: Catatan pendek untuk ingatan yang panjang tentang kucing

“Saya tahu, kita tidak pernah benar-benar memiliki kucing—merekalah yang sebenarnya memiliki hampir seluruh hati kita.”
Tahun 2019 pertengahan. Berlatar Bulaksumur. Saya, Finna, dan Raras, berjalan dari FIB menuju Pusat Studi Kebudayaan untuk kuliah Sosiologi Sastra. Raras menuntun sepeda, dan Finna bersemangat menyapa kucing-kucing di halaman sebelah barat dari Maskam. Finna adalah penggila kucing tanpa toleransi, sementara saya begitu muak pada kebiasaan mereka mengorek sampah di kos saya di Kotagedhe. Kucing bermotif hitam-cokelat tak beraturan, dari ras domestik, kerap saya lempari sandal karena tabiat mengacak tempat sampah yang menyisakan keberisikan—hari-hari setelahnya, saya menamainya “Garit”. Itu adalah istilah yang lumrah dipakai orang-orang di kampung saya di Lombok, untuk mengganti istilah kucing atau meong.
Garit beranak tiga: Tiger (putih-oranye), ABC (tabby-oranye), dan Kaos Kaki (tabby-mujaer)—entah tak lama, Kaos Kaki menghilang begitu saja. Ayah mereka, setahu saya adalah Bedjo: kucing preman kompleks, berbadan besar-kekar dengan sedikit laku bipolar—kadang manja-menggelendot, tapi lebih sering mencakar tanpa alasan. Yang saya ingat: saya sedemikian anti pada kucing kala itu. Mereka mengacak sampah, mencuri ikan anak kos-kosan, pipis sembarangan, dan tak jarang menghadiahi kami dengan kotoran. Benar-benar busuk!
Tetapi, peristiwa lain rupanya terjadi. Dalam perjalanan ke suatu tempat memboncengi Finna, tepat sebelum perempatan Monjali dari arah Jalan Affandi, seekor anak kucing tertabrak dan sontak membuat Finna histeris. Saya takut pada darah, dan hanya bisa melanjutkan perjalanan. “Ya, Tuhanku! Aku mau nangis, itu masih kecil, kucing itu kayak anak-anak, Ham!” seletuk Finna dalam situasi syok beratnya.
Sepanjang jalan setelah itu, kami menjalin percakapan tentang bagaimana Finna memandang kucing. Ia bilang, kucing adalah anak-anak baginya, dan selalu akan menjadi anak-anak. Lantaran itulah, ia kerap menyapa kucing dengan panggilan “Adek!”, hampir di setiap tempat. Ia bilang, bahwa kucing adalah teman paling setianya. Terlepas dari perbedaan keyakinan yang kami anut, saya meyakini bahwa ketulusan dan kasih sayang telah menjadi titik temu sekaligus sumbu dari tiap agama yang ada di dunia—saya mengagumi “paradigma” yang digunakan Finna dalam berelasi dengan makhluk non-manusia itu. Bukankah semasa madrasah, saya pernah diajarkan bahwa setelah akhlak kepada Tuhan dan makhluk lain—setamsil jin dan malaikat—adalah akhlak kepada semesta, meliputi tetumbuhan dan hewan, juga entitas-entitas lainnya yang benar-benar meng-ada?
Tak lama setelahnya, tangan saya terulur entah karena apa, membelikan makanan kering bagi Garit dan anak-anaknya. Mereka berumah di bawah genting, pada perbatasan tempat jemuran dengan atap tetangga. Saya sodorkan sepiring plastik makanan kering, sembari sesekali bersembunyi dan memastikan bahwa mereka benar-benar makan. Kami bertatapan di satu kala, dan binar mata mereka memancarkan ketulusan tatap sebagaimana anak-anak manusia di hati saya. Benar kata Finna. Dan selebihnya, setelah kejadian itu, adalah cerita panjang antara saya dengan kucing-kucing yang saya temui. Semuanya, mungkin melampaui keterbatasan kata-kata.
Antara Kucing Nyata dan Kucing Maya
Layaknya apa yang saya utarakan pada pembuka dari catatan ini, bahwa kita mungkin tidak pernah benar-benar memiliki kucing, melainkan merekalah yang sebenarnya memiliki hampir seluruh hati kita. Bukan hanya di dunia nyata, bahkan kucing-kucing di dunia maya, rasa-rasanya turut saya “miliki”. Banyak yang saya ikuti kisah mereka, sambil merasa-rasa bahwa saya turut membesarkan mereka lewat doa.
