
Tiba-tiba mas Manunggal K Wardaya mengirim pesan “PDF Nada Tjerita kl mau dibagi di web BIL Fest silahkan mas“. Wahh keberuntungan apalagi ini untuk BIL Fest karena PDF Nada Tjerita sebenarnya sudah dicetak menjadi buku, sudah di layout rapi, ya kalo ada modal tinggal di cetak ulang.
Setelah mendapat pesan tersebut saya memiliki setidaknya tanggung jawab untuk menguliknya secara komperhensif, walaupun sebelumnya sudah saya baca, yang kadang bikin tertawa sendiri padahal bahasanya naratif dan bukan bahasa bercanda, mungkin inilah yang disebut naskah yang mampu memanggil kenangan dan membuat teater benak dikepala. Yang mungkin dulu kita menganggapnya tragedi, kini kalo diingat menjadi komedi.
Mari kita mulai, karena sebagian besar tulisan di PDF Nada Tjerita telah saya baca, maka saya menantang diri untung mengulas dua tulisan dengan cara scroll secara acak dan mengaitkan keduanya, niat yang sugguh ingin menyusahkan diri sendiri dan tidak perlu jauh-jauh sampai di kata ini saja, saya sudah menghabiskan empat batang rokok, jadi sudah minimal satu jam di depan laptop.
Tulisan pertama yang saya baca adalah berjudul “Sensasi Membeli Album Rekaman: Masihkah Ada?” dan yang kedua berjudul “Kisah Tentang Kernet dan Pengamen Perempuan”.
Kedua tulisan ini sebenarnya memiliki benang merah jika di otak atik gatuk lebih dari sekadar nostalgia dan kisah jalanan. Keduanya mengandung jejak sejarah, pengungkapan psikologi personal penulis, dan mencerminkan psikologi sosial yang berlaku pada masa itu. Untuk membacanya, kita tak cukup sekadar menggunakan mata yang melihat, tapi juga pikiran yang mengingat dan meragukan (Tetap skeptis agar lebih banyak bahan menulis hahahaa).
Album Rekaman dan Simulakra Kenangan
Tulisan pertama berbicara tentang sensasi membeli album rekaman. Tapi sesungguhnya, penulis tidak sedang bicara soal kaset atau CD, melainkan tentang kenangan atau lebih tepatnya, ilusi dari kenangan. Penulis menggambarkan proses membeli album sebagai suatu ritus, sebuah perayaan kecil dari individu yang hendak menyatu dengan zaman, dengan identitasnya yang sedang tumbuh.
Penulis secara tidak sadar atau bahkan sadar, sedang menunjukkan hasrat akan keutuhan diri melalui kepemilikan fisik. Dalam psikologi perkembangan Erik Erikson ini adalah tahap identitas versus kekacauan peran. Album rekaman menjadi semacam jangkar identitas. Dalam masyarakat di mana waktu semakin dikompresi oleh kecepatan digital, ingatan terhadap toko musik adalah bentuk resistensi terhadap budaya instan.
Tapi, ironisnya, tulisan ini juga menunjukkan bahwa yang dirindukan bukan barangnya, melainkan sensasi membelinya. Jadi apa yang sebenarnya ingin diselamatkan? Bukan musiknya, melainkan romantisme akan masa ketika pilihan estetis memiliki bobot etis. Penulis, sekali lagi secara tak sadar atau bahkan sadar, sedang menolak era di mana Spotify yang semua ada. Semua cepat. Tapi semua juga hampa.
Kernet, Pengamen, dan Kesenjangan Sosial
Tulisan kedua membawa kita ke dunia yang jauh lebih keras. Dunia angkot, kernet, dan pengamen perempuan. Tapi sekali lagi, seperti tulisan pertama, ini bukan sekadar tentang angkot. Ini tentang kesenjangan. Kesenjangan antara penumpang dan kernet. Kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Dan kesenjangan antara siapa yang dilihat dan siapa yang diabaikan.
Kelebihan penulis di cerita ini adalah mampu menulis, tapi tidak menilai. Mampu memotret tapi tidak menuding.
Namun tulisan ini menguak ketimpangan yang diremehkan. Kita punya sistem transportasi yang menghidupi begitu banyak orang. Seperti pengamen perempuan yang menyanyikan lagu pop di jalanan, itu bukan hanya soal suara, itu tentang survival. Sebuah bentuk eksistensi dalam sistem ekonomi yang memperkosa martabat tapi menawarkan koin sebagai pelipur lara.
Ironi dan Ingatan Kolektif
Yang menarik dari kedua tulisan adalah bahwa keduanya berangkat dari tempat yang disebut publik, tapi menyimpan dimensi personal yang dalam. Toko musik dan angkot adalah ruang sosial. Tapi ingatan yang timbul darinya bersifat intim. Ini yang disebut Maurice Halbwachs sebagai La Mémoire collective ialah ingatan individu yang dibentuk, dipengaruhi, dan dipelihara oleh kelompok sosial tempat individu tersebut berada. Dengan kata lain, kita tidak mengingat secara murni sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari suatu komunitas, keluarga, bangsa, kelas sosial, agama, atau kelompok budaya tertentu.
Estetika yang Gagal Dipahami oleh Era Kini
Tulisan pertama mengidealkan masa lalu, tulisan kedua mengabadikan luka. Tapi keduanya berbicara pada generasi yang kehilangan keterampilan untuk merasakan waktu. Dalam psikologi sosial kontemporer, ini disebut disembeddedness ialah manusia tercerabut dari konteks ruang dan waktu yang konkret.
Era kini kita tidak lagi mengenang karena rindu, tapi karena algoritma. Kita tidak lagi memberi karena empati, tapi karena konten. Maka tulisan-tulisan ini menjadi penting bukan karena bahasanya, tapi karena diamnya. Ia menjadi ruang permenungan yang tidak bisa ditiru oleh TikTok atau Reels.
Kamu bisa membaca banyak cerita dari Manunggal K Wardaya dengan mendownload ebooknya disini PDF Nada Tjerita.
Kamu juga bisa support Banyumas International Literacy Festival klik link -> Support BIL Fest
Penulis dan penggerak literasi dari Banyumas. Ia aktif menginisiasi forum baca dan diskusi sastra. Karya-karyanya mencerminkan kepedulian sosial dan lingkungan. Melalui puisi dan esai, ia menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan, pembebasan, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif.




