
Setiap manusia tentu ingin memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun, setiap keputusan harus dipikirkan dengan matang karena selalu membawa konsekuensi di masa depan. Lantas, bagaimana jika jalan hidup yang dipilihkan oleh seorang guru berbeda dengan pilihan kita? Bolehkah kita menolak jika memiliki alasan yang kuat?
Pertanyaan itu pernah hadir dalam kehidupan pribadiku.setelah lulus dari pondok pesantren salaf, aku mendapat amanah dari abah untuk melanjutkan studi ke Lampung. Sebagai orang Jawa Tengah, keputusan itu terasa sangat berat. Jarak yang jauh dan kondisi ekonomi keluargaku yang sederhana membuatku dan keluargaku mempertimbangkan Kembali Keputusan tersebut.
Setelah berdiskusi dengan keluarga, aku memberanikan diri untuk menyampaikan keinginanku kepada abah. Dengan penuh keyakinan aku berkata bahwa aku ingin tetap melanjutkan kuliah di daerah tempat tinggalku sambil bekerja. Mendengar keinginanku, abah sempat bertanya pekerjaan apa yang akan kulakukan. Dengan mantap aku menjawab bahwa aku ingin membangun usaha sendiri menggunakan keterampilan yang selama ini beliau ajarkan kepadaku, yaitu membuat tas anyaman berbahan jali-jali.
Mendengar jawabanku, Abah terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata bahwa jika itu benar-benar menjadi pilihanku, maka beliau tidak akan menghalangi. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa setiap Keputusan memiliki risiko dan aku harus siap bertanggung jawab atas segala konsekuensinya. Mendengar restu itu, aku merasa sangat lega. Sejak saat itu aku bertekad membuktikan bahwa keputusanku bukan keinginan sesaat.
Aku kemudian mengikuti seleksi SPAN-PTKIN dan dinyatakan lolos di Program Studi Tadris Matematika. Sejak itulah kehidupan baruku dimulai sebagai mahasiswi sekaligus seorang perintis usaha kecil.
Banyak orang bertanya, mengapa aku memilih membangun usaha sejak awal kuliah. Jawabanku sederhana. Tentunya ingin membantu perekonomian keluargaku sekaligus membiayai kebutuhanku sendiri. Dahulu aku memiliki cita-cita menjadi seorang bidan. Namun, Allah memiliki rencana yang berbeda. Pada awalnya aku memang merasa kecewa dan terpuruk karena harus mengubur Impian tersebut. Akan tetapi, aku sadar bahwa terus meratapi keadaan tidak akan memperbaiki dan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Aku memilih bangkit dan mencari jalan lain agar tetap bisa berkembang. Dari situlah semangat berwirusaha mulai tumbuh sedikit demi sedikit. Aku percaya bahwa setiap hal besar selalu berawal dari Langkah-langkah kecil.
Menjalani kuliah jurusanku tentu bukan perkara mudah, banyak mata kuliah yang membutuhkan waktu, konsentrasi, kesabaran, dan waktu yang tidak sedikit. Tidak sedikit orang bertanya apakah kedua kegiatan itu tidak saling tertabrak atau terganggu.
Bagiku, jawabannya adalah tidak, selama aku mampu mengatur waktu dengan baik. Aku menyadari bahwa pilihan ini adalah keputusanku sendiri. Oleh karena itu, aku juga harus bertanggung jawab atas segala konsekuensinya. Selama lima hari kuliah, aku memfokuskan diri pada perkuliahan. Setiap tugas yang diberikan dosen berusaha kuselesaikan sesegera mungkin agar tidak menumpuk. Sementara itu, dua hari d akhir pekan aku gunakan untuk membuat tas anyaman yang kemudian kujual sebagai sumber uang saku dan biaya kebutuhanku.
Tentu semua itu terasa melelahkan. Namun, aku selalu mengingatkan diriku bahwa hidup hanya sekali. Jangan sampai waktu habis untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, sementara Impian hanya menjadi angan-angan. Jika ingin berhasil di dua bidang sekaligus, maka keduanya harus dijalani dengan disiplin, kerja keras, dan manajemen waktu yang baik
Banyak pula yang bertanya apakah aku tidak ingin kos agar lebih dekat dengan kampus. Tentu saja aku pernah menginginkannya. Namun, jika aku tinggal jauh dari rumah, akan lebih sulit bagiku menjalankan usaha yang sedang kurintis. Karena itu, setiap hari aku menempuh perjalan sekitar tiga puluh menit menggunakan sepeda motor untuk berangkat ke kampus. Ketika tubuh mulai Lelah, aku belajar untuk mendengarkan isyarat dari tubuhku sendiri. Beristirahat bukan berarti menyerah, melainkan cara agar aku dapat melanjutkan perjuangan dengan lebih baik.
Meski menjalani hari-hari yang padat, aku tetap menyempatkan diri menikmati hal-hal sederhana . bagiku, berkumpul Bersama teman atau menikmati semangkuk seblak setelah kuliah sudah cukup menjadi cara untuk mengembalikan semangat. Liburan tidak selalu harus mahal atau pergi ke tempat yang jauh. Kebahagiaan sering kali hadir dari momen-momen sederhana yang membuat hati terasa tenang.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa setiap Keputusan itu diiringi dengan tanggung jawab, kerja keras, dan keyakinan kepada Allah, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Hari ini aku memang masih belajar menyeimbangkan dunia perkuliahan dengan dunia usaha. Akan tetapi, aku percaya bahwa setiap rumus yang kupelajari dan setiap anyaman yang kuselesaikan adalah bagian dari proses merajut masa depan yang kuimpikan.
“Aku memang tidak menjadi bidan seperti yang pernah
Kuimpikan. Namun hari ini dan esok aku akan terus
Belajar bahwa Allah tidak menghilangkan mimpiku,
Melainkan menggantinya dengan jalan yang membuatku
Terus bertumbuh”
Salma Faricha, lahir di Banyumas pada 10 Juli 2007, adalah mahasiswi Program Studi Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri. Salah satu karya puisinya yang berjudul “Suara yang Tak Boleh Bungkam” telah dipublikasikan di blog Zigma.uinsaizu. Instagram: @Ichama_7




