
Banyak dari kita para Gen Z merasa, bawa status single alias melajang sering kali dianggap sebagai hal yang menyedihkan. Kasihan yah. Saya pun pernah mengalami hal demikian. Di satu sisi, lingkungan terus menerus memberikan pressure untuk cepat-cepat menikah. Di sisi yang lain, tren media sosial sibuk menggaungkan self-love yang tak jarang terasa kabur arahnya, bahkan kurang jelas. Maknanya pun belum sepenuhnya bisa kita pahami. Apa? Gimana? Kemana? Sampai kadang bingung sendiri. Ini mencintai diri sendiri apa emang ngga ada yang cinta sih. Hehe.
Akibatnya, banyak anak muda yang terjebak dalam kebingungan, dan menganggap kalau masa lajang itu hanyalah fase kekosongan untuk “menunggu” jodoh datang. Membacanya saja miris yah, apalagi mengalaminya. Terbayang kan? Seberapa miris dan kasihan Gen Z ini. Termasuk penulisnya juga, huhu.
Padahal sebenarnya, masa lajang adalah sebuah fase emas yang paling krusial dalam hidup tiap insan. Masa lajang ini bukanlah sekadar masa menunggu atau berhibernasi (tura turu koyo koala), melainkan sebuah part of life yang kita miliki dalam hidup, di mana kita memegang kendali penuh atas waktu, keputusan, dan tanggung jawab. Nah, part of life inilah yang harus bisa kita manfaatkan dan kita gunakan untuk menunjang kehidupan berumahtangga nantinya. Karena pada fase inilah, kita benar-benar berkesempatan untuk bisa mempersiapkan dan melakukan semua yang kita inginkan untuk mencapai “selesai dengan diri sendiri”. Kalimat yang sederhana namun penuh sejuta perjuangan dan harapan. Yang perlu digaris bawahi dari ini adalah, selesainya dirimu hanyalah kamu yang tahu.
Dari kebingungan inilah, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan sebuah opini pribadi bercampur aduk dari beberapa buku. Yang saya harapkan bisa membantu dirimu sesama Gen Z yang hari-harinya selalu kelabu, agar tidak ada lagi dari kita yang merugi. Terhipnotis oleh masa lajang yang begitu nendang gebrakannya.
Lalu di sini, saya ingin sedikit berbagi tips dan panduan taktis bagi Gen Z, untuk memanfaatkan masa lajang sebagai fondasi persiapan pernikahan. Enjoy ya, baca soal nikah terus di tulisan saya. Soalnya saya penghulu, kan ngga pas kalau bahas luar angkasa sama alien. Hehe.
Yang pertama adalah, Bereskan Diri Sendiri, Sembuhkan Trauma dan Kelola Emosi. Judul pertama aja udah bikin ngap kan saking panjangnya. Jadi begini temen-temen. Yang namanya pernikahan, itu bukanlah tempat untuk menyembuhkan luka lama. Bukan klinik berobat jalan selama hayat masih dikandung badan. Bukan juga dokter spesialis penyakit jiwa yang memberikan jaminan kesembuhan. Tapi menikah, adalah tempat kita belajar untuk saling menerima. Ingat yah, BELAJAR. Ini kalau dijabarkan sendiri, bisa langsung habis 1500 kata saya.
