
“Quo vadis?” Sebuah ungkapan dalam bahasa Latin yang berarti, “Hendak ke mana engkau melangkah?” Barangkali, pertanyaan itu menjadi refleksi yang tepat untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hari ini.
Tidak banyak program yang sejak awal mampu menghadirkan harapan sekaligus keraguan dalam waktu yang bersamaan. Di satu sisi, ada optimisme bahwa koperasi dapat kembali menjadi tulang punggung ekonomi desa. Di sisi lain, ada kegelisahan karena perjalanan menuju cita-cita itu tampak masih dipenuhi tanda tanya. Namun sejarah sering kali mengajarkan bahwa perubahan besar memang tidak pernah lahir dari jalan yang sepenuhnya mulus.
Saya memandang KDMP sebagai sebuah gagasan yang baik. Bukan semata karena ia merupakan program pemerintah, melainkan karena filosofi yang dibawanya. Di tengah dunia yang semakin didominasi oleh akumulasi modal dan kekuatan pasar, koperasi menawarkan sesuatu yang berbeda: semangat kebersamaan.
Kapitalisme telah membuktikan kemampuannya menciptakan efisiensi dan pertumbuhan. Tetapi ia juga menyisakan kenyataan bahwa keuntungan kerap terkonsentrasi pada mereka yang memiliki modal lebih besar. Koperasi hadir membawa cara pandang lain, bahwa kesejahteraan dapat dibangun melalui kepemilikan bersama, gotong royong, dan pembagian manfaat yang lebih merata.
Bagi saya, pertarungan terbesar hari ini bukanlah antara koperasi melawan perusahaan besar. Pertarungan yang sesungguhnya adalah bagaimana menghadirkan sistem ekonomi yang tetap efisien tanpa kehilangan wajah kemanusiaannya. Mungkin itulah yang sedang dicoba melalui KDMP.
Saya melihat ada benang merah yang menarik. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tampaknya sedang berupaya menghidupkan kembali peran koperasi sebagai instrumen ekonomi rakyat, mengingatkan kita pada semangat Koperasi Unit Desa di masa lalu. Tentu konteksnya berbeda. Desa hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding puluhan tahun silam.
Namun semangatnya terasa sama: memperpendek jarak antara produsen dan konsumen, mengembalikan sebagian kendali ekonomi kepada masyarakat desa.
Apakah itu akan berhasil?
Belum ada yang mampu menjawabnya. Harus diakui, proses implementasi KDMP hari ini masih berada dalam fase pencarian bentuk. Banyak mekanisme yang masih berkembang. Banyak aturan yang terus disempurnakan. Banyak pertanyaan yang bahkan para pelaksananya sendiri masih berusaha mencari jawabannya.
Sebagian orang melihat kondisi ini sebagai kelemahan. Saya justru melihatnya sebagai konsekuensi dari sebuah ikhtiar besar. Eksperimen memang selalu mengandung risiko. Tidak ada jaminan berhasil. Tetapi tidak adil pula jika sejak awal kita menyimpulkan bahwa ia pasti gagal. Mungkin, kita memang sedang menyaksikan sebuah proses belajar dalam skala nasional. Di lapangan, pekerjaan rumahnya pun tidak sedikit.
Selama bertahun-tahun kita menyaksikan berbagai barang subsidi yang tujuan mulianya sering kali tersendat di tengah jalan. Pupuk bersubsidi masih menjadi keluhan banyak petani. Minyak goreng bersubsidi dan LPG bersubsidi pun tidak jarang diterima masyarakat dengan harga yang melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Persoalannya sering kali bukan pada niat pemerintah, melainkan pada panjangnya rantai distribusi, lemahnya pengawasan, dan banyaknya mata rantai yang mengambil keuntungan di sepanjang perjalanan.
Di titik inilah koperasi sebenarnya memiliki ruang yang sangat strategis. Jika mampu membangun tata kelola yang baik, koperasi dapat menjadi simpul yang memperpendek rantai distribusi, menjaga harga tetap wajar, sekaligus memastikan manfaat subsidi benar-benar sampai kepada mereka yang berhak. Koperasi tidak sekadar menjadi toko. Ia menjadi jembatan antara kebijakan negara dan kebutuhan rakyat.
