
Alarm dari Awan Kelabu
Awan semula ramah tiba-tiba berwajah kelam,
menggelar rapat para awan hitam.
Angin dikirim sebagai intelijen pertama,
membisikkan alarm: “Akan ada serbuan air sebentar lagi.”
Lalu dimulailah kepanikan tersuci:
kami, para prajurit aspal, menarik terpal—perisai rezeki—
mengamankan gorengan dari amukan langit yang buta.
Kami meringkuk di bawah atap sementara,
menonton rupiah mengalir bersama air bah ke muara.
Dagangan kami mungkin selamat dari badai,
tapi nasib hari ini ikut berteduh, entah di kedai mana ia usai.
Kala hujan reda, aspal panas mengirim sajak balasannya.
Sebuah bebauan kuno yang basah sekaligus jujur,
parfum pengampunan dari Tuhan bernama petrikor.
Kami hirup dalam-dalam wangi tanah itu
sebagai upah semesta untuk cemas kami.
Hujan boleh saja mencuri pelanggan,
tapi ia tak bisa mencuri anugerah paling sederhana dari Tuhan.
Yogyakarta, 2025
***
Aku, Petrikor
Aku adalah sukma tanah yang lama bersemedi,
rahasia yang dipeluk debu serta retak bumi.
Aku menunggu satu kata sandi dari langit,
satu tetes air pertama yang turun sebagai kunci purba.
Saat ia menyentuhku, membuka segel penjaraku,
membangunkanku dari mati suri berwindu-windu.
Tugasku sederhana: menjadi napas bumi yang bangkit,
menyelinap lewat jendela yang terbuka sedikit,
lalu dengan izinmu, membuka sebuah laci tua
di dalam kepalamu, tempat kenangan masa kecilmu lupa
caranya untuk bercahaya.
Usiaku hanya sejenak, sekelebat aroma saja,
salam pembuka sebelum orkestra katak mengambil alih panggungnya.
Jangan sedih saat aku sirna.
Aku tidak mati, hanya kembali bersembunyi.
Simpan saja wangiku di dasar kalbu,
sampai kemarau panjang memanggilku untuk bangkit menemuimu.
Yogyakarta, 2025
***
Percakapan dengan Sawah
Aku tak pernah bicara pada petak sawah itu.
Aku hanya menepi di pematangnya yang basah,
lalu ia balas dengan hijau yang tak butuh kata
dan aroma petrikor yang menenangkan kalbu.
Angin tak menyapaku, hanya mengusap pucuk-pucuk padi,
lalu mereka berbisik, menyampaikan kabar langit hari ini.
Di kejauhan, seekor kerbau melenguh,
memastikan senja masih setia menunggunya.
Aku pamit saat langit mulai memerah saga,
membawa pulang hening yang dipinjamkan oleh sawah,
tanpa pernah menagihnya kembali.
Di sini, di antara sunyi serta hijau tak bertepi,
gelisah kota yang kubawa luruh perlahan,
menjadi butir-butir embun di ujung daun padi.
Aku belajar menjadi bagian dari sesuatu
yang jauh lebih sabar dari diriku sendiri.
Yogyakarta, 2025
***
Wangi yang Singgah Sebentar
Wangi itu datang seperti bisikan dari masa lalu,
salam paling lawas dari tanah yang lama membisu.
Petrikor menguap, mengabarkan penantian telah usai.
Tapi, hujan rupanya hanya mengutus gerimis pertama
lalu menarik kembali seluruh pasukan awannya.
Langit tak jadi menumpahkan dukanya malam ini.
Ia hanya menitipkan satu sajak sendu.
Jalanan berubah gelap tapi tak basah kuyup,
dunia menahan napas dalam jeda yang teramat syahdu.
Ia adalah sebuah kenangan
yang datang hanya untuk menyentuh pundak,
lalu pergi sebelum sempat kutoleh.
Ia adalah rindu yang telah terobati
hanya dengan mendengar suaranya dari seberang.
Hujan batal turun, tak mengapa.
Sapa singkatnya yang wangi lebih dari segalanya.
Yogyakarta, 2025
***
Kabar dari Tanah Kering
Langit telah lama seputih kapas,
dedaunan pasi berbisik di halaman gersang.
Di jendela debu menebal, menjadi arsip penantian
akan kabar gerimis pertama yang bertandang.
Aku rindu orkestra kecil di atap seng itu,
gesekan daun kering dan retak tanah sebagai nadanya,
saat butir air pertama turun mengeja namamu
yang telah lama berkarat di dasar jiwa.
Bangkitlah sebuah salam dari sujud bumi,
aroma petrikor yang dirindukan para nabi.
Ia adalah dongeng purba yang dibisikkan tanah
tentang syukur setelah dahaga yang membelah.
Barangkali, hatiku adalah gurun sunyi itu,
yang menantikan hujan lembutmu datang
membasuh semua jejak rindu.
Malam ini, kutatap lagi langit yang sama.
Masih hampa.
Hanya kesunyian menanti dengan tabah
dan doa lirihku agar hujan segera tiba.
Yogyakarta, 2025
***
Maria Utami, seorang ibu rumah tangga yang aktif menulis puisi lagi tahun ini. Hal ini karena rasa cintanya pada puisi tak pernah padam. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Ia telah beberapa kali menjadi penulis terpilih dalam berbagai event kepenulisan antologi puisi. Ada pula naskah puisinya yang sudah terbit di media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami




