan tiba di rumahnya. Nenek tua yang kelaparan karena paketnya tak kunjung datang padahal sudah semingguan. Penggunaan tokoh “nenek” saja sudah menimbulkan kegetiran, lebih-lebih pada paketnya bertuliskan makanan-harus segera dikirimkan. Hal itu membuat kegetiran lain. Belum lagi untuk mecapai rumah nenek tua di Distrik 13 tersebut cuma bisa dilalui dari Distrik 11-12 yang tak lain adalah distrik mati yang merupakan jalan gelap yang hanya dihuni oleh para zombi. Setelah si kurir sampai di rumah nenek tua, ternyata paket itu merupakan makanan untuk kucing kesayangannya.
Cerpen karya Etika Filosofia membawa spirit nilai-nilai kebaikan yang beragam sebagaimana lauk pauk dalam etalase rumah makan padang. Satu yang mungkin gamblang untuk dibicarakan adalah tentang perjuangan seorang kurir atau kang paket. Sebagian orang mungkin ada yang beranggapan bahwa pekerjaan sebagai kurir adalah pekerjaan yang sepele. Dalam cerpen ini kita belajar dan diingatkan bahwa pekerjaan sebagai kurir adalah pekerjaan yang terbilang berat bahkan taruhannya nyawa.
Keseharian kurir tak lain adalah pengguna jalan yang berbekal kehati-hatian dan doa-doa yang selalu dipanjatkan. Hati-hati sudah, mawas diri pin sudah, namun namanya di jalan banyak kejutan-kejutan yang tak terduga. Oleh karen itu, kita alangkah baiknya melayangkan “terima kasih” kepada tiap-tiap kurir yang datang membawa paket kita dengan selamat sentosa. Hal ini tentu akan memberikan setetes semangat bagi abang kurir untuk kemudian melanjutkan peribadatan pengiriman paket yang berlipat-lipat.
Banyak dijumpai di media sosial kita seorang kurir yang ketika mengantarkan paket justru ketimpa ocehan dan bahkan makian dari penerima paketnya. Pernah viral juga tentang penerima paket yang mengklaim dirinya seorang “pelayaran” kemudian berlaku sewenang-wenang kepada salah seorang kurir. Ada juga fenomena kurir yang membawa paket COD akan tetapi si penerima justru enggan untuk membayarnya. Berjibun fenomena kurir yang sad ending. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita sekurang-kurangnya melontarkan “matur nuwun” untuk pak kurir dan kalau bisa hindarilah pembelian paket via COD.
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Membaca puisi-puisi dalam Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2) karya Abdul Wachid BS kita seperti sedang menyimak (secara garis besar) refleksi seseorang terhadap usianya yang kemudian dia salurkan melalui sajak atau puisi. Ada lima puisi yang berjudul: Balada Nafas yang Menulis Rahasia, Surat untuk Kolesterol dan Dosa-dosa Lama, Rindu yang Membeku di Nadi, Diam yang Berbunyi, dan Balada Sekarat Sunyi. Kelima puisi tersebut ber-titimangsa tahun 2025 yang ditulis oleh seorang penyair kelahiran 7 Oktober 1966 di Lamongan. Selain kiprahnya menjadi sastrawan, ia juga sesosok Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Penulis menulis puisi-puisi tersebut di tahun 2025, dengan begitu jika melihat tahun kelahiran beliau, maka didapati usia beliau saat menuliskannya adalah saat berusia 59 tahun. Usia yang sangat dilirik dalam kesehatan. Maka praktis, penulis menulis refleksinya atas usianya baik geliat tubuh maupun pergolakan jiwanya yang sesaat lagi menginjak kepala enam. Orang Jawa menyebut bilangan 50 bukan gangsal ndoso melainkan seket. Dalam tradisi keilmuan Jawa ada yang menyebutkan bahwa usia lima puluhan atau seketan adalah masa manusia untuk senantiasa melanggengkan eling lan waspodo – selalu ingat (zikir) kepada Tuhannya dan berhati-hati dalam setiap laku kehidupannya. Hal ini diambil dari kata seket yang merupakan akronim dari senenge kethunan (suka memakai peci, kopyah, atau songkok).
Kethu yang diartikan sebagai peci, songkok, kopyah, dan penutup kepala sewaktu salat dijadikan simbol untuk ibadah. Usia lima puluhan atau seketan dalam budaya Jawa adalah masa untuk lebih fokus lagi dalam beribadah dan meningkatkan kualitas ibadahnya serta lebih berhati-hati lagi dalam tingkah lakunya. Mengedepankan takwa dan ingat kepada Tuhannya. Usia ini merupakan fase refleksi keemasan cum kematangan dalam hidup bahwa hidup tak sekdar mengejar materi, bahwa ada kehidupan selanjutnya, bahwa tubuh itu tak selamaya kuat sebagaimana sewaktu muda, bahwa nikmat sehat adalah koentji, serta bahwa keberkahan dan kebermanfaatan adalah suatu entitas yang bernilai tinggi.
// Pernah suatu malam / aku mendengar nafasku / berubah menjadi zikir pelan, / seperti seorang anak / yang belajar mengeja nama-Nya // dari cuplikan tersebut tampak aku lirik sedang dalam momen kerendahan hati dan masuk ke mode berserah diri cum merindu kepada-Nya. Di lain bait puisi, disebutkan // Rindu ini membeku / di sela nadi yang terhenti, / seperti embun di ujung malam / yang menunggu fajar datang. // kita dapati keterkoneksian aku lirik dengan Sang Khalik. Tak sekadar ingat atau eling saja, melainkan kerinduan yang sampai membeku.
// Dosa-dosa lama, / kenapa kalian bersembunyi / di antara nadi-nadi letih ini? / Menyusup di setiap langkah, / meski aku telah berdoa / agar terbebas dari bayangmu. // Penggalan puisi tersebut dengan sebelumnya terpahat // Kolesterol, / engkau menari diam-diam dalam tubuhku, / seperti bisikan yang tak terlihat, // mencerminkan aku lirik yang sedang menyoal sakit kolesterol dan menyesali laku-laku mengonsumsi makanan maupun minuman yang berdampak negatif pada tubuhnya. Sekalipun demikian aku lirik tetap mencintai hidupnya dan tetap bersyukur, // Tapi meski tubuh ini Lelah / dan jiwa merintih, / aku tahu: / kau tak bisa mengalahkan cinta / yang masih kuberi pada hidup. //.
Puisi reflektif-religius ini layak dibaca-tuntaskan tak hanya teruntuk kaum lima puluhan, melainkan anak muda sekalipun. Lebih-lebih sebagian besar generasi Z yang hidup di tengah modernitas makanan-minuman dan tipu daya dunia maya yang acap kali membuat hanyut dan terlena. Sampai-sampai abai akan real life-nya dan hidup menghamba pada algoritma serta fastabiqul trend tiktok cum media sosial.
Tabik,
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