Maksudnya kaya gini, Menikah itu harus dibarengi dengan kesadaran bahwa kita harus sama-sama mau untuk belajar memahami, menerima, dan memaklumi bagaimana sikap, sifat, dan karakter pasangan. Dan jika hal ini dilakukan (menikah) dengan kondisi mental yang belum stabil karena masih ada trauma dari masa lalu. Maka akan sangat berpotensi membawa sampah emosional dalam hubungan baru, yang seharusnya indah bagaikan langit biru. Terlalu puitis tapi aga sadis juga kalau terjadi. Okeh, saya seriuskan lagi. Maknanya adalah, kita idealnya, belum dianjurkan/belum boleh untuk menikah, apabila mental kita belum stabil. Masih temperament, gampang tersinggung, egois, maunya dimengerti tanpa mau mengerti. Itu akan sangat menyiksa pasangan kita nantinya. Karena in my opinion, sembuh tidaknya kita oleh sebuah trauma itu ya, tanggung jawab kita. Orang lain apalagi orang baru di kehidupan kita itu, ngga ada kaitannya dengan hal ini. Kalau tetap nikah gimana? Em, ya lagi-lagi semua tetap kembali ke kesiapan masing-masing sih. Ngga ada larangan untuk menikah selama syarat dan rukunnya terpenuhi dan sama-sama mau. Oke lanjut.
Sampah emosional di sini adalah luka lama yang mungkin kita dapatkan dalam perjalanan menuju pernikahan itu. Bisa dari rumah, orang tua, orang yang kita temui, pengalaman yang kurang menyenangkan. Intinya, semua hal yang mengganggu kestabilan mental emosi kita dan terasa membekas di pikiran. Silahkan dipahami sebentar sebelum melanjutkan. Sudah? Okey, kalau sudah kita lanjutkan.
Berdasarkan hal itu saja, persiapan nikah itu sudah sangat terlihat pentingnya. Di mana kita harus bisa menggunakan masa lajang ini sebaik mungkin untuk menyembuhkan luka lama, berdamai dengan masa lalu, dan mengenali diri sendiri secara mendalam. Aku nggak suka ini, aku nggak suka itu, aku suka ini, suka itu. Aku marah kalau ini, aku senang kalau itu. Semua harus bisa kita kenali. Karena harusnya, orang yang paling kenal dengan diri kita ya diri kita sendiri. Pahami yang bikin kamu stress, pahami triggers-nya, pelajari cara meregulasi emosi, pelajari juga nilai-nilai kehidupan, cari makna kehidupan, dan tujuan. Banyak yah hehe.
Sebenarnya ngga serumit itu. Dibikin simpel aja dengan belajar jurnaling nulis tiap mau tidur. Itu dah mengurangi kadar stress kita seharian sekitar 60 – 70% kok. Percaya deh, saya udah ngelakuin ini selama bertahun-tahun sejak masih duduk dibangku MTs. Dan hasilnya saya stress tapi tetap bisa enjoy menghadapi hari. Karena regulasi emosi atau emosi negatif kita seharian tersalurkan. Intinya apa yang ada di dalam otak dan pikiran kita sudah keluar. Terutama emosi-emosi negatif yang begitu korosif menggerogoti kesehatan mental kita.
Dan ketika kamu sudah mencapai titik berdamai dengan masa lalu kemudian bisa kenal dengan diri sendiri. Tahu apa yang kamu butuhkan dan tidak. Ini akan nampak pada hubungan yang sehat/relasi yang baik dengan pasangan. Karena, orang yang sudah mengenal diri sendiri dan tau apa yang mereka butuhkan akan sangat tidak mungkin terjebak dalam toxic relationship. Hehe. Congratulation saya ucapkan, bagi yang sudah mengenal diri sendiri. Siapa tahu belum ada yang mengucapkan.
Yang selanjutnya adalah, Amankan Isi Dompet dengan Belajar Melek Finansial. Melek itu bahasa Jawa yah, yang artinya membuka mata. Jangan sampai merem atau menutup mata terhadap finansial yang semakin gonjang ganjing peredarannya dewasa kini.
Perlu kita pahami bersama, memang betul bahwasannya cinta itu penting. Namun realita kehidupan pernikahan yang kita jalani, tidak cukup sebatas cintanya saja. Nggak akan kenyang gaes. Kita membutuhkan fondasi, bantalan, dan finansial yang konkret. Salah satunya adalah dengan menunda pernikahan. Hah? Menunda? Iya betul. Orang yang benar-benar paham makna dari pernikahan tidak akan menghamburkan uangnya untuk acara satu hari tapi setelahnya dikejar oleh penagih hutang berhari-hari. Menunda pernikahan demi kemandirian finansial dan tidak bergantung kepada orang lain adalah langkah yang sangat logis di tengah situasi ekonomi saat ini.
