
Sabariman Rubianto Sinung. Setelah tidak tinggal di ibu kota dari tahun 2020, Ia kembali ke daerahnya. Seniman asal Brebes ini, sekarang tinggal di Karanglewas, Banyumas. Mas Sinung, sapaan akrabnya adalah seorang pelukis, kartunis, karikaturis dan juga seorang illustrator.
Setelah lulus kuliah tahun 1999 di UNNES Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan, Ia ke ibu kota. Meniti karir di sana. Salah satunya di majalah anak Ina, dan PH milik Arswendo Atmowiloto yang memproduksi Keluarga Cemara. Selain itu juga menjadi illustrator komik di Penerbit Kuark (penerbit komik sains) yang salah satu penulisnya adalah Prof. Yohanes Surya.
Di majalah Bobo, ada salah satu karakter yang lucu, yaitu Paman Kikuk. Ia melanjutkan sebagai illustrator kolom cergam tokoh Paman Kikuk, Husni dan Asta dari tahun 2007-2020 Melalui tangan dan imajinasi Mas Sinung lah karakter itu menghiasi masa kanak-kanak generasi 2007 sampai majalah Bobo berhenti terbit secara cetak.
Ulasan sosok pekan ini adalah tentang siapa Mas Sinung. Seorang yang mengalirkan energi kebahagiaan melalui lukisan. Dan salah satu kekhasan dari karya Mas Sinung, ada penanda waktu, kapan suasana itu terjadi dalam lukisannya.
Siapa yang paling mempengaruhi ide kreatif Anda dalam berkarya atau Anda berguru kepada siapa?
Kalau ide kreatif dalam membuat lukisan saya menangkap dari Van Gogh. Kita bisa lihat lukisan-lukisan Van Gogh, tidak hanya bagus dan indah. Tapi jika kita amati lukisan-lukisannya itu bergerak. Tidak hanya seolah hidup tapi lukisannya seperti kehidupan ini, bergerak.
Kalau guru teknik melukis tidak ada, karena secara teknik dasar sudah dipelajari saat kuliah. Kalau ide atau inspirasi berasal dari ngobrol saja dengan teman-teman di Galnas (Galeri Nasional), Taman Ismal Marzuki (TIM) atau saat ada pameran. Selain itu juga ngobrol dengan teman-teman sesama perupa, penulis atau pegiat kebudayaan lainnya, seperti Arsewndo Atmowiloto dan Harry Tjahyono (Si Doel Anak Sekolahan).
Apa yang menjadi tantangan sebagai illustrator?
Paling menantang saat saya menjadi illustrator komik Kuark. Karena isinya tentang sains yang disajikan dalam bentuk komik, supaya anak-anak suka dengan sains. Saya belajarnya IPS, malah membuat ilustrasi materi sains. Nah di situ saya harus berulang kali membaca naskahnya.
Saya waktu itu harus membangun komonikasi yang baik dengan penulis dan tim redaksi. Supaya illustrasinya sesuai, karena beda latar belakang keilmuan. Bisa dibilang illustrasi adalah pendukung yang akan membuat pembaca tertarik. Dan mendukung tentang isi dari materi (tulisan) yang disampaikan.

