Ayat Angin dan Puisi Laiinya

Ide-Ide yang Berkecamuk

ide-ide yang berkecamuk
menatap nanar
datang lalu pergi sesuka hati
ini hati pemilik tuan
jangan lagi cari yang lain
pagi terasa makin panjang
teringat janji wanita paruh baya
bagaimana kabarnya kini
menunggu lelakinya
yang mungkin pulang
mungkin tidak

(Baubau, 2020)

***

Ini Hari

ini hari kau merayakan tanpa nyala lilin
susunan huruf di kaca oppo murah
kelak ini kan jadi kenangan
untuk bibit manusiamu
bahwa kau pernah dicetak google
lalu diberi uang, berkompetisi lagi, merayakan lagi
lalu mati…
mati…

ini hari sekujur rentamu ialah tanda
betapa bumi hanya menitip raga
yang kekal adalah layar digital itu
kecil, ringan
namun pada ajalnya nanti
ia kan bersaksi berapa banyak dosa ditubuhnya

gigil yang terus-menerus
angin malam masuk sembunyi-sembunyi
melukis wajah pada merek ponsel apa saja
asal memiliki huruf

ini hari tak ada lagi bunyi mesin tik di kamarmu
kecuali jempol yang tinggal sentuh layar kaca mini itu

(Baubau, 2021)

***

Ayat Angin

dalam pembaringan bapak
suara sepak bola mengantar ke alam surga
tubuh malam yang tersendu-sendu
mencari ayat angin
yang barangkali terselip di tulang daun

ritual setiap malam ini
telah absen selama empat hari
rindu yang tak terkatakan
apa boleh buat
daun pisang tumbuh menyerempet rumah
dan dalam gerakan yang tak begitu khusyuk
merapal ayat seperti dikejar rentenir
rupanya ada puisi yang menggigil di tubuhku
entah sejak kapan ia berdiam
tapi aku tak pernah lagi menanyakannya
kita telah sama tahu
berakhir di mana doa yang kueja
angin menghantarkan
mengiring sabda nabi

(Baubau, 2021)

***

Ada Gadis Kecil

ada gadis kecil
menyodorkan tisu dagangan
pada tubuh-tubuh gigil menanti entah
mata-mata lalai
pongah memandang ujung ponsel
percakapan-percakapan angin seakan penting

ada gadis kecil
menawarkan ojek payung
bukan aku tak mau
aku sedang tak ingin pulang
berusaha mengingat jalan menuju rumah
biarlah hujan datang bersama ingatan
maaf, kali ini bukan aku
tapi tetap kudoakan umur dan rejekimu
pemandanganku berbeda kali ini

ada gadis kecil
menari di atas oaseku
menyapa, menyodorkan senyum dan kata
ia pernah bertemu tuhan
menitip salam padaku
ah, jadilah ingin aku tahu
siapa namamu, dik?
yang terus berselimut hujan
kadang debu

 (Wanci, 2021)

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top