Dua Pasang Bahu Penyangga Mimpi

Orang tua kami bukanlah sepasang pengusaha sukses yang namanya kerap disebut dalam koran-koran bisnis. Beliau berdua bukanlah pewaris takhta dari dinasti keluarga kaya raya, dan jauh sekali dari lingkaran kaum miliarder yang bergelimang kemewahan materi. Bapak dan ibu hanyalah sepasang jiwa bersahaja, manusia biasa yang memilih untuk mengabdikan seluruh hidup mereka demi merajut masa depan anak-anaknya.

Di sebuah rumah sederhana yang berdiri kokoh di kampung halaman kami, Desa Kebarongan, mereka membangun sebuah istana kecil bagi keluarga besar kami. Di desa itulah, bapak dan ibu membesarkan enam orang anak, dan saya adalah si bungsu anak terakhir yang beruntung lahir ke dunia untuk merekam semua ketulusan mereka.

Mengingat masa kecil kami adalah mengingat sebuah ruang tengah yang tidak seberapa luas. Di satu petak ruangan yang sama itulah kami berenam tumbuh bersama. Kami berbagi tempat tidur yang seadanya, saling meminjam pakaian, bertukar cerita sebelum memejamkan mata, hingga merajut mimpi-mimpi sederhana. Namun, di dalam keterbatasan ruang fisik itu, kami dibesarkan dengan limpahan kasih sayang yang tak terbatas.

Kelembutan tutur kata ibu dan kehangatan dekapan bapak menciptakan sebuah benteng perlindungan yang luar biasa. Itu adalah sebuah kemewahan batin yang sangat mahal, sesuatu yang barangkali tidak semua anak di dunia ini berkesempatan untuk memilikinya. Kami memang dibesarkan oleh keluarga yang sangat sederhana, tetapi batin kami tidak pernah dibiarkan kelaparan akan cinta.

Satu hal yang paling mengagumkan dan selalu membuat dada kami berdesir haru adalah tekad bapak dan ibu dalam hal pendidikan. Bagi mereka, kemiskinan materi bukanlah alasan bagi anak-anaknya untuk tumbuh menjadi manusia yang tertinggal. Dengan tekad yang sekeras baja dan perjuangan yang tidak kenal lelah, mereka berjanji bahwa keenam buah hatinya harus mengenyam pendidikan yang layak.

Langkah perjuangan itu diwujudkan secara konsisten. Kami berenam disekolahkan di lembaga pendidikan yang sama secara runut, sebuah tradisi keluarga yang lahir dari rasa percaya penuh pada institusi lokal. Langkah awal kami dimulai dari menuntut ilmu di TK Aisyiyah Kebarongan. Setelah pondasi karakter usia dini terbentuk, kami melanjutkan langkah ke MI Wathoniyah Islamiyah Kebarongan, lalu menyerap ilmu agama dan umum yang lebih dalam di MTs Wathoniyah Islamiyah Kebarongan, hingga akhirnya menuntaskan masa remaja kami dengan lulus dari MA Wathoniyah Islamiyah Kebarongan.

Gerbang sekolah-sekolah tersebut menjadi saksi bisu bagaimana langkah-langkah kecil kami diantarkan oleh doa-doa terbaik orang tua. Setelah mengantarkan kami menyelesaikan pendidikan menengah atas, perjuangan orang tua kami tidak lantas berhenti atau berpuas diri. Alih-alih menyuruh kami cepat-cepat bekerja untuk membantu dapur mereka, Bapak dan Ibu justru mendorong kami semua untuk melangkah lebih jauh, menembus batas kemampuan ekonomi keluarga. Alhasil, satu per satu dari kami melanjutkan pendidikan tinggi ke jenjang Strata-1 (S1) di Kampus Hijau, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto (UIN Saizu).

Bapak dan ibu membiayai seluruh kebutuhan kuliah kami dengan seluruh niat yang ada di dalam dada dan tekad yang kuat. Padahal, jika menilik dompet atau tabungan, rasanya mustahil semua biaya kuliah itu bisa terpenuhi. Semua dana tersebut murni bersumber dari hasil jerih payah buruh tani. Setiap tetes keringat bapak yang jatuh ke lumpur sawah di bawah terik matahari, serta setiap doa ibu yang melangit di sela sepertiga malam terakhir, adalah bahan bakar utama bagi kelangsungan kuliah kami. Mereka rela memangkas kebutuhan pribadi mereka sendiri, menahan lapar, dan melupakan pakaian baru, asalkan uang semesteran anak-anaknya tidak pernah terlambat dibayarkan.

Buah dari kerja keras yang menguras keringat dan air mata itu kini mulai menampakkan hasilnya yang manis, empat kakak teratas saya saat ini, mereka telah berhasil menyelesaikan masa studinya, meraih gelar sarjana, dan kini telah mendedikasikan hidup mereka sebagai tenaga pendidik. Dengan penuh rasa bangga, haru, dan air mata kebahagiaan, mereka mempersembahkan ijazah serta gelar sarjana tersebut sebagai hadiah terindah di pangkuan bapak dan ibu.

Kakak laki-laki (anak kelima) saat ini sedang berada di garda depan perjuangan akhir kuliahnya. Beliau tercatat sebagai mahasiswa semester delapan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di UIN Saizu Purwokerto, bersiap untuk segera menyusul kesuksesan kakak-kakak sebelumnya. Sedangkan saya (si bungsu) sedang menapaki langkah-langkah awal di perguruan tinggi. Saat ini, saya masih menjadi seorang mahasiswa semester dua pada Program Studi Pendidikan Agama Islam di kampus yang sama. Di pundak saya, estafet perjuangan orang tua ini akan terus dijaga hingga tuntas.

Kami semua merasa sangat bangga dan beruntung memiliki orang tua yang luar biasa hebat seperti mereka. Di mata kami, bapak dan ibu adalah sosok pahlawan nyata yang paling layak mendapatkan gelar paling mulia di dunia ini. Rasanya tidak ada untaian kata yang cukup indah, tidak ada kalimat yang cukup puitis, dan tidak ada kamus yang cukup lengkap untuk merangkai rasa bangga kami kepada mereka. Keinginan dan cita-cita yang mereka miliki sungguh suci, yaitu memastikan anak-anaknya mampu menggapai pendidikan setinggi-tingginya agar tidak perlu merasakan kerasnya hidup sebagai buruh tani seperti yang mereka alami.

Tentu saja, di dalam lubuk hati kami yang paling dalam, tersimpan harapan dan doa yang teramat besar untuk masa depan. Kami sadar bahwa keberhasilan kami hari ini adalah utang budi yang tidak akan pernah bisa terbayar tuntas. Namun, kami berjanji untuk terus melangkah maju, belajar dengan tekun, dan bekerja dengan jujur demi membahagiakan serta membanggakan kedua orang tua kami. Walaupun kelak, lewat hal-hal kecil apa pun yang mampu kami lakukan untuk mereka seperti memberikan senyuman, memijat punggung mereka yang mulai membungkuk, atau menemani masa tua mereka kami ingin memastikan bahwa sisa hidup mereka dipenuhi oleh rasa syukur dan bahagia karena telah berhasil mendidik enam buah hatinya menjadi manusia yang bermanfaat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top