Percayalah bahwasannya banyak orang yang kurang paham dengan manajemen finansial. Bukan karena ngga ada yang ngasih tahu, tapi mereka terlalu gengsi dan malas untuk mempelajarinya. Waktunya ngga ada? Haha, iya. Itulah alasan setiap orang yang tidak akan berkembang. Karena, kalau boleh saya kutip quotes dari sebuah video Ust Felix. Beliau sempat menyampaikan begini. “Orang mau seribu daya, orang nggak mau seribu dalih.” Maksudnya adalah, orang yang mau, benar-benar mau. Dalam hal ini belajar dan menata finansial agar bisa melek finansial. Dia akan melakukan seribu cara agar bisa paham dengan gimana caranya mengatur, mengelola, dan menata finansialnya. Tapi orang yang ngga mau. Mau ada seratus orang pun yang ngajarin dia, dikasih caranya, dia akan selalu mencari alasan biar ngga ngelakuin. Karena dia ngga mau. Hehe, dah kaya orang bener kan nulisnya.
Kembali lagi ke masa lajang. Seharusnya, kita sama-sama sadar dan paham bahwa di masa inilah, waktu terbaik kita untuk mengembangkan literasi keuangan. Belajar memisahkan kebutuhan dan keinginan, mulai disiplin menabung, belajar investasi, catat pengeluaran, beresin hutang, ngga konsumtif, nurunin gengsi biar ngga inflasi gaya hidup. Cape? Iya, emang cape gaes. Tapi kalau sampai bisa mempelajari semua ini di masa lajang, dan sampai di titik mandiri secara finansial sebelum menikah. Wah, congratulation bro… kamu akan berada di zona nyaman, posisi yang sehat dan potensial, serta akan mencegah konflik keuangan yang sering menjadi pemicu sebuah perceraian. Dan itulah, goals utamanya.
Yang ketiga, Kuasai Life Skills, dari Urusan Domestik sampai Komunikasi. Sebagai calon suami yang baik dan tidak sombong. Menguasai skill domestik yang umum ada pada laki-laki (bisa pasang gas, benerin atap, ganti oli) itu adalah sesuatu yang sudah sepantasnya dipelajari. Karena, yang namanya Menikah itu artinya adalah, dirimu itu akan mengelola sebuah perusahaan kecil bernama rumah tangga. Dan keterampilan yang kita miliki inilah yang akan menjadi motor penggerak perusahaan ini agar tetap bisa survive dan tahan lama. Keterampilan hidup (life skills) wajib untuk dipelajari sedari masih lajang. Dan hal ini berlaku mutlak bagi laki-laki dan perempuan. Mulailah belajar hal-hal mendasar yang ada kaitannya dengan pekerjaan rumah. Menyapu, mengepel lantai, merapikan rumah, memasak, dan bahkan merawat diri secara mandiri.
Selain life skills yang kita pelajari. Jangan lupa juga, buat melatih dan mengasah kemampuan komunikasi. Cara menyampaikan isi kepala tanpa harus menyakiti pasangan kita. Belajarlah untuk menyampaikan sebuah argumen, kritik, dan saran tanpa menggunakan nada tinggi. Berbicaralah selayaknya seorang teman akrab, saudara yang saling mengasihi, dan pasangan yang senantiasa membersamai. Termasuk bagaimana cara mencari solusi dan menyelesaikan masalah tanpa masuk ke dalam mode silent treatment. Karena memang, sepenting itu komunikasi dalam rumah tangga gaes. Ngobrol itu adalah kegiatan yang akan kita lakukan bersama pasangan kita seumur hidup. Ingat yah, seumur hidup bukan seumur jagung. Dan kalau komunikasinya buruk, ya siap-siap deh, akan ada badai juga seumur hidup. Makanya persiapkan dan pelajari ilmu komunikasi. Menyampaikan isi hati tanpa memaki. Aszzek.