Sebagai Ketua Koperasi Desa Merah Putih, saya sering mendapat pertanyaan, mengapa hingga hari ini saya belum bergerak agresif merekrut anggota ataupun menghimpun simpanan dari masyarakat.
Jawaban saya sederhana. Saya memilih wait and see. Bukan karena saya meragukan koperasi. Justru karena saya terlalu menghormati makna sebuah koperasi. Saya meyakini bahwa kepercayaan adalah modal pertama yang harus dijaga. Jauh sebelum kita berbicara tentang modal uang.
Proses pembentukan KDMP yang berlangsung secara top-down menyisakan beberapa pertanyaan mendasar yang menurut saya belum sepenuhnya terjawab. Bagaimana model bisnisnya akan berjalan? Dari mana sumber pendapatan koperasi berasal? Bagaimana mekanisme operasionalnya? Bagaimana risiko usaha akan dibagi?
Sebelum jawaban-jawaban itu menjadi terang, saya merasa belum tepat meminta masyarakat menyerahkan kepercayaannya dalam bentuk simpanan. Membangun koperasi bukanlah perlombaan mengejar jumlah anggota. Membangun koperasi adalah merawat kepercayaan agar tidak layu sebelum sempat berbuah.
Dalam konteks itulah saya memandang kehadiran Agrinas sebagai sebuah blessing in disguise. Sebagian orang mungkin memandangnya sebagai bentuk pengelolaan sementara yang mengurangi ruang gerak koperasi. Namun saya memilih melihatnya dari sisi yang lain.
Jika Agrinas berhasil membangun sistem manajemen yang baik, menyusun tata kelola yang rapi, serta merintis berbagai kerja sama dengan para pihak dalam distribusi komoditas strategis maupun barang-barang subsidi, maka ketika estafet itu sepenuhnya diberikan kepada pengurus KDMP, kami tidak memulai dari ruang yang kosong.
Kami tinggal meneruskan sistem yang telah terbentuk, menyempurnakan yang kurang, lalu mengembangkannya agar benar-benar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Dan jika dalam proses perintisan itu ternyata ditemukan berbagai hambatan, maka pelajaran itu justru menjadi bekal yang berharga. Evaluasi dapat dilakukan terhadap desain dan implementasi awal, sehingga pengurus koperasi tidak dibebani untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang sejak awal bukan mereka yang merancangnya. Dengan demikian, ketika pengelolaan beralih sepenuhnya kepada koperasi, pondasi yang diterima telah lebih matang dan risiko yang dihadapi dapat dipahami dengan lebih baik.
Pada akhirnya, pertanyaan Quo Vadis KDMP? mungkin belum memiliki jawaban yang pasti. Kita masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai keberhasilan. Namun kita juga terlalu tergesa untuk menuliskannya sebagai kegagalan. Yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah garis akhir, melainkan halaman-halaman pertama dari sebuah cerita yang belum selesai ditulis.
Sebagai ketua koperasi, saya memilih tidak larut dalam euforia, tetapi juga tidak tenggelam dalam pesimisme. Saya memilih menunggu dengan tetap bekerja. Saya memilih berhati-hati tanpa kehilangan harapan. Karena koperasi bukan sekadar badan hukum. Ia adalah rumah kepercayaan.
Dan kepercayaan, seperti benih yang ditanam di tanah yang baik, tidak tumbuh karena dipaksa. Ia bertunas karena dirawat. Ia mengakar karena dijaga. Ia berbuah karena diberi waktu. Semoga demikian pula dengan KDMP.
Bukan sekadar menjadi program yang dikenang karena ambisinya, melainkan menjadi gerakan yang diingat karena manfaatnya. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan koperasi bukanlah berapa banyak papan nama yang berdiri, melainkan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karenanya.
Rigih Bayu Ratri. Ketua KDMP Susukan, Sumbang. Founder Semesta Aimi (Aimi Homestead ~ Pekarangan, Pangan, Peradaban)