Mulai dari kemanutan Pororo membantu Cici (@cicichaniaa); kisah sedih Snowy melahirkan Apuuu (@doodle.nfam); suka dan duka para “member” Winter Family (@wintercat_12); keteduhan tatapan dari Kiwi (@kiwibritishcat); “reinkarnasi” Sammy dalam wujud Semili (@novasfiynt); kecerewetan Nala hingga berpulangnya Simba (@nalasicat); tingkah laku chill dari Kak Sashi (@sashi.cat), meski terkadang bisa mematuk dengan sangat tiba-tiba; perjalanan Dodo menjadi DODO (@virgoo.story); dari generasi Kim Woyong ke generasi Kim Moyong (@kimwoyong12); mini-vlog Ipeh binti Memun bersama Budhe Emma si doyan dugem (@emma_meowslimcat); petantang-petentengnya bocil bernama Kimboy (@kimboyyy25); kepala batunya kucing sangar bernama Zac (@zacbritishcat); atau keseharian Mboy si Seruling Senja dalam kondisi “teristimewanya” (@serulingsenja_)—seluruhnya membuat saya terkesima dengan semesta dari makhluk berbulu itu.
Tetapi mungkin, ialah kisah Cacabrotbrot (@cacabrotbrot) dan Toboy-lah (@toboythebritishcat) yang paling suntuk saya simak lika-likunya. Mulai dari kecerewetan Caca di lorong kos-kosan hingga perkawinannya dengan Toboy; ke kelahiran Apung dan Apeng yang amat dramatis; lalu berlanjut ke kehadiran Asel dan Alir, alias “Anak Selingkuhan” dan “Anak Selir” dari Toboy; dan lahirlah sosok Adek Oom Abang yang selalu jadi pusat perhatian. Berikutnya adalah kelahiran dan berpulangnya seluruh anak abu Apeng, namun tak lama digantikan dengan berojolan Tetua, Cemong, Heri, dan Bule sebagai Gen-3 Ibu Cacabrotbrot; “kegacoran” Adek yang dikaruniai empat bocil dari Asel + tujuh bocil dari Alir; dan terakhir kepergian sosok sentral itu setelah sakit yang teramat ringkas. Kata netizen, rupanya Adek Abang sengaja “menghadiahi” Ibok dan Umi dengan sebelas anabul baru, karena ia tahu dirinya takkan mampu menemani lebih lama lagi. Kini, Gokong dari Alir-lah yang rasa-rasanya “mewarisi” rupa dan semangat Adek Oom Abang Bapak setelah memutuskan perjalanan sunyi ke Jembatan Pelangi.
Apa yang terjadi setelah ini? Ialah masa-masa melonggarnya update Keluarga Caca di linimasa media sosial kita. Dan entah mengapa, setelah kepergian Adek Oom Abang Bapak pada 28 September 2025 lalu itu, saya turut merasakan kehilangan dan hampa yang hampir tidak terperi. Ini makin lengkap dengan rentang update yang jarang dari keluarga berbulu itu. Mungkin, Ibok dan Umi dari Caca dan Toboy, perlu waktu menarik-lepas napas setelah kepergian tiada diduga-duga. Dan kita, para pecinta kucing teramat paham, kehilangan satu sosok saja seperti kehilangan satu dunia dalam lingkaran keluarga kita. Mirip larik puisi dari M. Aan Mansyur: kita kehilangan dunia / setiap kali kehilangan satu orang / yang kita cinta. apabila kita kehilangan / satu orang lagi, kita kehilangan dunia / yang sudah hilang.
Kucing, Kita, dan Bencana-Bencana
Saya kerap bertanya-tanya: mengapa mencintai kucing menjadi sebegitu sentimentil bagi kita? Mungkin, hidup dalam ketiadaan batas yang jelas antara nyata dan maya, telah menciptakan rekatan emosional yang lebih kuat bagi orang-orang yang memiliki frekuensi hati dan pikiran yang sama. Ruang maya itu, telah menjangkau siapa pun yang merasa “sama”.
Secara psikoanalisis, keterikatan kita pada kucing—terutama yang kita tonton di layar gawai—bisa dijelaskan melalui konsep “kekurangan (lack) dari Jacques Lacan. Manusia pada dasarnya adalah subjek yang selalu merasa tidak utuh dan senantiasa mencari “sesuatu” untuk mengisi kekosongan tersebut. Kucing hadir sebagai objek yang tidak menuntut bahasa yang rumit, namun mampu memberikan validasi emosional. Kehadiran mereka di linimasa, mengisi celah-celah hampa dalam rutinitas kita yang mekanis, seolah-olah mereka adalah potongan puzzle yang membuat ego kita merasa lebih penuh. Namun, lack tersebut tidak pernah benar-benar terpenuhi. Itulah mengapa ketika sosok seperti Adek Oom Abang pergi, kita merasakan hampa yang rasa-rasanya melampaui logika kita. Tidak cukup untuk mengatakan bahwa kita hanya kehilangan seekor hewan, melainkan kehilangan objek yang selama ini kita gunakan untuk memproyeksikan kerinduan akan kemurnian dan kasih sayang tanpa syarat.
