Janji yang Bukan Jambu

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan menemani mama untuk mengantarkan seragam ke sebuah sekolahan. Letak sekolahan tersebut kurang lebih perlu ditempuh satu jam dari rumah. Tidak terlalu jauh, memang, namun sudah lain kabupaten. Mama merupakan orang yang sejak bertahun-tahun diberikan tampuk kekuasaan oleh sekolah tersebut untuk mengeksekusi pengadaan seragamnya. 

Mama bukanlah seorang penjahit militan. Bukan. Bukan sama sekali. Awal mula dia diamanahi untuk mencarikan dan mengurus seragam sekolah karena ibunya mama atau nenekku adalah penjual pakaian di pasar. Sedang saat itu, sekolah lagi peningnya mencarikan siapa orang yang mau mencari dan mengurus pengadaan seragam untuk sekolah swasta tersebut. Meski mama bukanlah bagian dari sekolah tersebut, tapi syukurnya karena kepala sekolah saat itu kenal sama mama dan tahu kalau ibunya mama adalah penjual pakaian, maka dari situlah mama disuruh untuk mengurus seragam. Mulai dari memodali, mencari bahan, dan mencarikan penjahit hingga sampai seragam tersebut siap dipakai oleh siswa siswa.

Saat aku menemani mama untuk mengantarkan seragam sekolah, aku heran kepalang karena mama janjian dengan tukang jahitnya hanya piranti pesan WA, “InsyaAllah jam 10 kita ketemu di depan RSUD”. Jangan tanya ngapain di depan RSUD. Sudah barang tentu orang sekarang menyebutnya COD. Tukang jahit membawakan seragam yang sudah siap dipakai. Sedang mama membawa setumpuk gambar Soekarno-Hatta yang warna merah-merah pink menggoda. Jadi, sebelum sampai ke sekolah swasta yang dituju, aku dan mama perlu lebih dulu mengambil seragam di tukang jahit. Namun tidak langsung ke tempat konveksinya melainkan COD di samping jalan. Pikirku mungkin ini bagian dari efisiensi waktu saja. Toh ternyata kata mama, penjahitnya pun berkenan tanpa keberatan serta tak dikenai harga tambahan.

Dalam hati aku, kekhawatiran membuncah bagai jerawat yang kemudian diplenet dan pecah kemudian. Kekhawatiran mengenai apakah nantinya tidak kebingungan ketika barang siapa yang lebih dulu di lokasi titik temu atau di posisi sebelah mana aku dan mama atau si tukang jahit mangkir berdiri termenung dan menunggu (meski sudah ditentukan di depan RSUD, tapikan depannya juga panjang, ngga sebatas 5-9 meteran). Kekhawatiran aku dilandaskan oleh karena mama tak membawa hp nya untuk komunikasi di jalan maupun nantinya ketika telah sampai di titik pertemuan antara mama dan tukang jahit.

Sepanjan perjalanan yang ada dalam benak aku tak lain adalah kecemasan jika nantinya berujung sulit atau lama tak kunjung ketemu antara mama dan tukang jahit. Sedang mama yang duduk di sebelah aku, kalem kalem aja dan enjoy. Seumpama burung cendrawasih yang tenang selepas kenyang atau serupa penonton bola di tribun yang duduk tenang seolah olah dia tahu bahwa klub jagoannya akan menang.

Mendekati titik temu yang sebagaimana sudah dijanjikan, kugerakkan kedua mataku untuk mengintai detail detail orang orang yang berada di sekitar titik temu tersebut. Meski aku belum tahu orangnya, tapi setidaknya bisa diinderai melalui gerak geriknya sebagaimana orang yang sedang menanti atau menunggu. Tapi kata mama, si tukang jahit katanya menggunakan mobil Kijang dan berada di samping kiri jalan dari arah aku dan mama datang.

Ternyata tak butuh waktu lama, untuk mama menemukan tukang jahit tersebut, selain dicirikan dengan mobil Kijangnya, mama sebenarnya pun sudah tahu orangnya. Tapi kan bagi aku yang belum tahu, lebih lebih belajar dari pengalaman yang sudah sudah, saat janjian sama temen sendiri, acap kali berujung lama menunggu, atau perlu foto posisi, atau perlu telpon ketika sudah di titik temu dan keperluan-keperluan lainnya yang berkelindan seputar COD-an.

Pengalaman menemani mama membuat janji dan COD-an, membuat aku belajar bagaimana sebuah kata yang terucap benar-benar diejawantahkan dengan laku yang mantap. Taka ada lebih dari jam 10-an mama dan tukang jahit saling bertemu, kemudian saling menukar kesenangan. Tukang jahit dengan seragamnya dan mama dengan sebongkah uangnya. Selepas prosesi COD selesai, aku dan mama melanjutkan perjalanan menuju sekolah swasta yang berada di lain kabupaten.

Aku belajar kepada mereka berdua (mama dan tukang jahit), bagaimana cara membuat janji dan cara menepatinya dengan sungguh-sungguh. Orang sekarang ini, terutama gen z, acap kali (setidaknya yang aku lihat dan temui) bilangnya OTW, padahal masih duduk riang dan scrolling media sosial, atau bilang OTW tapi bukanlah OTW ke tempat yang sudah dijanjikan, melainkan OTW mandi. Seumpama janjian bertemu di tempat itu pada jam itu, namun sayangnya tak jarang salah satu dari mereka yang membuat janji, datangnya terlampau kelamaan alias ngaret.

Kita sebagai insan yang senantiasa menghasrati kebaikan, sudah selayaknya mengusahakan menepati janji sebagaimana yang sudah diucap-disepakati. Kesanggupan kita untuk menepati janji atau datang tepat waktu bukanlah demi orang lain, melainkan demi diri kita sendiri. Semakin kita bisa tepat waktu (umpamanya) semakin bertambah pula nilai diri kita. Nilai integritas, tanggung jawab, dan memerhatikan detail kecil juga turut meningkat seiring kita mengupayakan menepati sebuah janji.

Tapi juga bukan berarti orang yang datangnya tidak tepat waktu sudah pasti orangnya ngaretan, kurang bisa dipercaya, tak bertanggungjawab, dll. Bisa jadi memang dia datang terlambat karena mungkin kemacetan jalan, tiba tiba ban bocor, atau hal hal naas lainnya yang tak terduga. Bukan tugas kita untuk menilai-menghakimi orang lain. Tugas kita adalah mengupayakan yang terbaik untuk diri kita maupun orang lain. Dengan kita menepati janji, sejatinya kita sedang menghormati dan menghargai diri kita sendiri.

Janji mungkin memanglah sesuatu yang mudah diucap tapi sulit ditepati. Bagi sebagian orang mungkin ada yang beranggapan demikian. Oleh karenanya ada istilah “jambu” yang merupakan singkatan dari “janjimu busuk”. Istilah tersebut biasa dipakai untuk menggambarkan kelakuan seseorang yang suka berjanji namun tak menepatinya. Ada juga yang mengartikannya sebagai “janji-janji busuk” yang artinya janji-janji yang tidak ditepati. Semoga kita dijauhkan dari hal yang demikian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top