
Seno Gumira Ajidarma (SGA) adalah sosok idola sekaligus momok bagi saya yang dulu sangat menggilainya saat belajar sastra di kampus. Pasalnya, setiap dosen yang mengajar mata kuliah kekusastraan di UNTIRTA (Universitas Sultang Ageng Tirtayasa) tempat saya S1 dulu, selalu merekomendasikan karyanya sebagai bacaan awal agar mahasiswanya dapat mencandui sastra. Jelas saja, saya juga ikut doktrinasi itu. Saat semester 1, Dr. Ade Husnul Mawaddah (almh) dulu membacakan dengan indah cerpen berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku. Satu kelas hening, menyimak. Dan ledakannya begitu dahsyat. Akhirnya dengan susah payah saya menabung, hingga buku dengan amplop surat itu saya beli dengan kontan. Entah, di mana buku itu sekarang.
Berbeda dengan Bu Ade yang menyukai romantika. Dosen saya yang lain, Dr. Firman Hadiansyah atau yang lebih dikenal dengan nama Firman Venayaksa, juga mencandui dengan cerpen Seno yang lain. Saat itu saya dan teman-teman sedang garang-garangnya sering ikut demonstrasi. Lewat beliaulah, akhirnya kami tahu cerpen berjudul Menanti Kematian Paman Gober. Cerpen kritik yang sangat epik. Jika pembaca pemula pasti akan bilang bahwa itu cerpen tentang Paman Gober dalam serial kartun Donald Bebek, namun berbeda dengan kami saat itu. Ketika membaca satu paragraf awal, sosok Soeharto langsung muncul dalam bayangkan kami dengan senyumnya yang multitafsir.
Dua perjumpaan dengan cerita pendek itu, akhirnya membawa saya untuk terus membaca Seno Gumira Ajidarma. Entah dengan buku yang saya beli sendiri, meminjam kepada teman, atau mencuri (bukan arti yang sebenarnya). Bagi saya, Seno Gumira Ajidarma memiliki wajah sastra yang lengkap. Ini yang jarang bisa kita temukan dalam sastrawan Indonesia kebanyakan. Misalnya, kita akan senantiasa dapat meresapi lokalitas dan kultur keluguan desa dalam karya-karya Ahmad Tohari.
Seno Gumira bagi saya bukan hanya soal sastra romantika dan kritik sosial. Akan tetapi juga oase penggambaran kemanusiaan dalam sastra yang ditulisnya. Sehingga wajah sastra Seno Gumira menempati posisi yang unik sekaligus penting. Ia bukan sekadar pengarang, melainkan juga jurnalis, esais, dan pengamat budaya yang melintasi batas-batas disiplin. Dalam satu bukunya yang fenomenal Seno percaya bahwasanya “ketika jurnalisme dibungkam, maka sastra harus bicara.” Kalimat ini kemudian menjadi ikon, menandai sikap kreatif sekaligus politis yang ia pegang sepanjang karirnya kepenulisan sastranya.
Dari Kemanusiaan, Lokalitas, Kritik Sosial, hingga Romantika.
Karya sastra SGA selalu berangkat dari realitas sosial, meskipun disampaikan dengan gaya yang penuh metafora dan simbol. Dalam banyak karyanya, ia menuliskan luka bangsa yang seringkali disembunyikan negara. Misalnya, kumpulan cerpen Saksi Mata yang berbicara tentang kekerasan militer di Timor Timur yang kelak ketika menjadi negara merdeka bernama Timor Leste.
Dalam cerpen berjudul Saksi Mata terdapat kutipan, “Darah masih menetes-netes perlahan-lahan tapi terus-menerus dari lobang hitam bekas mata Saksi Mata yang berdiri seperti patung di ruang pengadilan. Darah mengalir di lantai ruang pengadilan yang sudah dipel dengan karbol. ” Kalimat ini, terasa menghantui. SGA menuliskan horor dan kekerasan dengan detail yang mencekam, tetapi tetap dalam balutan bahasa sastra. Ia menghadirkan fakta yang tak bisa dipublikasikan di media arus utama, namun tetap bisa diabadikan melalui fiksi.
