Lanskap Sepia dan Puisi Lainnya

Lanskap Sepia

Akhirnya,
kita pun tiba
pada tahun-
tahun yang paling gila,
Cintaku.
Daun-
daun telah terbakar;
dan mata udara
diperbani
asap paling pekat.

Kau
membayangkan
api pun menari
di atas permukiman
selepas jalan panjang
pada tahun
yang paling
terang ini.
Pintu-
pintu cakrawala
dikunjungi doa
bersayap abu-
abu dan bersisa bara.

Kau
merasakan perih
pada jari
dan sela-
sela sanubari.
Primata hilang
arah kelana; burung-
burung tersesat
pada jalur udara; orang-
orang kehilangan
bahasa mereka; dan anak
seusia rekah bunga
mengucapkan selamat tinggal
pada bantal, selimut, dan air
susu ibu mereka.

Tahun-
tahun yang paling gila
dan paling
terang ini, Cintaku,
menghantarmu
kembali
ke dalam dekap sepi—matahari
dan mata
malam hari
seluruhnya telah rabun,
memandangmu
dalam lanskap kusam,
dalam lanskap kuyu,
juga sepia
paling sepia.

Purwokerto, Oktober 2026

***

No Other Land

Generator
dan gurun pasir.

Kita mungkin akan menyaksikan
bendera robek
di tangga masuk sisa-
sisa bangunan sekolah yang jadi
setengah batu dan abu.

Desa-
desa lumpuh
setengah tubuh.
Lanskap cadas dan tanah kuning.
Apakah itu pasir, gurun, atau hari-
harimu yang senantiasa
berwarna sepia?

Petualangan debu
sepanjang waktu
di labirin paru-
paru.

Atau di telingamu
terkenang panjang lepasan peluru.
Gradasi kasar peralihan adegan.
Memasukkan balon warna-
warni. Sekolah tanpa
pintu dan jendela.
Buldozer menjunjung
di ketiak bangunan.
Tidak ada yang berubah
di pangkal gua.
Semua mata wartawan adalah
matahari yang sama,
matahari hitam.

Seorang Ibu mungkin
akan dan telah gila.
Barisan domba, kawanan ayam,
dan merpati di bawah
bangunan rebah.
Salju mendarat dan mencair.
Sebuah desa akan ditinggalkan.
Dunia menghapus rupa
dan nama dari peta. Pipa-
pipa terputus,
dan kembali ke celah tanah.

Dunia menjadi gila.
“Aku merasa dunia
akan segera berakhir.”
Yang gelap jadi terang
dan yang terang
juga jadi gelap.

Masa depan di pucuk mortir.
Gurun menguning di pagi hari.
Dan salju, suatu nanti
mungkin masih akan turun
lagi, dan lagi.

2025-2026

***

Tanda Pengenal

Negara sudah dikuasai
perampok, Bestieku.
Tanda pengenal kita
ada alamatnya,
bukan?
Alamat ingin
menahan kamu,
juga aku, tidak ke mana-
mana.
Tetapi kita
tidak bisa diam—seperti angin,
kendaraan gonjang-ganjing,
dan cowok pengangguran kerasukan setan.
Negara ibarat mengikat
kita dengan rafia. Rapuh.
Aduduh. Mudah putus.
Nanti dia jadi sampah
yang susah
diurai tanah.

2025-2026

***

Suara Lain
: Oba Yozo

Kata-
katamu
telah terbakar.

Bagimu, tubuh
adalah tungku,
adalah perapian.

Lalu,
kita
namakan apa
orang-
orang lain
yang melampaui
panas api?

2026

***

Benda-
Benda yang Meledak
di Luar
Ciuman Kita

: Hangganararas

Di luar ciuman kita
segalanya meledak; benda-
benda tergeletak
tinggal puing.

Pelukanmu menghantarku
pada waktu tiap kali
langit mendung
dan bintang-bintang
terpisah dari cahayanya—
kedinginan menguasai kita
dan hanya pertemuan tubuh
yang memungkinkan cinta
terus hidup dan terus tumbuh.

Ingin kuajak kau
seirama dengan nadi
dan detak yang memompanya
di tubuhku—
tetapi saling-silang sayang
tetaplah kerumitan di luar bahasa;
kerumitan tiap yang hendak
jadi sama.

Detak juga
yang menghantarkan kita
ke lintasan waktu—lintasan
tempat usiamu dan usiaku
berkejaran dalam degdegan:
“Kapan pinangan?
Kapan hantaran?
Dan kapan pernikahan?”
tiap Hari Lebaran.

Usiamu adalah
asmara panjang yang tergelar;
asrama bagi lika-
liku cinta
antara kekurangan-
kekuranganku
dan segenap ketulusan gerak jari
yang lahir
dari kesah-
kasihmu.

Yogya-Purwokerto, 2023-2024

***

Adegan Romantika Picisan
: Hangganararas

Beberapa anak tangga
menyusun diri ke beranda
rumah mereka.

Pagi, rasa-
rasanya telah tak mampu
tertangkap lagi.
Kucing-
kucing menggelendot
di pergelangan kaki,
mengguratkan kuku-
kuku jenaka—
mereka menyaksikan lalu-
lalang orang-
orang saling cumbu
dan melepaskan di sini.

Seputih susu dalam gelas,
seputih kertas
setelah lembar teratas
mata mereka membaca langit
dan alamat awan.

“Apakah hujan-
badai-
angin ribut-
halilintar akan turun
sore nanti,
Sayangku?

Biar kudekap dirimu dari sini
di ujung pelataran itu
seperti adegan Titanic—
karena kita dalam bahtera
yang mungkin tak bisa dibaca
oleh orang-
orang.”

Seberapa tinggi julang-gelombang?
Seberapa keras
angin mengempas dan menjejak
di dinding-
dinding rumah mereka?

“Sejernih air,
setegar mata pada hari,
dan selapang dada pada badai
biar kujelaskan: bahwa pelukanku
lebih panas
dari api
dan bara asmara.”

Desember 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top