
Perayaan Kematian
Saat jiwa tak lagi memeluk bumi
Saat sepenggal nafas dikhianati
Saat pesan terakhir diingkari
Saat itulah hati menghitam, ketamakan menduduki
Kematian tak lagi ngeri
Kematian tak lagi sedih
Saat pusara basah oleh tangis,
pesta duka dimulai
Tangis palsu berubah tawa
Ratapan berubah gertakan
Iblis menyerupai manusia
Manusia berhati iblis
***
Luka Kecil
Sinar bulan membelah malam
Dua insan beradu kata, memecah kesunyian
Lengkingannya memantul pada tembok yang membisu
Angin membawa rasa pilu
Ruang gelap memeluk seorang gadis
Tiga bulir air menetes di sudut netra
Tak terisak tapi dadanya terasa sesak
***
Tawa
Di kamar bercat hijau,
di bawah temaram bohlam kuning yang menua
Aku terbaring
Dengan tubuh yang kian menjerit
Selimut dan kasur lapuk senantiasa menemani
Aroma obat kini menjadi sahabat sejati
Deru napas berat mengisyaratkan penyesalan
Sementara angin malam menghujam tulangku,
dan melahirkan asap putih pekat
Di balik tirai bermotif bunga,
terdengar gelak tawa
Dengan semerbak aroma tanah basah
Tawa masa lalu yang sudah lama mati
***
Radio Kenangan
Riuhnya dunia senyapkan bisikmu
AM, FM, dan SW tak lagi disambut hangat
Dendangmu tak lagi menggoyang bapak
Ibu tak lagi tertawa oleh celotehmu
Obrolan tak lagi berbalas
Kenangan berlalu digilas zaman
Euforia tergerus waktu
Nyatanya tak ada rasa kehilangan
Arus globalisasi menggurui
Nikmat pun terganti
Gelombang luruh oleh panggung sinema
Asing
Nestapa menanti tuan
***
Hariningsih berasal dari Banyumas. Saat ini ia menempuh studi S1 Sastra Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman. Kecintaannya pada puisi tumbuh sejak SMP, dan sejak itu ia kerap berpartisipasi sebagai salah satu penulis dalam antologi puisi. Untuk berkenalan, bisa kunjungi Instagram @hariningsh_