Kehilangan itu, dengan demikian menciptakan lubang baru dalam struktur emosional kita, yang membuktikan bahwa keterikatan maya pun memiliki bobot psikologis yang sangat nyata. Relasi ini, ke depannya melahirkan solidaritas bagi orang-orang yang—baik sadar maupun tidak, sebenarnya—berpendirian dan berpandangan more-than-human. Kita mulai menyadari bahwa dunia ini bukan milik manusia semata. Solidaritas ini, muncul ketika kita turut memandang kucing sebagai subjek yang memiliki agensi, hak untuk hidup, dan perasaan yang juga murni—bukan sebatas properti atau komoditas. Kita merasa terhubung satu sama lain karena kesamaan empati terhadap makhluk yang sering kali dianggap remeh oleh narasi besar sejarah manusia—sejarah yang terlampau sibuk dalam pertarungan ideologi dan praktik politik kotor.
Dalam perspektif more-than-human, keberadaan Adek Oom Abang, Caca, dan kucing-kucing lainnya, adalah bagian integral dari jejaring kehidupan kita. Kesedihan kolektif yang kita rasakan di kolom komentar boleh dikatakan sebagai pernyataan politik bahwa makhluk non-manusia memiliki tempat yang setara dalam tatanan afeksi kita. Itu sama sekali bukan luapan emosi sesaat. Kita merayakan kehidupan mereka, meratapi kepergian mereka, sebagai bentuk pengakuan atas eksistensi yang saling berkelindan di bumi ini.
Rekatan emosional ini jadi kian menguat ketika ujian berupa bencana atau isu ekologis mulai menghantui. Di tengah krisis iklim atau bencana alam yang makin ke sini makin sering terjadi, nasib kucing dan hewan-hewan liar lainnya sering kali terabaikan dalam protokol penyelamatan manusia. Namun, bagi para pecinta anabul, rasa sakit yang dialami alam semesta adalah rasa sakit yang juga dialami oleh “anak-anak” berbulu ini—belum lagi jika kita menghitung satwa-satwa dan beragam flora yang turut terimbas di kedalaman hutan. Kita melihat bagaimana perusakan habitat yang disusul cuaca yang ekstrem berdampak langsung pada kesehatan dan kelangsungan hidup mereka.
Ketika bencana datang, solidaritas yang terbangun di dunia maya barusan, bermanifestasi menjadi aksi yang potensial nyata. Kita melihat orang-orang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan kucing yang terjebak banjir, atau donasi yang mengalir deras untuk penampungan hewan yang terdampak krisis. Di titik inilah, kita bisa menilai bahwa mencintai kucing pada akhirnya menjelma suatu gerakan ekologis. Kita belajar bahwa merawat mereka berarti juga harus merawat rumah besar yang kita tinggali bersama, yakni Bumi.
Pada akhirnya, menjaga keberlangsungan hidup kucing dan makhluk lainnya adalah bagian dari menjaga kemanusiaan kita sendiri. Kita ingin memastikan bahwa dunia yang kita wariskan nanti masih memiliki ruang bagi binar mata kucing yang tulus, juga suara dengkuran yang menenangkan. Sekali lagi, sebagaimana lirik lagu penutup dari Doraemon, kita diingatkan bahwa masa depan adalah tugas untuk mewujudkan impian semua makhluk, dan bukan hanya manusia dengan egosentrismenya yang kadang tidak terkontrol: Kita hidup di bumi ini, pagi ini, esok, dan seterusnya. Masa indah, sangat banyak Kota Impian … Menjadikan satu-satu, kita wujudkan. Demikianlah setidaknya.
Purwokerto, Desember 2025
Referensi:
– Bracher, Mark. (2009). Jacques Lacan, Diskursus, dan Perubahan Sosial: Pengantar Kritik-Budaya Psikoanalisis. Yogyakarta: Jalasutra.
– Isu-isu mengenai more than human humanities telah banyak dikupas dan dibahas oleh Nina Lykke, Katja Aglert, dan Line Henriksen dalam Feminist Reconfigurings of Alien Encounters: Ethical Co-Existence in More-than-Human Worlds (2025), sebuah buku dengan fokus more-than-human yang dikurasi oleh Cecilia Åsberg dan Marietta Radomska, serta diterbitkan oleh Penerbit Routledge (London, UK). Atau, baca juga Genese Marie Sodikoff. “More-Than-Human”. Department of Arts and Cultural Studies, University of Copenhagen.

Ilham Rabbani, pengajar sastra di kampus berwarna biru di Purwokerto. Dosen yang sebenarnya juga masih menjadi mahasiswa berpredikat “pria beristri dengan pengetahuan amat pas-pasan”. Omongan dan tulisannya kadang ‘ncen ra-nggenah blass. Untuk menjalin silaturahmi parsial dengannya, bisa via akun Instagram @_ilhamrabbani.




