KKN Mengubah Diriku

Awalnya saya memandang Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah kegiatan yang tidak menyenangkan. KKN itu merepotkan, terlalu banyak mengeluarkan uang, energi dan pikiran. Tapi beberapa hari saat menjalankan KKN, saya sadar bahwa, banyak hal yang dapat saya pelajari dari kegiatan KKN. Yang pertama, di kampus saya, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) itu, ada program wajib yang harus dilaksanakan selama 32 hari KKN, program itu adalah Gerakan Salat Subuh Berjamaah. Kebetulan saya KKN di suatu desa, yakni di Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo.

Desa tersebut sangat dingin cuacanya ketika pagi hari dan sore menjelang malam. Suhunya bisa mencapai 16 derajat celsius. Jadi, kalian bisa membayangkan, betapa dinginnya air di waktu subuh itu. Tapi alhamdulilah saya kuat, selalu salat subuh berjamaah. Walaupun kedinginan, tapi saya merasakan ketenangan tersendiri. Saya yang awalnya terpaksa melakukan salat subuh berjamaah lama-lama jadi terbiasa.  Sebelumnya saya tidak pernah salat subuh berjamaah. Tapi karena KKN, saya bisa konsisten salat subuh berjamaah selama 26 hari mungkin, karena sisanya saya berhalangan.

Tidak hanya dari sisi keimanan saja, KKN juga mengubahku tentang pandangan dunia pendidikan. Saya kira orang-orang di desa itu selalu menomersatukan pendidikan. Saya beranggapan bahwa pemikiran mereka itu sama seperti orang-orang terdekat saya. Tapi ternyata tidak, mereka jauh memprihatinkan. Ada seorang perempuan yang seumuran dengan saya, tapi dia hanya lulusan SMP, tidak melanjutkan SMA. Tidak tahu alasannya apa, tapi saya sering mendengar warga di desa itu, kalau mereka ekonomi menengah ke bawah. Selain itu, juga sekolah SMA-nya jauh dari desa tersebut.

Banyak perempuan di desa itu, yang ketika sudah lulus sekolah mereka langsung nikah atau kerja. Jarang sekali yang melanjutkan kuliah. Bahkan yang mempunyai banyak uang pun tidak memprioritaskan pendidikan. Hal ini, karena pemikiran mereka masih sempit. Mereka berpikir bahwa “Buat apa kuliah, kalau ujug-ujungnya di dapur, mengurus anak dan suami, buat apa kuliah kalau ujung-ujungnya kerja jadi karyawan yang gajinya umr, mending menikah saja jadi petani, atau pengusaha salak, kami orang miskin, tidak ada biaya juga”. Hatiku seketika rapuh, mendengar kalimat itu. Miris sekali, ternyata masih ada zaman sekarang yang pemikirannya seperti itu. Tapi tidak mengapa, itu memang pendapat mereka, mereka tidak salah, mereka realistis juga, karena hidup itu sangat butuh uang.

Tapi, bukan kah pendikan itu penting juga? Mereka sering kali berpikir bahwa kuliah atau kerja itu hasilnya harus jadi orang yang sukses, jadi pejabat, punya uang banyak, kerja dengan gaji yang banyak, agar tidak disepelekan orang lain. Menurut saya, seharusnya ketika sekolah atau kuliah, orientasinya itu jangan ke hasilnya dahulu, nanti setelah lulus jadi orang suskes dsb. Tapi, pandangan kita itu harus diubah menjadi, oke kita sekolah atau kuliah itu, untuk mencari ilmu, untuk merubah cara pandang kita dari yang kolot ke modern, kita harusnya menikmati proses, bukan fokus ke hasil. Proses tentang bagaimana kita mengatur waktu, memecahkan masalah, cara berjuang, cara tetap tenang ketika menghadapi masalah baik masalah akademik atau masalah sosial, lalu cara mengendalikan emosi dsb.

Maka, tidak heran jika Indonesia banyak yang korupsi. Itu karena hasil didikan dari orang tua, guru, dan orang-orang terdekatnya yang selalu fokus ke hasil, tanpa memperdulikan prosesnya. Mereka tidak peduli cara untuk mendapatkannya benar apa tidak, bohong apa jujur, curang atau tidak. Mereka fokus ke kuantitas, bukan kualitas.

“Tidak hanya dari sisi keimanan saja, KKN juga mengubahku tentang pandangan dunia pendidikan.”

Tidak hanya itu, ketika saya mengajar anak-anak SD di desa tersebut, saya bertanya satu-satu ke mereka, apa cita-cita mereka. Saya kaget ketika mayoritas dari mereka, menjawab “Saya ingin menjadi sopir” alasannya ada yang mengatakan “untuk meneruskan bapaknya”. Bahkan ada juga yang menjawab “menjadi kakak KKN”. Saya heran, kenapa mereka tidak ada yang cita-citanya menjadi dokter, presiden, guru, pramugari, menteri, dosen, astronot, profesor?. Apakah mereka kurang motivasi? Apakah semangat belajarnya kurang?. Dari situ saya belajar bahwa, dunia pendidikan di Indonesia memang belum merata, fasilitas dan sarananya juga belum sepenuhnya memadai. Gedungnya ada yang bisa dikatakan tidak layak huni. Saya sangat prihatin dengan dunia pendidikan di Indonesia, serta pola pikirnya.

Warga di desa itu sangat baik-baik, walaupun mereka masyarakat menengah ke bawah. Tapi dalam adab menerima tamu, mereka nomer satu. Mereka selalu memberikan makanan yang enak-enak untuk mahasiswa KKN. Bahkan ketika pulang pun, mereka memberikan kami oleh-oleh, seperti buah salak, sayur kubis, bahkan ada salah satu warga yang memberikan saya uang ketika saya berpamitan sendirian ke rumahnya. Padahal saya niatnya hanya mengembalikan galon air dan sekalian pamitan, tapi beliau malah memberikan saya uang. Saya sangat terharu, karena baru ketemu empat kali, sudah baik banget ke saya. Terima kasih ibu, semoga Allah membalas kebaiknnya ibu, aamiin. Dari situ saya belajar bahwa, ternyata orang baik yang tulus itu ada ya, meskipun dia bukan keluarga kita, teman dekat atau tetangga kita. Ibu itu tidak tahu persis latar belakang saya, tapi beliau dengan mudahnya menerima saya, dan memberi saya uang tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan apapun, malah ibu itu memberikan wejangan yang baik-baik ke saya. Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan warga lokal yang baik-baik, dari mereka saya belajar banyak tentang kehidupan.

Terutama dengan pemuda di desa itu. Pemudanya sangat aktif-aktif, walaupun mayoritas sudah bapak-bapak, tapi mereka semua sangat kompak, solidaritasnya tinggi, sangat tanggap, punya inisiatif yang tinggi serta banyak membantu kegiatan KKN. Hal ini sangat berbeda dengan pemuda di tempat tinggalku. Mereka terlihat sibuk mencari uang, dan enggan untuk bersosialisasi. Hal unik lainnya yang saya temui di desa itu adalah ada kerja bakti keliling setiap hari minggu. Lalu jemaah masjid rata-rata itu sudah sepuh, tapi mereka sangat konsisten untuk beribadah. Mereka juga rutin melakukan jumat bersih. Setiap habis salat subuh, mereka langsung gotong-royong membersihkan masjid, dari menyapu, mengepel, menyikat lantai atau dinding luar yang sudah lumutan dll. Saya salut sama mereka, walaupun air dan cuacanya sangat dingin, hal itu tidak membuat mereka malas untuk membersihkan masjid.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top