Leluhur yang Salah atau Kita yang Serakah?

Ilmu titen, mungkin bagi sebagian masyarakat menganggap ini kuno. Leluhur memang tidak sekolah khusus sains, namun mereka mengamati dan mengingat pola yang terjadi. Sadar bahwa manusia tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian kecil ekosistem dan alam semesta. Eling lan waspodo, sebuah falsafah wong Jowo dalam menjalani kehidupan. Mengasah kepekaan rasa dan menyusunnya menjadi sebuah pedoman. Ilmu titen telah menyelamatkan leluhur. Pranata mangsa merupakan sebuah produk dari ilmu titen leluhur. Kalender penentuan musim yang memudahkan petani dalam mengelola sawahnya. Mereka akan lebih memilih menanam palawija ketika mangsa kasa dan memulai mempersiapkan sawahnya ketika mangsa kanem. 

Dalam pranata mangsa, pertengahan Oktober ini memasuki mangsa kalima. Pancuran emas sumawur ing jagad, di mana pancuran berarti hujan yang sumawur ing jagad atau hujan mulai membasahi bumi. Hujan merupakan sebuah berkah terutama di negeri yang katanya agraris ini. Namun hingga tulisan ini ditulis, penulis masih menanti pancuran emas yang sumawur. Langit belum mau menampakkan mendungnya, dan matahari masih betah bersinar terang disertai dengan hawa panasnya. Fenomena yang seharusnya menjadi sumber kesejukan berubah menjadi ketidakpastian yang tidak menyenangkan. 

Musim kemarau masih menyisakan hawa panas, retakan tanah di mana-mana, kolam ikan pinggir sawah pun turut menjadi retakan tanah seiring mengeringnya sumber irigasi, antrian ember mengular sepanjang jalan yang menunggu bantuan air bersih datang, dan kebakaran lahan yang katanya sulit dipadamkan. Pemandangan yang menggambarkan bahwa siklus alam telah berubah. Ilmu leluhur seolah salah, tidak presisi dan tidak dapat dipercayai karena hujan belum menjumpai. Namun, kenyataan hari ini bahwa bumi sudah tidak sama lagi. ‘Jam Raksasa’ leluhur yang pernah secara presisi memprediksi musim perlahan kehilangan detaknya. 

Keserakahan manusia yang tidak sadar bahwa dia adalah bagian dari ekosistem alam. Apakah mereka menganggap bahwa alam dan manusia tidak dapat berjalan beriringan?. Harus ada yang dikalahkan demi kemajuan katanya. Atas nama pembangunan, menjadi mantra sakti legalnyanya pembabatan hutan, alih fungsi lahan, eksploitasi berlebihan, beton di mana- mana hingga hilangnya daerah resapan air. Berlindung di balik kata kemajuan. Apakah pembangunan tidak bisa berjalan dengan tetap menjaga alam dan kearifan lokal? 

Ironisnya, yang menjadi tumbal pertama dosa ekologis ini adalah kaum marginal.  Alam yang tadinya memberikan air secara gratis kini dirusak, lalu setelah krisis terjadi, masyarakat dipaksa membeli. Bagi yang tidak mampu, silahkan mengantre sesuai jatah. Pembangunan seolah sengaja menciptakan dahaga, baru kemudian menjual airnya kepada rakyat.

Beban berat ditanggung di pundak masyarakat miskin, kekeringan menambah daftar belanja mereka. Menambahkan pengeluaran bulanan untuk membeli galon kosong demi bisa mengantri air bersih. Menyisihkan waktu bekerja demi menimba air dari tangki bantuan yang kadang harus melalui prosedural birokrasi. Ibu-ibu yang memutar otak, karena hampir semua urusan rumah tangga membutuhkan air. Saat sumur kering, tanggung jawab mencari dan mengalokasikan air yang semakin terbatas itu jatuh ke tubuh perempuan. Urusan memasak, mencuci, memastikan kebutuhan air keluarga cukup dan sanitasi menjadi tanggung jawab yang dilekatkan ke perempuan. Belum lagi ketika sanitasi bersih minim, perempuan juga harus mempertaruhkan kehigienisan dan kesehatan reproduksinya

Biaya yang mahal untuk yang kata orang ini demi kemajuan. Menukar kelestarian jangka panjang demi pundi-pundi jangka pendek. Sadar atau tidak kita ikut menghancurkan keseimbangan alam yang selama ini dijaga leluhur. Pranata mangsa, seolah kehilangan kesaktiannya. Kalah melawan dosa ekologis yang kita perbuat sendiri. Leluhur tidak pernah salah mewariskan ilmu. Kitalah yang dengan sadar merusak kompas yang mereka gunakan. Masih menanti pancuran emas sumawur ing jagad. Namun, masih pantaskah kita menanti pancuran emas bertaburan di bumi?. Selama keserakahan masih menjadi panglima, mungkin rakyat kecil harus berhenti menanti pancuran emas dari langit. Sebab, jangankan hujan dari semesta, air di sumur sendiri pun sudah lama dirampas oleh mereka yang serakah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top