Sukacita Pertunjukan Rakyat: Menyimak Pesona Ebeg Mekar Anom Budoyo

Semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia masih terasa di Dusun 2 Kalisetra Lor-Nusapule, Desa Plangkapan, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas. Pada Selasa [25/08/26], warga kembali berkumpul untuk memeriahkan momentum kemerdekaan yang digelar beberapa hari setelah peringatan 17 Agustus. Suasana semakin meriah dengan hadirnya pertunjukan Kesenian Kuda Kepang (Ebeg) Mekar Anom Budoyo dari Karang Pakis, Cilacap, yang menjadi salah satu hiburan bagi masyarakat menghadirkan warna budaya tradisional dalam perayaan kemerdekaan, setelah sebelumnya diadakan jalan sehat mengelilingi Dusun 2 dan dilanjutkan pengundian doorprize.

Ebeg berasal dari kata eblek artinya anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih. Sesuai maknanya, Ebeg merupakan kesenian tradisional Banyumasan yang menampilkan sekelompok penari kuda dengan iringan musik dan lagu-lagu Banyumasan yang dibawakan oleh musik gamelan atau nagaya dan sinden. Namun, kuda yang digunakan bukanlah hewan kuda asli, melainkan properti kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu dan kepala dan ekornya diberi ijuk sebagai rambut.

Ebeg selalu berkaitan dengan istilah mendhem yang berarti kesurupan. Tindakan kesurupan oleh pemain biasanya diperlihatkan dengan pemain yang tiba-tiba hilang kendali, penonton  tiba-tiba ikut masuk area turut menari, makan sesajen dan hal tak biasa lainnya. Tidak ada koreografi khusus pada ebeg, namun pemain yang sudah mendhem (kerasukan) biasanya otomatis bergerak dengan kompak, gerakan ini biasanya disebut Cakilan. Ebeg dapat ditemukan di Eks-Kerasidenan Banyumas (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen).

Menariknya, Mekar Anom Budoyo tidak hanya menampilkan tarian jaranan, barongan dan kerasukan (mendhem) yang biasa ditemui di grup kesenian kuda kepang kebanyakan. Mekar Anom Budoyo menambahkan persembahan atraksi Kurungan Sintren di tengah penampilan. Atraksi di mana seorang penari pria dimasukan ke dalam kurungan tertutup kain hitam yang kemudian keluar berubah wujud menjadi penari wanita cantik lengkap dengan pakaian wanita beserta aksesoris khas putri raja. Atraksi ini menambah kekaguman masyarakat yang menonton, pasalnya sang penari dimasukkan kurungan dalam kondisi tubuhnya terikat kencang dengan posisi tangan di belakang.

Kurungan Sintren lekat sekali dengan aura mistis. Sang penimbul atau dalang dalam ebeg senantiasa berada di dekat kurungan untuk memulai ritual, berbicara lirih ke dalam kurungan yang dipercayai penontonya sedang “memanggil indang (arwah)” atau sedang “berbicara dengan arwah” untuk membantu sang penari yang terikat berubah wujud mengenakan pakaian dan aksesoris wanita yang juga dimasukkan ke dalam kurungan bersama dengan sang penari. Beberapa lama kemudian, kurungan dibuka, sang penari tiba-tiba keluar dari kurungan sudah mengenakan kostum penari wanita lengkap dengan segala aksesoris, baik di lengan, kaki sampai bunga melati di kepalanya. Sang penari yang telah berubah langsung menari mengikuti irama gamelan yang ditabuh.

Penampilan Mekar Anom Budoyo yang berangkat dari Karangpakis, Cilacap dan tiba di Kalisetra tepatnya di lapangan utara SD Negeri 2 Plangkapan ini sukses menyita perhatian dan antusiasme warga Dusun 2 Kalisetra-Nusapule, Desa Plangkapan. Sejak atraksi dimulai, penonton tampak antusias mengikuti setiap rangkaian pertunjukan. Sejumlah warga bahkan memilih mendekat ke area pertunjukan untuk melihat lebih jelas, sementara anak-anak hingga orang dewasa tampak menikmati sajian kesenian yang berbeda dari pertunjukan Ebeg pada umumnya.

Suasana semakin semarak ketika atraksi berlangsung. Sorak dan respons penonton beberapa kali terdengar mengiringi jalannya pertunjukan. Bagi warga Kalisetra-Nusapule, kehadiran Kurungan Sintren menjadi hiburan tersendiri sekaligus pengalaman yang menarik dalam rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Dusun 2 Kalisetra-Nusapule, Desa Plangkapan, tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan menikmati kesenian tradisional.

Hadirnya Ebeg Mekar Anom Budoyo dengan sajian Ebeg dan atraksi Kurungan Sintren menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Pertunjukan tersebut menjadi hiburan yang mampu mempertemukan berbagai kalangan, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tradisional kepada generasi muda.

Melalui panggung-panggung perayaan seperti ini, kesenian tradisional tidak hanya dipertontonkan, tetapi juga terus dihidupkan melalui keterlibatan masyarakat. Semangat kemerdekaan pun terasa semakin lengkap ketika dirayakan dengan kebersamaan, hiburan, dan upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal lintas generasi.

Pertunjukan Ebeg Mekar Anom Budoyo menjadi salah satu hiburan yang melengkapi kemeriahan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Dusun 2 Kalisetra-Nusapule, Desa Plangkapan. Kehadiran atraksi Kurungan Sintren memberikan pengalaman berbeda bagi warga yang hadir, sekaligus menambah daya tarik pertunjukan kesenian tradisional.

Kemeriahan tersebut tidak lepas dari peran panitia pelaksana yang tidak lain tidak bukan merupakan para pemuda Kalisetra-Nusapule, bersama masyarakat yang turut mempersiapkan rangkaian kegiatan hingga pertunjukan berlangsung meriah dan tertib. Perayaan ini pun menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kebersamaan, kegembiraan, dan kecintaan terhadap budaya tradisional. Melalui kegiatan semacam ini, masyarakat tidak hanya merayakan momentum kemerdekaan, tetapi juga turut memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk terus hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top