Tersisihkan dari Hutan yang Dibakar

Saat terbangun, kudapati badanku dipenuhi rambut lebat yang cukup panjang. Lenganku tampak lebih panjang, begitu pula kedua kakiku. Aku berusaha bangun dan memperhatikan dengan saksama apa yang terjadi pada diriku, tetapi rasa sakit bersarang di kepala dan setiap tarikan napas terasa pendek. Napas yang kutarik terasa berat, dada seperti terhimpit batu besar, dan tenggorokanku perih.

Aku mencoba mempertahankan kesadaran dan sekuat tenaga bangkit dengan tangan sebagai tumpuan, tetapi setiap kali mencoba, nyeri datang dan mematahkan upayaku. Pikirku saat itu, bagaimana cara agar aku bisa keluar dari situasi ini? Semakin lama aku terbaring diam di tempat ini, keringatku terus bercucuran. Ada sambaran panas seperti lidah yang menjilati rambut panjang ini, dan paru-paruku kian berat hanya untuk menghirup udara.

Beberapa kali aku mencoba bangkit, tetapi rasa sakit yang tak tertahankan selalu menghantam kepalaku, seolah udara yang kuhirup akan direnggut dariku.

Sejenak kupikir, sudah berapa lama aku dalam kondisi seperti ini? Kesadaranku tak lagi bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Aku tetap berupaya menarik setiap kepingan ingatan.

Napasku terengah-engah dan terus melemah seiring jam yang berlalu. Aku khawatir, sebelum sempat bangkit dan meninggalkan tempat ini, kesadaranku lebih dulu hilang, lalu panas itu menelan tubuh berbulu ini dan paru-paruku terkunci oleh kabut putih yang hampir menyelimuti seluruh wilayah itu.

Sesekali mataku menyapu sekeliling, mencari seseorang, namun nahas, tak ada satu pun manusia.

Saat mataku tak menemukan seorang pun, sebuah suara berbisik di kepalaku, pelan dan dingin, seperti bukan milikku.

“Berharap pada manusia?” suara itu kembali menimpali.

“Berharap pada manusia sama seperti berharap pada sebuah kemungkinan?”

Suara asing itu menggema di kepalaku, melekat dan terngiang. Sejenak kucoba mengabaikannya. Tak kupikirkan lebih jauh.

Kepala terkulai, tak sanggup lagi terangkat. Hanya mataku yang bergerak liar ke segala arah, mencari kemungkinan pertolongan, sekecil apa pun dan dari siapa pun. Namun sekuat apa pun mataku berusaha, hasilnya tetap nihil. Di tengah situasi yang kian tak terkendali, suara asing itu muncul lagi.

“Masih berharap pada manusia? Bukankah manusia adalah binatang yang kontradiktif?”

Kali ini kucoba merenungkan suara itu. Benar saja. Suatu waktu aku pernah mendengar bahwa manusia sangat mengagumi hutan yang terbentang luas, sungai yang bersih, dan gemuruh air terjun, tetapi tak bisa berbuat apa-apa ketika hutan dibabat habis, dibakar untuk alasan yang tak kuketahui, dan sungai dijadikan tempat membuang sampah.

Semakin jauh aku tenggelam dalam pikiranku, semakin sedikit kesadaranku bertahan. Rambut di sekujur tubuhku terasa akan terbakar. Samar kulihat dari kejauhan ada langkah kaki. Dua kaki, berdiri tegak, mengenakan sesuatu yang oleh ingatanku didefinisikan sebagai alas kaki; sepatu namanya. Langkah itu samar-samar menuju ke arahku.

Tidak hanya dua kaki, tetapi empat, bahkan enam, dengan alas kaki yang tampak sama. Lengan-lengan yang terjuntai dari bahu menggenggam sesuatu. Langkah-langkah itu kian dekat, dan suara asing tadi perlahan senyap oleh deru sepatu yang menginjak ranting-ranting kering.