Perluas Networking dan Kejar Versi Terbaik Diri. Ini penting untuk dilakukan karena akan sangat berguna nanti ketika kita sudah menikah. Sebelum terikat dengan tanggung jawab yang luar biasa saat menikah. Kita masih punya kebebasan waktu hampir 100% untuk mengurus diri kita. Jangan sia-siakan golden time ini. Jangan hanya berdiam diri di kamar sambil meratapi nasib. Yaa, meskipun nasib yang sedang kita alami ini emang harus diratapi. Tapi jangan lama-lama ya. Masih banyak hal-hal baik yang menanti kita di luar sana.
Ikut komunitas positif juga bisa jadi alternatif kita buat memperluas networking. Ngembangin hobi, gaul sama orang orang keren, cari relasi yang positif. Intinya apapun itu, asalkan bisa memperluas jejaring kita dan mempertemukan kita dengan orang-orang hebat, kejarlah mumpung masih lajang. Karena hal itu akan memperluas sudut pandang kita tentang dunia dan ketika kita bergaul dengan orang-orang yang positif, bukan tidak mungkin kita akan menjadi salah satunya. Yang tentunya akan mengantarkan kita juga ke versi terbaik dari diri kita. Nah, gassin lah kalau ada. Kalau ngga ada gimana? Ya cari, masa harus dicariin.
Dan yang terakhir, Nikmati Hidup dengan Bertanggung Jawab. Nah akhirnya, setelah perjuangan yang panjang dan berdarah-darah melakukan sesuatu yang kurang nyaman. Kali ini kita berjumpa dengan sesuatu yang indah juga, menikmati hidup. Itu penting karena, kalau kita ngga enjoy meng-upgrade empat hal sebelumnya, akan stress lah kita. Jangan lupakan bersenang-senang kawan. Kita juga perlu menikmati masa muda, masa sendiri. Tentunya dengan cara yang positif dan bertanggung jawab. Traveling, ikut volunteer, mencoba hal baru yang menantang, dan pastinya menyempatkan quality time bersama keluarga dan sahabat.
Karena, ketika kita menghabiskan masa lajang dengan penuh arti, makna, dan ambisi positif. Maka tidak akan ada ruang untuk rasa sepi, penyesalan, atau perasaan kurang main ketika kita sudah berkomitmen dalam pernikahan nanti. Supaya nanti, ketika kita sudah melangkahkan kaki ke pelaminan dengan perasaan penuh, tidak ada ruang kosong yang harus diisi oleh pasangan. Tinggal perasaan tanggung jawab untuk bersama hidup berdampingan selamanya. Nahh.. gitu loh maksudnya.
Jadi, jangan sia-siakan masa lajangmu dengan hal yang kurang mendukung masa berumahtanggamu. Pengin nikah kan? Nah.. Persiapkan mulai sekarang. Karena, pernikahan itu dipersiapkan sejak kita tahu kalau nikah itu perlu dipersiapkan. Udah deh itu aja, terlalu formal bahasannya. Akhir kata dari saya, menikahlah dengan persiapan yang sesuai dengan diri dan pasanganmu. Hiduplah dengan penuh bersyukur, bahagia, dan jadilah manusia yang senantiasa lebih baik daripada kemarin.
Ilham Alamsyah merupakan seorang penulis dan pembaca antusias kelahiran Kebumen yang kini berdomisili di Semanding, Gombong. Di sela kegemarannya berolahraga, ia mendedikasikan dirinya sebagai Penghulu Ahli Pertama. Sapa saja melalui Instagram @Ilalamsyah.