Lokalitas dalam karya sastra SGA muncul bahkan di awal-awal kekaryaannya sebelum dikenal sebagai ‘sastrawan urban’ Series Nagabumi dan Kitab Omong Kosong adalah manifestasi lokalitas yang dihasilkan SGA dalam karya sastranya. Belum lagi Wisanggeni Sang Buronan dan Novel Drupadi. Dari sini pula, saya tahu bahwa SGA juga ‘menggarap’ film Wiro Sableng. Lokalitas SGA mengkombinasikan antara budaya—sejarah. Ketika membaca Nagabumi, saya yakin 1000% bahwasanya pembaca pasti akan membaca catatan kaki dan mencari tahu literarus kesejarahan yang tertera. Selain itu, lokalitas SGA juga muncul dalam cerpennya yang menjadi tajuk dalam cerpen pilihan kompas 2020 berjudul Macan.
Kepenulisan sastra SGA tidak hanya berbicara tentang konflik yang tegang dan penus ketakutan dalam konteks kemanusiaan dan kritik sosial. Romantika sastra SGA juga muncul dalam banyak karya sastranya, misalnya pada buku Sepotong Senja untuk Pacarku. Buku yang dikemas selah surah dalam sebuah amplop ini menceritakan tentang romantika Sukab dan Alina yang khas dan unik. Inilah sisi kecerdasan SGA dalam membuat cerpen bergaya khas populer tapi tidak hanya bercerita tentang ‘cinta-cintaan’ saja.
Sastra sebagai Objek Jurnalisme
Seno Gumira Ajidarma bukan hanya pengarang, ia juga seorang jurnalis. Namun, baginya, batas antara sastra dan jurnalisme tidak pernah kaku. Justru dari pertemuan keduanya lahir karya-karya yang khas. Dalam pandangannya, “Jurnalisme terikat pada fakta, sementara sastra terikat pada kebenaran. Ketika fakta dibungkam, sastra akan mencari jalannya sendiri.” Kalimat ini menjelaskan mengapa SGA menjadikan sastra sebagai ruang alternatif untuk menyuarakan kebenaran.
Pada masa Orde Baru, banyak fakta tidak bisa dipublikasikan di media massa karena alasan sensor atau represi. Jurnalis yang menulis secara terbuka tentang Timor Timur, pelanggaran HAM, atau kekerasan militer bisa dibungkam bahkan ditangkap. Dalam situasi ini, cerpen-cerpen SGA dalam buku Saksi Mata atau Iblis Tidak Pernah Mati menjadi bukti bahwasanya kisah yang tidak bisa dimuat dalam pemberitaan arus mainstream, akhirnya menemukan jalan lewat fiksi.
Liputan jurnalisme SGA dalam sastra dapa ditemukan paling nyata dan terasa pada Trilogi Insiden yang memuat Saksi Mata; Jazz, Parfum dan Insiden; Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Saya tidak akan banyak memberikan gambaran, agar anda dapat membacanya sendiri dan merasakan ledakannya. Tapi yang perlu dicatat, trilogy ini memiliki semangat untuk mengungkapkan bahwa, “Fakta-fakta dalam insiden ini bisa saja diembargo, diselimurkan, atau bahkan ditutup tinta hitam. Akan tetapi kebenaran akan menemukan caranya sendiri.” Dalam trilogi itu, SGA menjelaskannya dalam 2 kumpulan cerita pendek dan 1 kumpulan esai.
Seno Gumira Ajidarma sebagai Perpanjangan Tangan Pramoedya Ananta Toer
Jika kita menengok sejarah sastra Indonesia, ada garis panjang tradisi sastra perlawanan. Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu tonggaknya. Melalui karya-karya seperti Tetralogi Buru, Pram menulis sejarah yang dihapus, memberikan suara bagi bangsa yang kehilangan narasi.
Seno, dalam cara berbeda, melanjutkan semangat itu. Ia tidak menulis novel sejarah yang panjang seperti Pram, melainkan roman dan cerita-cerita pendek yang fragmentaris. Namun, keduanya sama-sama menempatkan sastra sebagai perlawanan terhadap represi.