Tak lama kemudian, kaki-kaki itu berada tepat di sebelahku. Salah satu dari mereka berjongkok, menjulurkan sesuatu, lalu meletakkannya di lenganku. Entah apa yang sedang mereka lakukan; aku tak tahu persis.

Setelah manusia-manusia itu membolak-balikkan badanku dan memasang sesuatu di wajahku, ada rasa lega dan ringan saat aku bernapas. Perlahan namun pasti, kesadaranku kembali sedikit demi sedikit, meski rasa sakit masih bersarang di kepala dan dada.

* * *

Asap masih mengepul. Langit kelabu seperti sore hari, berwarna jingga dan abu-abu. Aku membuka mata, dan aku tak lagi berada di tempat yang sama. Tempat asing; lingkungan sekitarku hijau, tetapi tak ada kenangan sama sekali tentangnya. Di situ ada rumah kayu, dan beberapa manusia di sekelilingku, entah sedang melakukan apa.

Aku terbaring lemas, napasku masih terengah-engah, dibantu beberapa benda yang menempel di hidungku. Ada yang mengganjal di tanganku. Kutengok, ada sesuatu tertancap di sana, bersama benda transparan yang terjuntai, seperti ada air yang mengalir di dalam benda panjang itu.

Aku berupaya bangkit. Kucoba menegakkan kepala sambil mengangkat badan, tanganku mendorong tanah agar badanku dapat bangun. Namun sekuat usahaku, sekuat itu pula rasa sakit menggerogoti kepala dan dadaku.

Usahaku itu memancing manusia di sekelilingku bergerak cepat. Mereka bergegas mengambil beberapa alat dari sela-sela pakaian yang mereka kenakan. Sigap, mereka sudah berada di sebelahku, dan beberapa alat diletakkan di dadaku. Aku mendengar jelas apa kata mereka, dan anehnya, aku paham apa yang mereka katakan.

“Terdengar suara tak wajar dari paru-parunya.”

“Sepertinya karena terlalu lama menghirup asap.”

“Orang utan ini dehidrasi, dan darahnya kekurangan sel darah merah.”

“Kakinya juga tampak melepuh, mungkin karena berjalan di atas bara. Butuh waktu untuk proses pemulihan.”

Aku mendengar salah satu dari mereka berucap.

“Saat observasi tadi, sesekali terdengar batuk.”

“Suhu badannya juga cukup tinggi, napasnya cepat. Butuh tindakan lebih serius.”

Setiap kata dapat kucerna, dan sepertinya aku dalam kondisi cukup berat. Ada rasa khawatir, cemas, dan takut. Namun yang paling kuat menggerogoti kepalaku adalah kebingungan atas keadaanku saat ini.

Ketika kebingungan menguasaiku, rasa panas, sakit di kepala, dan sesak di dada ikut berebut menguasai tubuhku. Saat itu juga, ingatan masa lampau berkelebat memenuhi kepalaku.

Aku ingat, dahulu aku bernama Bahrun, lelaki dewasa yang produktif, yang baru saja menyelesaikan perintah bos untuk membuka lahan baru. Bos kami baru mendapat izin mengolah lahan itu. Rencananya, lahan itu akan kami tanami sawit. Kata bos, sawit sedang bagus-bagusnya di pasar.

Ingatan-ingatan itu silih berganti melintas di kepalaku. Saat membuka lahan, kukumpulkan semak-semak dan pohon-pohon kecil yang rebah, lalu kubakar. Kenapa dibakar? Kata bos, kalau dibakar, kami tidak perlu menyewa alat berat untuk meratakan semak, pohon, dan tumbuhan yang masih menjulang tinggi. Murah, mudah, dan cepat.

Dari sekilas ingatan itu, terbersit pertanyaan: bagaimana bisa aku yang dahulu Bahrun kini berada di tubuh berambut panjang ini?

Sekeras apa pun aku mencari jawabannya, rasa sakit yang tak tertahankan perlahan merayap dari sekujur tubuh. Napasku kian pendek, tersisa desah tipis. Suara orang-orang di sekitarku menjauh seperti gema dari balik asap, dan pandanganku memudar hingga gelap.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top