Dimana Anda biasanya memamerkan atau menjual karya-karya Anda?
Setelah kembali dari Jakarta, saya bolak-balik Karanglewas-Brebes. Karena di sana kami punya galeri kolektif. Pada awalnya, banyak yang mempertanyakan. Kenapa di rest area malah memajang lukisan, apa ada yang beli? Apalagi bukan di kota besar. “Untuk makan saja susah, malah beli lukisan”, candanya.
Tapi ternyata ada. Justru dengan adanya lukisan, malah mendukung suasana yang ada di rest area. Pengusaha café tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk dekorasi. Karena sudah dihiasi dengan lukisan. Ada yang tertarik beli karena secara harga, tidak setinggi saat pameran. Karena kita melihat keadaan pasar tempat kita memajang karya. Jadi kita menciptakan ruang seni yang inklusif, sehingga bisa dijangkau oleh siapapun.
Bersama teman-teman di Brebes kini saya, mengisi Rest Area Tol 260B Banjaratma, Brebes, Jawa Tengah dengan karya kami. Malah sekarang bisa menjadi brand rest area tersebut.
Selain itu melalui media sosial. Dan dari media sosial, saya lebih bisa mengetahui, lukisan seperti apa yang bisa diserap oleh pasar atau disukai pembeli.
Paling jauh, karya Anda sudah dikoleksi orang mana?
Beberapa karya saya pamerkan di rest area. Pada waktu itu ada penggunjung yang beli lukisan saya. Setelah lukisannya dibawa pulang, ada saudaranya yang beli pada waktu itu tertarik dengan lukisan saya. Akhirnya dia menghubungi saya untuk pesan lukisan. Dan itu orang Jerman. Selain itu juga ada dari Malaysia, kalau itu menghubungi saya lewat Instagram.
Kalau saat ini, saya memang memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan karya yang sedang proses atau sudah selesai saya buat. Sehingga lebih mudah untuk berinteraksi dengan orang.
Mengapa Anda merasa seni lukis memiliki peran penting dalam masyarakat?
Hampir semua karya saya itu menyampaikannya dengan visual (suasana) ceria. Ketika melihat fenomena masyarakat sekitar, saya melukiskannya dengan cara yang dipandang membahagiakan (indah). Karena salah satunya dengan seni, kehidupan kita akan tercipta sebuah kebahagiaan.
Pada saat melukis, pemilihan dan pencampuran warna adalah cerminan suasana pelukisnya atau pembuat karyanya. Ketika nanti dituangkan dalam media atau kanvas, kebahagiaan itu akan sampai kepada yang melihat atau menikmati karya yang dibuat. Pengkoleksi akan senang membawa kebahagiaan masuk ke dalam rumahnya. Sehingga dekorasi ruangan tidak hanya indah, tapi ada kebahagiaan yang tercipta di dalamnya.
Pernah ada anak yang menangis karena suka dengan lukisan saya. Tetapi harganya tidak terjangkau oleh orang tuanya. Akhirnya lukisannya tetap saya lepas dengan harga yang sesuai jangkauan orang tuanya. Jadi kadang kala, saya tidak melulu mengukur harga lukisan dengan nominal atau angka tertentu. Kadang kala juga mengukur dengan kebahagiaan seseorang yang ingin mengoleksi lukisan karya saya.

Apa yang Anda pelajari dari Arswendo Atmowiloto dalam hal kekaryaan?
Meskipun Mas Wendo adalah penulis, saya belajar darinya tentang “ide”. Beliau menjadikan apapun sebagai ide untuk menulis. Jadi sebenarnya tidak ada itu istilah kehabisan ide. Jika kita saat membuat karya di suatu tempat, dan itu terasa buntu, kita perlu jeda sejenak. Keluar untuk melihat suasana di luar. Otak kita kan terbatas ya, tapi dengan kita keluar sejenak, keterbatasan itu akan terbebas dari kebuntuan. Seperti Mas Wendo yang menulis apa saja dan hasil ngobrol dengan siapa saja, bahkan dengan pemulung yang lewat. Ia mendapatkan ide dari hasil obrolan itu, lalu dituliskan.
Kalau hanya mengandalkan imajinasi saja, kekaryaan kita akan kurang “hidup”. Perlu adanya tempaan lain. Sehingga tidak hanya menghasilkan karya yang bagus ataupun kita sebut indah. Tapi ada pesan yang kita bawa dalam karya kita.
Bagaimana tanggapan Anda tentang berkembangnya Artificial Intelligence (AI), dan apakah berpengaruh dalam kekaryaan Anda?
Kita tidak bisa menampik perkembangan teknologi. Saat menjadi illustrator, saya membuatnya secara manual, setelah itu dipindai. Jadi sejak awal memang saya bersandingan dengan teknologi dalam berkarya dan bekerja.
Jadi AI saya gunakan salah satunya untuk mencari inspirasi atau ide, saat mengalami kebuntuan. Hanya untuk pancingan saja.
Tapi sebenarnya kita bisa merasakan apakah sebuah karya hasil dari AI atau tangan manusia. Karena saat kita melukis misalnya, semua anggota tubuh ikut bergerak. Tangan yang kita gunakan untuk melukis akan mentransfer energi atau pesan yang berasal dari otak dan hati kita dan digoreskan di atas kanvas. Itu yang membedakan karya AI dengan karya manusia. Tinggal energi apa yang akan disampaikan oleh si pembuat karya. Emosi apa yang ingin dituangkan. Bahagia, marah, rindu atau suasana dalam batin pembuat karya. Dan energi itu akan sampai kepada orang yang melihat lukisan kita.
Jadi karya apapun, sebenarnya adalah cerminan dari isi kepala dan hati pembuat karya.

dari Banyumas menyapa Indonesia





Pingback: Dopokan Seni Ngapak Akan Hadir di UGM: Mengangkat Kontribusi Seniman Banyumas di Peta Seni Rupa Indonesia - Temenan BIL Fest
Pingback: Lawatan Literasi di Banyumas Seno Gumira Ajidarma Kunjungi Pameran Sastra Rupa Babad Banyumas - Temenan BIL Fest
Pingback: Lapak Baca UMP: Aksi Berbagi Takjil dan Diskusi Publik Sambut Hari Perempuan Internasional - Temenan BIL Fest