Dengan membaca karya Seno, kita seperti melihat wajah baru dari tradisi sastra perlawanan Indonesia. Jika Pram menulis tentang bangsa yang digilas kolonialisme, maka Seno menulis tentang individu yang digilas rezim modern. Namun, keduanya sama-sama menegaskan bahwa sastra adalah suara ketika kebenaran dibungkam.
Bagian ini bukan hanya sembarang pujian ketika saya menyejajarkan SGA dengan PAT, pasalnya kedua sastrawan ini memang memupuk perlawanan dan kebenaran dalam realitas sosial karya sastranya. Dan sebenarnya, banyak juga penulis dan sastra yang memegang prinsip bahwasanya sastra adalah jalan perlawanan dan kebenaran. Misalnya, kita bisa lihat karya-karya Ahmad Tohari, Leila S. Chudori, atau Djenar Maesa Ayu. Namun, dalam esai ini saya menulis SGA.
SGA secara historis memang memiliki backing yang bisa menjadi pengaman dalam setiap karya sastra yang penuh ‘gejolak perlawanan’. Selain memang SGA sebagai putra seorang guru besar, ia juga akademisi yang pernah menjadi Rektor di IKJ. Sebagai akademisi dan ‘pejabat’ di kampus. Ini yang saya sebut SGA punya modalitas dalam menyuarakan sastra perlawanan. Pasalnya, ia akan sulit untuk ‘diringkus’.
Berbeda dengan PAT yang setengah hidupnya dalam pembuangan di penjara. SGA tidak demikian. Inilah momok yang saya jelaskan di awal esai yang saya tuliskan. Dengan karya-karya yang sudah dihasilkan, saya yakin golongan tertentu dalam rezim ‘jengah’ ketika membaca karya sastra SGA. Akan tetapi, jika SGA di-Pram-kan oleh goverment, maka ‘habis sudah’. Dan ketika ini terjadi, pilihannya hanya dua. Sastra akan ramai dengan perlawanan atau padam karena ketakutan terhadap kekuasaan. Tapi rasa-rasanya tidak, jika itu terjadi maka bisa dipastikan negara dengan bahasa daerah terbanyak kedua di dunia ini akan mengalami kemunduran peradaban dan kebudayaan.
Membaca Seno Gumira Ajidarma, Membaca Luka Bangsa
Wajah sastra Seno Gumira Ajidarma adalah wajah yang penuh luka, tetapi juga penuh keberanian. Ia menuliskan penderitaan, kekerasan, represi militer, ketidakadilan, lokalitas, dan marginalisasi pada masyarakat kecil bukan untuk menambah beban, tetapi untuk menjaga agar masyarakat tidak lupa akan luka bangsanya.
Dalam era digital hari ini, ketika media sosial penuh dengan informasi cepat dan dangkal, karya SGA tetap relevan. SGA mengingatkan kita bahwa sastra adalah ruang refleksi, bukan sekadar hiburan. Membaca SGA berarti membaca luka bangsa, tetapi sekaligus menyadari bahwa di balik luka itu kita butuh mengingat dan tidak mengulang luka yang sama.
SGA adalah wajah sastra Indonesia modern yang menghubungkan jurnalisme, kesaksian, dan perlawanan. Ia adalah perpanjangan dari tradisi Pramoedya, tetapi dengan gaya dan strategi yang sesuai dengan zamannya. Dan pada akhirnya, karya-karya SGA membuktikan bahwa sastra selalu punya daya untuk bicara, bahkan ketika semua ruang telah ditutup.
Penulis dan pengajar di perguruan tinggi. Berkegiatan di Lembaga Kajian Nusantara Raya. Bersama penulis-penulis muda Banyumas ‘menguri-uri’ Logawa.id sebuah media publikasi karya sastra.





Pingback: Feslitmas 2025: Saat Literasi Banyumas Menyala di Era Digital - Temenan BIL Fest
Pingback: Lawatan Literasi di Banyumas Seno Gumira Ajidarma Kunjungi Pameran Sastra Rupa Babad Banyumas - Temenan BIL Fest
Pingback: Fantastik DEMA FTIK UIN Saizu Sukses Digelar dari Pameran Lukisan hingga Dialog Budaya bersama Seno Gumira Ajidarma - Temenan BIL Fest
Pingback: Teater Samastha Hadirkan Drama “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” - Temenan BIL Fest