Hukum Bathil dan Puisi Lainnya

Oritarianisme

Adegan-adegan peristiwa amat kentara
Tentang sejarah buram sang tuan
Kalimat-kalimat heroik
Sekedar kamuflase semata

Gugatan pikiran dari dinamika
Struktur hidup dengan intrik
Memenangkan kepentingan ego
Prinsip moderasi sebagai matiraga

Gelagak emosi dari luapan amuk
Determinasi dunia material
Menjadi pembuaian menunggu mangsa
Oritarianisme menjadi bias nihilism

Karena kita jungkir balik
Dari pendulum ekstrim kewajiban saja
Menuju hak hanya belaka
Bagaimana humanisasi diproseshayati?

Kota Cendana, Juni 2026

***

Membunuh Jutaan Elegi

Di kota ini air mata dijual dalam botol kaca
Dengan label asli berasal dari tragedi terverifikasi
Kita bunuh jutaan elegi tanpa pedang
Tanpa peluru hanya menggulir layar

Menekan tombol suka duka menjadi dekorasi
Puisi menjadi arsip tak dibaca
Kecuali pada saat dibutuhkan saja
Untuk membungkus narasi nyamanan

Aku melihat pemakaman sunyi di layar hitam
Diiringi musik bebas royalti dan
Komentar penuh simpati steril
Dari avatar tanpa wajah

Elegi dulunya doa kini ia hanya notifikasi
Kadaluarsa dalam satu scroll
Statistik yang dulu punya nama
Kau mengganti kehilangan yang bisa dijual

Kota Cendana, Juni 2026

***

Jam Dinding Berpuasa

Jam dinding berpuasa
Tak ada mediasi
Bukan pula meditasi
Malang memilih kalah

Risauku dan sebuah jika
Bila ini sore terakhirku
Jangan pergi sebelum mautku kemari
Revolusi patah hati suatu reinkarnasi

Realitas di atas kertas-kertas culas
Seperti ritual kopi dan replika hujan
Ketaksaan rasa dengan luka macam cuka
Biar aku belajar amnesia

Kota Cendana, Juni 2026

***

Korban Tenung Keadaan

Hidup pernah membuatku berdarah
Meninggalkan harapan di pintu piatu
Besok semakin rapuh dicabik isu
Sebentar lagi waktu akan lupa

Ketika air mata berhenti bertanya mengapa
Aku menangis dengan pikiran setengah mati
Realitas merobek tragedi tragis termanis
Sebagai korban tenung keadaan

Kepala riuh seperti bising malam
Hanya jerit dan bisik saling tindih
mimpi juga ambisi terliar menari
dengan pisau di gigir langkah

mereka datang untuk mengoyak
menusuk dari dalam tanpa jeda
menghantam kesadaran dari upaya gagal paham
saat dunia menyuruhku tetap waras

Kota Cendana, Juni 2026

***

Hukum Bathil

Sebuah periode dibentuk darah dan ambisi
Tak ada yang absolut dari hal-ihwal
Alam semesta menghadirkan yang benar
Sebagai partner yang salah

Kebisuan tanpa laku
Itulah akar dari sebab musabab
Hidup tak berdiri atas benturan ganjil
Adegan-adegan memang saling melintas

Tiap momen bukan hanya satu tema
Cerita air mata resah yang memburu
Rimba tropis tak selalu jadi taman sari
Dengan catatan kontroversial

Epilog dalam ketidakpastian penuh sengkarut
Ia tak bebas tapi tidak merdeka
Tragis namun lucu juga nyatanya
Dunia tidak selalu berada di posisi netral

Kota Cendana, Juni 2026

***

Perempuan Mata Bulan Sabit

Perempuan mata bulan sabit
berkelahi dengan kodratnya sendiri
ketika skeptisisme mengosongkan diri
Sebuah eulogia sarat ritualisme

mendenyarkan persekusi dan eklusi
Mengubah kematian jadi pertunjukan
sekejap terbeber dengan manifestasi
setengah mencemooh, setengah merenung

Wajahnya murung menanggung larat
yang kian keparat
sejak silam tahun berkarat
tercecer di depan tragedi

kini menuai prihatin
bergulir hari sesal mendera
dijarah wabah berotak kemintar
kadang kritis kadang mistis

Kota Cendana, Juni 2026

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top