Gibran yang Suka Baca Buku

Ini dia, Gibran—bukan nama wapres yang selama ini diagungkan. Sementara anak-anak lain bermain game literasi dan sibuk mengobrak-abrik ornamen-ornamen dekorasi perpustakaan, Gibran cukup tenang asyik sendiri sambil mengambil beberapa buku yang menurutnya menarik.

Beberapa kali ia bertanya, “mas, ada buku Bahasa Jepang nggak?”.

Sontak aku kaget dan heran, anak kelas IV ingin mengeksplor bacaan berbahasa asing yang bahkan anak-anak lain tidak terpikir untuk menpertanyakan buku lain yang belum tersedia di perpustakaan. Aku pun menjawab, “Hmm, saat ini belum ada”, jawabku.

Di tengah riuh ramai suara antusias anak-anak, Gibran memilih diam, tenang, sembari membaca buku yang membuatnya penasaran. Melihat Gibran yang tenang dan fokus membaca, aku pun mendekatinya sembari membawa buku falsafah Jawa, yang berjudul “Wong Sugih Mati Keluwen”.

Namun, pada saat bersamaan, ada hal yang membuatku terheran. Ternyata buku yang dipilih Gibran dan membuatnya fokus membaca adalah buku tentang “sulap”. Dengan raut muka yang teheran-heran, aku bertanya “Kenapa mengambil buku ini, Gibran?”, tanyaku dengan nada penasaran.

“Ingin tahu aja, hihi.”, jawab Gibran sambil tersenyum.

Kemudian, masih dengan rasa penasaran, aku coba menyuruh Gibran untuk mengeja bacaan. Dan, siapa yang mengira, bocil kelas IV ini ternyata cukup cakap dalam membaca cepat. Dan, yang lebih membuatku kaget adalah, Gibran mampu menyimpulkan dan menemukan gagasan utama dalam satu struktur paragraf yang coba aku suruh untuk membacanya.

Hal ini membuatku semakin dekat untuk berinteraksi dengan Gibran. Ia mampu melampaui kemampuan teman sejawatnya. Menariknya, ia adalah anak yang terlihat ambisius, penuh mimpi, dan semangat belajar yang tinggi.

Pada saat yang sama, Gibran mencoba menjelaskan apa yang telah ia baca dari buku sulap itu. Dan, ia mampu menjelaskan dengan argumentasi yang tersruktur dan jelas, sesuai dengan intensi yang dijelaskan dalam buku sulap tersebut, yang bersifat praktis dan taktis.

Singkatnya, ia selesai membaca. Dan karena merasakan pemahaman Gibran yang cukup baik, aku dengan pelan mencoba menjelaskan buku falsafah Jawa yang aku baca. Sebab, menurutku sepertinya menarik, di tengah ramainya perdebatan antara pentingnya filsafat dan penghapusan jurusan filsafat di time line media maya, aku coba menginternalisasikan apa itu “filsafat” kepada Gibran—sekalipun pengetahuanku tentang filsafat hanya seperti sepotong roti Aoka.

Sementara itu, Gibran mendengarkan dengan khidmat dan penuh kuriositas akan pengetahuan. Aku coba mulai dengan sebuah pertanyaan, “Kenapa kita dilahirkan sebagai manusia? Bukan seekor hewan atau tumbuhan? Atau bahkan malaikat?”.

Gibran tersenyum, sambil menganggukan kepala, seolah ia paham akan pertanyaanku. Ia tidak menjawab dengan argumentasi, tapi dengan kesan bahwa ia sedang diberi suatu pengetahuan paling dasar. “Oh, iya, ya.” Kata Gibran, sambil mendongakkan wajahnya ke atas.

Aku pun menjawab dengan nada yang pelan dan penuh perhatian.

“Begitulah filsafat, suatu saat kamu akan paham tentang sebuah makna kenapa kamu hidup sebagai manusia, dengan peranmu, dengan tugasmu, dan dengan hakikatmu. Besok, kamu mungkin akan menyukai buku semacam ini, dengan kesendirian dan penuh perenungan. Ingat, ilmu yang kita pelajari saat ini, adalah bagian dari filsafat. Dan, ia adalah ibu dari segala ilmu.”

—Kisah kasih mahasiswa KKN Kelompok 53 UIN Saizu Purwokerto 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top